Ponorogo – Portalnews Madiunraya.com
Tarian Jathil yang gemulai, paras yang jelita dan senyum yang menawan membuat Risma Putri menjadi salah satu Penari Jathil dari Ponorogo mendapat pujian dari pecinta dan penonton setia Seni Reyog Ponorogo.
Saat ditemui oleh Wartawan Portalnews Madiunraya.com, Risma Putri yang berasal dari Sekayu, Gandhu Kepuh Kecamatan Sukorejo ini mengaku kecintaannya kepada dunia tari Jathil merupakan keturunan dari Orang Tuanya. “Ayah dan Ibu saya juga seniman Reyog, sehingga dari kecil saya menggeluti Tari Jathil sampai sekarang ini,” jelas Risma, Kamis (20/09).
Alhamdulillah, jadwal saya selalu full untuk tampil bersama dengan grup Reyog di Ponorogo, baik tampil diseputaran Kabupaten Ponorogo maupun di luar Ponorogo, sambung Risma.
“Saya juga pernah tampil di Jakarta bersama dengan Grup Reyog Ponorogo dan beberapa kota besar di Indonesia, jadi berkat Tari Jathil saya bisa berkeliling Indonesia, selain melestarikan budaya Indonesia, pengalaman saya juga bertambah dengan tampil diberbagai daerah,” ucap Risma Putri.

Ini Video Risma Putri saat tampil :

https://www.youtube.com/watch?v=bNduZIFI6DI
Saat ditanya apa kesibukannya selain menari Jathil, Risma menjelaskan bahwa dirinya hanya fokus menari dan tidak ada kesibukan yang lain. “Saya hanya di rumah, jadwal saya untuk tampil sudah ada, kadang selama seminggu itu full, dan kita saling berkoordinasi dengan teman-teman Jathil di Ponorogo,” jelas Risma.
Lalu berapa penghasilan dari menari Jathil, dara ayu ini menjawab diplomastis. “Yang penting cukup mas, kita syukuri aja karunia dari Alloh SWT, dapat banyak kita syukuri, dapat sedikit juga kita syukuri,” ujarnya.
Yang penting kita memberikan hiburan secara total kepada penonton dan menari Jathil sebagai bagian untuk melestarikan seni budaya Reyog Ponorogo, karena kalau bukan kita yang melestarikan siapa lagi, pungkas Risma Putri sambil tersenyum manis. (wan/gie)

Ponorogo – portalnews Madiunraya.com

Peringatan Grebeg Suro tahun 2018 di Ponorogo dipastikan akan lebih meriah. Kegiatan yang dirangkaikan dengan peringatan Hari Jadi ke 522 Kabupaten Ponorogo, Festival Reyog Mini XVI dan Festival Nasional Reyog Ponorogo XXV tersebut memiliki 33 agenda.

Ini jadwalnya :
1. Simaan Al Qur’an (15/08) di Masjid Agung.
2. Istighosah Kubro (23/08) di Pendopo.
3. Wayang babad wengker (25/08) di Pendopo.
4. Pembukaan Hari Jadi dan Grebeg Suro (01/09) di Panggung Utama Alun alun.
5. Festival Reyog Mini XVI (01-05/09) di Panggung Utama Alun alun.
6. Pameran Seni Rupa (01-10/09) di PCC.
7. Pameran fotografi (01-10/09) di PCC.
8. Pameran industri kecil dan produk unggulan (01-10/09) di Alun-alun.
9. Pameran Bonsai (01-10/09) di alun alun dan halaman pendopo.
10. Lomba burung perkutut (02/09) di Lapangan P3SI.
11. Festival Nasional Reyog Ponorogo XXV (06-09/09) di panggung utama alun alun.
12. Gebyar pariwisata (06-08/09) di trotoar Paseban Alun alun.
13. Lomba Mocopat Pelajar (05-06/09) di PCC.
14. Liga Paralayang (07-09/09) di Desa Tatung.
15. Kopi darat nasional (pameran batu permata) (07-09/09) di Halaman Parkir Sasana Praja.
16. Pameran Pusaka (07-09/09) di Pendopo.
17. Lomba Keagamaan (08/09) di Masjid Agung.
18. Lomba Karawitan Pelajar (08-09/09) di PCC.
19. Nggowes Pomade 2 (09/09) di Telaga Ngebel.
20. Parade Budaya (09/09) di Alun alun.
21. Bedol Pusaka (09/09) di Pendopo.
22. Ketoprak (10/09) di Panggung Utama.
23. Ziarah Makam Bathoro Katong (10/09) di Makam Bathoro Katong.
24. Kirab Pusaka, Lintas Sejarah (10/09) Kota Lama ke Kota Tengah.
25. Tumpeng Purak (10/09) di Paseban Alun alun.
26. Pentas Musik (10/09) Pertigaan Jenes dan JL Gajah Mada.
27. Wayang Kulit (10/09) Kecamatan Ponorogo.
28. Penutupan Hari Jadi dan Grebeg Suro 2018 (10/09) di Panggung Utama.
29. Larungan Telaga Ngebel (11/09) di Telaga Ngebel.
30. Ruwatan Bumi Reyog (15/09) di Padepokan Widoro Kandang.
31. Pemilihan Duta Wisata Cilik Thole Genduk (15/09) di PCC.
32. Bazaar dan Lomba anak kreatif (22-23/09) di Okaz Ponorogo.
33. Grebeg Tutup Bulan Suro (07-11/10) di Desa Sumoroto.

Ayooo ke Ponorogo…..(yah/gin)

TRENGGALEK, Madiunraya.com – Masyarakat Dusun Winong Desa Sumurup Kecamatan Bendungan, memiliki cara tersendiri dalam meluapkan rasa syukur kepada Sang Pencipta. Ungkapan rasa syukur tersebut diwujudkan melalui upacara adat Desa yang diadakan setiap Jum’at Legi Tracapan sekali dalam setahun.

Jum’at (26/1/2018), masyarakat Dusun Winong Desa Sumurup menggelar upacara adat di kawasan Taman Batu Selo Bale, yang disebut dengan Grebeg Selo Bale. Menurut penuturan warga, tradisi tersebut sudah dilakukan turun temurun sejak kurang lebih 60 tahun yang lalu.

Taman Batu Selo Bale digunakan untuk menggelar tradisi tersebut, dikarenakan Selo Bale memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai tempat wisata. Grebeg Selo Bale merupakan tradisi masyarakat petani mengungkapkan syukur atas hasil pertanian dan dijauhkan dari hama yang mengganggu tanaman. Hal tersebut diwujudkan dengan membakar ogoh-ogoh (replika raksasa) yang terbuat dari jerami.

Wakil Bupati Trenggalek, H. Mochamad Nur Arifin yang hadir dalam upacara adat tersebut melihat bahwa masyarakat memiliki rasa syukur yang besar. Hal tersebut, menurut wabup, dapat dilihat dari keikhlasan setiap warga untuk menyajikan ayam lodho (makanan khas Trenggalek) dalam upacara adat Grebeg Selo Bale.

“Poin pentingnya adalah masyarakat mempunyai inisiasi untuk bagaimana membuat event di tingkat Desa-nya masing-masing dan ini sebenarnya upacara adat ucap syukur di lokasi yang namanya Selo Bale, dan saya rasa ini menjadi tempat wisata yang menarik,” ucap Wabup Arifin.

“Apalagi yang saya tunggu sebenarnya ini nanti ada simbolisasi membakar ini (ogoh-ogoh), sebagai bentuk bahwa biar sawah-sawah disini tidak ada hama, biar dijauhkan dari bala’ (musibah), nah itu kan menarik sekali sebenarnya kalau wisatawan disuguhi adat budaya yang seperti ini dan ini harus kita lestarikan,”pungkasnya. (Humas Setda/MR01)


Ponorogo – Portal Madiunraya
Satu lagi destinasi wisata alam di Ponorogo dibuka dan diresmikan. Wisata Tumpak Siman (WTS) yang terletak di Dusun Manggis Desa Selur Kecamatan Ngrayun melengkapi obyek wisata yang sudah ada diwilayah Kecamatan Ngrayun.
Sama seperti Air Terjun Sunggah dan Watu Semaur yang terletak di desa yang sama, WTS menyajikan eksotisme kesegaran alam pegunungan.
Pembukaan wahana tersebut tidak terlepas dari kerja apik Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Ngrayun Tourism Creative (NTC) yang digawangi oleh Suprapto.
Menurut Suprapto, pembukaan wahana tersebut bertujuan memperkenalkan Ngrayun yang banyak menyimpan potensi wisata alam.
“Meskipun baru seadanya namun pembukaan tempat wisata ini kita laksanakan bertepatan dengan perayaan tahun baru 2018 dan dihadiri kurang lebih 2000 orang yang nantinya akan berpromosi dari mulut ke mulut”, ujar Suprapto, Senin (01/01).
Pihak Pokdarwis Kabupaten Ponorogo juga terus memberikan support kepada kami untuk menciptakan inovasi baru yang sesuai dengan konsep kekinian, sambung Suprapto.
“Harapan kami, Ngrayun dapat dikunjungi oleh turis lokal dan nasional yang mampu meningkatkan perekonomian masyarakat Ngrayun”,pungkas Suprapto.
Pun dengan Camat Ngrayun, Hadi Restiono yang mendukung peningkatan perekonomiandi Ngrayun melalui wisata alam. “Kecamatan Ngrayun memiliki banyak potensi alam, bila dikelola dengan baik akan menumbuhkan perekonomian masyarakat”,ujar Camat yang baru 2 bulan memimpin Ngrayun tersebut.
Untuk itu, kita berharap akan adanya koordinasi antar pokdarwis desa di Ngrayun untuk bekerja sama seperti membuat paket kunjungan dengan beberapa lokasi wisata sekaligus, sambungnya.
“Selain itu, promosi melalui media sosial juga sangat efektif untuk menunjukkan bahwa tempat wisata kita benar benar indah dan perlu untuk dikunjungi”,pungkas Hadi.
Sementara menurut Addis, salah seorang pengunjung dari Trenggalek yang menyatakan bahwa pemandangan WTS sangat indah.”Sama seperti puncak di Bogor, namun masih alami, hanya jalan yang menjadi akses kesini harus diperbaiki”,ujarnya. (GiN)

Tidak Ada Postingan Lagi.

Tidak ada lagi halaman untuk dimuat.