Ponorogo – Portalnews Madiun Raya

Bupati Ponorogo, Ipong Muchlissoni meresmikan Gapura Songgolangit di Desa Crabak Kecamatan Slahung Ponorogo, Ahad malam, (25/08).

Gapura Songgolangit di Desa Crabak merupakan gapura dengan patung Songgolangit yang sangat besar.
Bupati Ipong Muchlissoni dalam sambutannya sangat terkesan dengan gapura tersebut. “Ini sangat luar biasa, karena di Ponorogo hanya disini ada gapura yang bagus dan megah seperti ini, apalagi ada tokoh sejarah Dewi Songgolangit yang menjadi ikonnya,” ucap Bupati Ponorogo.

Saya berharap, kreasi seperti ini bisa diikuti oleh desa yang lain sehingga Ponorogo bisa kaya budaya dan ikon wisata, sambungnya.

“Selamat kepada masyarakat Desa Crabak, semoga bisa menambah daya tarik Desa Crabak untuk menjadi desa yang mandiri.” Pungkas Bupati Ipong Muchlissoni.

Sementara Kepala Desa Crabak, Danang Wijayanto menjelaskan Gapura Songgolangit dan patung reyog lengkap di bangun dengan ukuran 4,1/4 meter. “Gapura Patung Songgolangit dan Reyog yang lengkap itu dibangun dengan ukuran raksasa itu di tangani oleh team ahli dari tiga Kabupaten yang ada di Jawa Timur yaitu, Surabaya, Mojokerto dan Kediri,” ucapnya.

Danang Wijayanto menyebutkan bahwa pembangunan gapura itu merupakan ikon Desa Crabak. “Selain budaya, ini sekaligus memberikan pelajaran sejarah tentang Dewi Songgolangit dan Reyog Ponorogo kepada generasi muda.” Pungkas Danang.

Kegiatan peresmian tersebut dihadiri Wabup Soedjarno yang merupakan putra kelahiran Desa Crabak Slahung dan Forpimka Slahung serta dimeriahkan dengan Seni Reyog Ponorogo dan Seni Jaranan Kreasi dari Desa Crabak. (Yah/gin).

Pewarta : Yahya

Redaktur : Agin


Ponorogo – Portalnews Madiun Raya

Bupati Ponorogo menghadiri kegiatan masyarakat Desa Tanjungrejo Kecamatan Badegan yaitu Festival Tengah Sawah di persawahan Genggong, Rabu (14/08).

Menurut Kepala Desa Tanjungrejo, Mulyadi, kegiatan tersebut merupakan kegiatan tahunan yang digelar setiap bulan Agustus. “Ini adalah bentuk rasa syukur masyarakat Desa Tanjungrejo atas panen raya yang melimpah ditempat kami dengan melakukan sedekah bumi,”ucap Kades Tanjungrejo tersebut.
Adapun kegiatan sedekah bumi ini dipusatkan di Dusun Genggong Desa Tanjungrejo dengan melakukan kegiatan kenduri masal yang diikuti oleh ribuan warga, kirab tumpeng 1000 encek dan karawitan di tengah sawah, sambung Mulyadi.
“Selain sebagai bentuk ungkapan rasa syukur atas panen yang berhasil, kegiatan ini juga dilakukan dalam rangka memperingati HUT Kemerdekaan RI ke 74, semoga dengan kegiatan ini masyarakat Desa Tanjungrejo bisa Guyup Rukun Mbangun Deso.” Pungkas Kepala Desa Tanjungrejo.
Sementara dalam sambutannya, Bupati Ipong Muchlissoni mengapresiasi kegiatan budaya yang dilakukan oleh masyarakat Desa Tanjungrejo itu. “Sebagai Bupati, saya berterimakasih atas terselenggaranya kegiatan ini. Saya berharap kegiatan positif seperti ini dapat terus dilakukan untuk menciptakan persatuan dan kesatuan warga masyarakat Desa Tanjungrejo,” ucap Bupati Ponorogo itu.
Kegiatan seperti ini bisa menjadi wisata budaya yang bisa bersinergi dengan visi dan misi Ponorogo berbenah menuju Ponorogo yang berbudaya, nasionalis dan religius, sambung Bupati Ipong Muchlissoni.
“Selamat berpesta dalam budaya yang dikemas dengan baik, terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu terselenggaranya kegiatan ini.” Pungkas Bupati Ipong Muchlissoni.
Acara tersebut diakhiri dengan kenduri dengan memakan tumpeng yang telah dibawa. Selain itu juga digelar lomba tumpeng hias dan gardu yang dibuat dari Damen atau batang padi. Selain Bupati, Forkopimcam Badegan dan Kepala OPD Ponorogo juga hadir dalam kegiatan itu. (Yah/Gin)

Pewarta : Yahya

Redaktur : Agin

Ponorogo – Portalnews Madiun Raya

Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) merupakan salah satu perguruan pencak silat yang berkembang sejak puluhan tahun yang lalu.

Lahir pada tahun 1922, PSHT mampu melahirkan jutaan pendekar yang tidak hanya tersebar di Nusantara, namun juga dibelahan dunia yang lain.

Selain fisik, PSHT juga menurunkan seni olah pernafasan yang diberi nama Tapak Sirih Lebur Jiwo. Seni olah pernafasan ini berkembang pesat beberapa waktu terakhir di Ponorogo.

Menurut Agus Setiyono, salah seorang pegiat Tapak Sirih Lebur Jiwo, ilmu pernafasan tersebut hanya boleh dipelajari oleh Warga PSHT. “Jika sudah memiliki mori atau sabuk putih, kita bisa mempelajari ilmu Tapak Sirih Lebur Jiwo ini, ” ucap Agustino, panggilan akrabnya, Rabu malam (18/06).

Agus juga menjelaskan bahwa Ilmu Tapak Sirih Lebur Jiwo itu menggabungkan antara pernafasan dan menyatunya diri kita dengan Alloh SWT. “Jika kita mampu menggabungkan dua hal, yaitu pernafasan dan kepasrahan kepada pencipta maka kekuatan kita bisa berlipat, bahkan hal yang tidak mungkin bisa menjadi terjadi,” jelas Agustino.

Beberapa atraksi yang biasa dilakukan menurut Agustino adalah memecah susunan balok es, memecah gorong gorong, atraksi kekebalan dan lain sebagainya. “Jika kita menguasai ilmu Tapak Sirih Lebur Jiwo maka kita juga harus memiliki ilmu kesabaran yang tinggi, jangan mudah marah dan selalu welas asih kepada semua makhluk.” Pungkas Agustino.

Ilmu Tapak Sirih Lebur Jiwo PSHT berkembang di daerah Ponorogo, Madiun dan sekitarnya. (Yah/gin)

Pewarta : Yahya

Redaktur : Agin


Ponorogo – Portalnews Madiun Raya

Berbeda dengan kebiasaan di sebagian besar desa di Ponorogo, Warga Desa Bungkal Kecamatan Bungkal Ponorogo menggelar bersih desa usai mereka tandur atau menanam padi, Sabtu (02/03).
Sedangkan kebanyakan desa di Ponorogo menyelenggarakan bersih desa pada bulan Rajab sebelum puasa atau di bulan Longkang (sebelum Idul Adha).

Menurut Kepala Desa Bungkal, Budi Widodo, Kegiatan bersih desa di Desa Bungkal digelar dengan bekerja bakti membersihkan lingkungan dan menggelar berbagai kegiatan budaya. “Kita menggelar pentas budaya Seni Reyog Martopuro yang merupakan seni budaya khas dari Ponorogo dan kita memporak buceng yang isinya dari hasil bumi di Desa Bungkal. Malamnya kita menggelar pagelaran wayang kulit semalam suntuk,” ucap Budi Obama, panggilan akrabnya.

Dengan kegiatan ini, kita berharap desa Bungkal kedepan bisa lebih baik dan maju. Rukun kehidupan warganya, sejahtera perekonomian nya dan dijauhkan dari musibah serta malapetaka, sambung Budi Obama.

“Kenapa bersih desa disini digelar usai menanam padi, karena kita juga ingin hasil panen padi yang ditanam bisa melimpah ruah dan dijauhkan dari hama yang menyerang tanaman padi.” Pungkas Budi Widodo.

Sementara menurut salah seorang warga, Eko, dirinya senang dengan kegiatan tersebut. “Senang mas, ini sama anak saya melihat Reyog, tadi juga berebut Buceng Porak, kegiatan ini perlu dilestarikan mas, selain sebagai Do’a juga sebagai bentuk pelestarian budaya, selain itu banyak pedagang yang laris dengan kegiatan ini,” ucapnya.

Bupati Ponorogo, Ipong Muchlissoni juga dijadwalkan hadir menyaksikan pagelaran wayang kulit semalam suntuk di Desa Bungkal tersebut. (Yah)

Ponorogo – Portalnews Madiun Raya

Sebagai pemerhati budaya dan Creative Consultants budaya, dua tokoh di Ponorogoini melakukan kegiatan Uluk Salam dan Umbul Do’a untuk Ki Ageng Onggolono di Desa Golan, Kecamatan Sukorejo Ponorogo.

Mereka adalah Sugiri Sancoko dan Wisnu Hadi Prayitno. Dalam sambutannya, Wisnu HP, panggilan akrabnya, dia ingin melestarikan budaya sebagai bentuk mencintai leluhur yang telah berjasa di masa lalu. “Untuk itu, bersama dengan warga masyarakat, kita ingin tradisi ini berlangsung setiap tahun,” ucapnya, Senin (11/02/2019).

Kita berharap dengan do’a yang kita panjatkan, apa yang menjadi cita – cita kita bersama dapat menjadi terwujud, yaitu menjadi daerah yang subur, makmur, gemah Ripah loh jinawi, sambungnya.

“Selain itu, kegiatan ini dapat menumbuhkan nilai ekonomi masyarakat karena dengan kegiatan ini menarik wisatawan baik lokal maupun interlokal sehingga para pedagang dapat laku dagangannya, ini yang terus akan kami lakukan.” Pungkas Wisnu HP.

Sementara Sugiri Sancoko, sebagai pemerhati budaya, dirinya merasa senang dan mengapresiasi kegiatan tersebut. “Ki Ageng Onggolono dan Asengsari adalah tokoh legenda masa lalu, dengan kegiatan ini, kita sebagai penerus dapat mengetahui sejarah sekaligus mewariskan kepada keturunan kita keluhuran nenek moyang kita, kalau bukan kita yang melestarikan, siapa lagi ?”, jelasnya.

Kegiatan doa tersebut diakhiri dengan pertunjukan Reog Ponorogo. Yang unik, Wisnu HP juga ikut menari Bujangganong sekaligus melakukan atraksi salto, keren. (Yah/gin).

Pewarta : Yahya

Redaktur : Agin


Ponorogo – Portalnews Madiun Raya

Masyarakat Desa Sampung Kecamatan Sampung Kabupaten Ponorogo menggelar Festival Sampung dengan tajuk “Festival Sampung Umbul Dongo Sewu Takir”, Ahad (03/02/2019).
Ribuan masyarakat Desa Sampung dan sekitarnya mengikuti kegiatan tersebut yang dimulai dari pintu masuk Gua Lowo hingga Gunung Gamping di Desa Sampung dengan mengarak seribu Takir atau makanan yang dibungkus daun pisang.

Menurut Wisnu Hadi Prayitno, Creative Consultants kegiatan tersebut, masyarakat Desa Sampung ingin berdo’a supaya daerahnya menjadi daerah yang makmur, gemah ripah loh jinawi. “Mereka ingin do’a tersebut terkabul dan kami mengemasnya dengan kegiatan festival ini,” ucapnya.
Ini adalah kearifan lokal sekaligus memperkenalkan bahwa di Sampung itu ada destinasi wisata Gua Lowo, dan kedepan kami ingin menjadikan Gunung Gamping sebagai destinasi wisata baru di Ponorogo, festival ini sebagai langkah awal untuk memulai itu, sambungnya.
“Dengan wisata, kita ingin mengakhiri polemik tambang gamping yang sudah ada dengan mengganti nya sebagai destinasi wisata, gunung Gamping yang ada akan diukir menjadi beberapa tokoh Reyog, seperti Bujangganong, Lelono Sewandono, Warok dan lainnya selain itu festival budaya akan semakin sering kita laksanakan.” Pungkas Wisnu Hadi Prayitno.

Hal itu diamini oleh Sugiri Sancoko, budayawan sekaligus perwakilan Lesbumi Jawa Timur. “Kita berharap dengan kegiatan ini dapat menjadikan daerah Ponorogo dan sekitarnya semilak atau jauh dari marabahaya, seperti yang kita ketahui bahwa saat ini wabah Demam Berdarah menjadi momok yang menakutkan, semoga dengan kegiatan ini wabah Demam Berdarah segera hilang dan menjadikan Ponorogo menjadi daerah yang subur dan makmur,” ucapnya.

Selain itu, kami sebagai budayawan ingin memberikan solusi atas polemik keberadaan Gunung Gamping antara Pemerintah Kabupaten dengan warga Desa Sampung, kami ingin menengahi bahwa polemik itu tidak perlu terjadi, sambungnya.

“Kalau di Jogja ada Breksi, di Madura ada bukit Jedih, maka kami sebagai budayawan ingin menjadikan Gunung Gamping di Sampung lebih indah dari Breksi maupun Jedih, dengan wisata saya yakin masyarakat dapat lebih mendapatkan penghasilan yang besar, begitu juga dengan Pemerintah Kabupaten, selain itu, kandungan kapur di bukit tersebut tidak berkurang” Pungkas Sugiri Sancoko.

Kegiatan itu diakhiri dengan pertunjukan jaranan thek, seni jaranan mojopaitan yang masih eksis hingga saat ini. (Yah/gin)

Sambit, PonorogoPortalnews Madiun Raya

Parade Budaya sebagai ajang festival pembukaan calon obyek wisata alam dan religi di Belik Depok Sumber Panguripan, Dukuh Depok Desa Nglewan Kecamatan Sambit Ponorogo berlangsung meriah.

Kegiatan tersebut di laksanakan pada hari Jum’at tanggal 18/1/2019, dalam ajang budaya itu dilaksanakan beberapa acara diantaranya pawai obor, peserta pawai obor sewu dari PSHT Rayon Nglewan Bregodo Atmojo kusumo jati, tidak ketinggalan pemuda Depok yang ikut dalam acara Ambeng sewu dan buceng purak.

Hadir dalam acara pembukaan calon wisata di dukuh depok rombongan Forpimka Kecamatan Sambit dan pemdes Nglewan.

BPD Serta Tomas Nglewan juga hadir, selain itu Bregodo Mantili Dirjo dari Desa Wringin Anom sambit serta tamu special dari PAKASA paguyuban Kawula Karaton Surakarta Gebang Tinatar.

Sebagai Puncak acara pada malam harinya pagar pagar karaharjan dengan mocopat Kidong Rinekso ing wingi oleh pangarso 1 pakasa gebang tinatar KRAT Gendut Hadinagoro.

Saat di konfirmasi wartawan, Imam Suwito, kamituwo Depok dan sekaligus sebagai ketua Panitia parade budaya, merasa bangga dan bahagia dan sangat mengapresiasi kekompak masyarakat depok. “Selama 1 bulan lebih kami bahu membahu, secara swadaya mewujudkan belik depok sebagai destinasi wisata yang baru lahir di tenggara kota reog dan besar harapan event ini jadi event tahunan,serta dengan adanya wisata baru ini semoga bisa membuka lapangan kerja baru sehingga bisa meningkatkan taraf ekonomi masyarakat dukuh depok dan masyarakat desa Nglewan, “jelas Imam Suwito. (Aji/Gin)

Reporter : Sunaji

Redaktur : Agin

Tidak Ada Postingan Lagi.

Tidak ada lagi halaman untuk dimuat.