Trenggalek – Portal Madiun Raya

Pendaftaran bakal calon legislatif (bacaleg) di KPU kabupaten Trenggalek, sampai dengan Pukul 12.00 Wib masih sepi.

Baru Partai Keadilan Sejahtera ( PKS ) kemarin dan hari ini (17/7) menyusul partai Perindo, dan Partai Demokrat.

Rombongan DPD Partai Perindo datang ke KPU jalan raya Trenggalek – Ponorogo pukul 09.00 Wib, langsung dipimpin oleh Ketua Perindo Rudi Harsono, dan sejumlah bacaleg pun juga tanpak hadir.

Saat dikonfirmasi Ketua Perindo Rudi menyampaikan bahwa sebenarnya hari Senin kemarin teman teman DPD sudah menyiapkan semua berkas, tetapi ada beberapa pertimbangan, “Hari ini kita baru mengirimkan berkas bacaleg, bersama sama dengan teman teman, seluruh pengurus Partai Perindo”, urainya.

Mengawali kedatangannya ke KPU lebih awal Rudi berharap, jika ada ada kekurangan persyaratan, kita bisa untuk segera melengkapi,sambungnya.

Menanggapi kesulitan mencari caleg, baik laki laki maupun perempuan, dirinya menyatakan bahwa hal tersebut hampir dialami oleh semua partai.

Namun dirinya mengaku mempunyai strategi sendiri, untuk pemenangan Partai Perindo di Trenggalek.

Ditambahkannya partai yang dipimpinnya tersebut dalam mengikuti pileg tahun 2019 mendatang sudah sangat siap, “Kami optimis bisa mendapatkan kursi, terutama untuk Dapil 3 (Munjungan , Panggul, Dongko)”,jelasnya.

Terpisah Mugianto Ketua Partai Demokrat mengatakan bahwa secara nasional intruksi dari pusat mengamanahkan untuk pendaftaran bacaleg secara nasional pada hari Selasa pukul 10.00 Wib,”Itu yang menjadi tolok ukur kami”, jelasnya.

Masalah kesiapan dan perlengkapan persyaratan, semua sudah lengkap dan komplit. Dengan 4 Dapil semua terwakili, dengan jumlah bacaleg 45 calon, dengan masing masing Dapil quota perempuan semua terpenuhi seratus persen, sambungnya.

“Persoalan kesulitan mencari caleg seperti yang dialami Partai lain Demokrat tidak kesulitan, semua terpenuhi kuotanya”,jelas Mugianto.

Karena banyak tokoh tokoh masyarakat yang mendukung Partai Demokrat, pungkas Mugianto.

Sementara itu Ketua KPU Trenggalek Suripto menjelaskan bahwa sampai dengan pukul 11.21 Wib KPU Kabupaten Trenggalek, sudah melakukan pemberkasan dari partai politik, sebanyak 3 partai politik. “Yaitu PKS kemarin, disusul hari ini Perindo dan Partai Demokrat”,jelas Suripto.

Untuk PKS calon anggota DPRD untuk pemilu tahun 2019 sejumlah 39 bacaleg, Perindo 15 calon dan Demokrat 45 calon.
Karena sesuai dengan ketentuan bahwa, partai politik paling banyak seratus persen sesuai dengan jumlah kursi, dimasing masing dapil.Dengan rincian Dapil 1: 12 kursi, Dapil 2 :10 kursi, Dapil 3 : 12 kursi dan Dapil 4 : 11 kursi, urai Suripto.

“Setelah ini baru kita melaksanakan proses verifikasi terhadap berkas yang diserahkan kepada KPU, yang berakhir pada pukul 00.00 Wib nanti malam”,lanjutnya.

Lebih lanjut kata Suripto secara prinsip, pencalonanya semua sudah memenuhi syarat, tetapi berkas syarat calon sekilas masih belum komplit.
Pada tanggal 22 Juli sampai dengan tanggal 30 juli nanti lanjutnya, perbaikan berkas bacaleg, terang Ketua KPU Trenggalek tersebut.

“Tanggal 19 sampai tanggal 21 juli penyerahan berkas pada partai politik hasil verifikasi, terhadap berkas pencalonan syarat calon”,pungkas Suripto. (Ono/gin)

Reporter : Tatang.D

Trenggalek – Portal Madiun Raya

Polres Trenggalek tidak sepi dengan kegiatan, setelah lomba polisi cilik (polcil) dan pemberian umroh gratis kepada warga, sekarang dalam peringatan hari Bhayangkara ke 72 Polres Trenggalek menggelar long march Bhayangkara Sejati.

Peserta Long march dilepas oleh Kapolres Trenggalek AKBP Didit Bambang Wibowo S, S.I.K., M.H. dalam sebuah upacara resmi di halaman Mapolres Trenggalek. Selasa (17/7)

Turut hadir dan menyaksikan komandan Kodim 0806 Trenggalek Letkol Inf. Dodik Novianto, S.Sos, Kajari Trenggalek Lulus Mustofa, S.H.M.H., Wakil Ketua DPRD Trenggalek Drs. Lamuji, Pejabat Utama Polres Trenggalek, Kapolsek jajaran dan Purnawirawan yang tergabung dalam PP Polri.

AKBP Didit menerangkan, selain memeriahkan hari Bhayangara ke-72, kegiatan Long March dengan sistem peleton beranting (Tonting) digelar untuk menggugah dan membangkitkan kembali semangat dan nilai perjuangan dalam tubuh anggota Polri. Menurutnya, longmarch memiliki nilai filosofi tinggi dimana untuk mencapai suatu kejayaan memerlukan perjuangan dan pengorbanan. Bukan saja personal tapi lebih bersifat kolektif.

“Long march juga berfungsi membangun jiwa korsa karena dalam pergerakan menuju satu titik dalam ikatan peleton. Satu sakit maka semua akan merasakan sakit. Satu sama lain saling membahu untuk mencapai titik finish”,Terang AKBP Didit.

Masih kata AKBP Didit, Long march di laksanakan selama dua hari tanggal 17 hingga 18 Juli 2018 dan diikuti oleh 364 peserta gabungan dari Polres dan Polsek jajaran.

“Semua personel yang berpangkat Bripka kebawah wajib mengikuti kegiatan ini, termasuk Polwan”,sambung Kapolres.

Ratusan peserta tersebut kemudian dibagi menjadi 8 etape. Dimulai Start Mapolres yang diawali oleh peleton Polwan menuju titik pertama di lapangan kecamatan Karangan, dilanjutkan menuju pemancar TVRI di desa Puru kecamatan Suruh dan finisih di Mapolsek Dongko. Hari berikutnya, dari Polsek Dongko Tonting bergerak menuju desa Petung, dilanjutkan Desa Cakul hingga perbatasan Dongko-Panggul dan finish di Mapolsek Panggul.

“Ada delapan Pos Tonting dengan jarak tempuh keseluruhan 57 Km. Start dari Mapolres dan finisih di Mapolsek Panggul”,imbuh Kapolres.

Tak sekedar duduk dibelakang meja, orang nomor satu di jajaran Polres Trenggalek AKBP Didit pun turut serta berjalan kaki bersama anggotanya untuk memberi semangat dan motivasi kepada jajarannya.

Menurut rencana upacara penutupan akan digelar di halaman Mapolsek Panggul tepat setelah Tonting terakhir mencapai garis finish.(Ono/gin)

Reporter : Tatang Dahono

Trenggalek – Portal Madiun Raya

Nama H. Mochamad Dardak mungkin tidak asing lagi bagi masyarakat Trenggalek. H. Mochamad Dardak merupakan ayah dari Hermanto Dardak, mantan Wamen PU era Presiden SBY, sekaligus kakek dari Emil Elestianto Dardak, Bupati Trenggalek.

H. Mochamad Dardak atau erat disapa Eyang Dardak, merupakan seorang ulama, Guru, Birokrat dan Takmir Masjid Agung Trenggalek.

H. Mochamad Dardak lahir pada tahun 1915 di Kabupaten Kediri dan wafat di Trenggalek tahun 1990, dalam usia 75 tahun.

Eyang Dardak sendiri menikah dengan Hj. Siti Mardiyah Dardak, dan dikaruniai 10 orang putra dan putri. Sedangkan Hermanto Dardak merupakan putra ketujuh dari pasangan ini.

Almarhum H. Mochamad Dardak pernah mengenyam pendidikan di salah satu pondok pesantren di Solo Jawa Tengah. Salah satu teman almarhum adalah Munawir Sjadzali, Menteri Agama ke-14 era Presiden Soeharto.

Riwayat pekerjaannya, H. Mohammad Dardak bekerja di Departemen Agama, sebagai seorang Penghulu di KUA.

Eyang Dardak Sempat berpindah-pindah tugas, terakhir berpindah dari KUA Kecamatan Campurdarat Tulungagung ke KUA Trenggalek hingga beliau pensiun dan wafat.

Tinggal di Trenggalek, Almarhum menempati rumah pengulon Dukuh Kauman Ngantru. Rumah pengulon ini sudah berubah menjadi bangunan masjid karena proses pelebaran Masjid Jami’ yang saat ini lebih dikenal dengan Masjid Agung Baiturrahman.

Selain menjadi penghulu, almarhum juga mengajarkan Bahasa Arab di Sekolah (PGA) Pendidikan Guru Agama.

Almarhum H. Mochammad Dardak juga menjadi Imam Masjid Jami’ dan sering mengisi khotbah Shalat Jum’at di Masjid ini sampai dengan akhir hayatnya.

Bersama dengan istrinya Hj Siti Mardiyah H. Mohammad Dardak membesarkan kesepuluh putra-putri dengan disiplin dan penuh kasih sayang. Kedisiplinan ini utamanya dalam bidang ilmu agama dan kewajiban menjalankan ibadah sholat lima waktu.

H. Mochamad Dardak tidak mau main-main dengan urusan disiplin utamanya untuk sholat wajib lima waktu.

Untuk menegakkan disiplin ini, bisa dilakukan dengan peringatan lesan, bahkan bila tidak diindahkan bisa dengan teguran fisik.

Menurut dr. Zainal Abidin SpU, (putra ke-6) H. Mochamad Dardak, ajaran kedisiplinan inilah yang membawanya dan saudara-saudaranya menuju kesuksesan.
Kasarnya bila anak-anak beliau tidak mengikuti disiplin beliau, tidak mungkin bisa jadi orang seperti saat ini.

Dituturkan oleh dr. Zainal, “kesemua anak Eyang Dardak ini disekolahkan di sekolah umum. Untuk menunjang pendidikan keagamaan waktu itu hanya bisa didapat di masjid dan madrasah Ibtidaiyah, yang dulu disebut MINU,” tuturnya.

Ditambahkan oleh dokter ini “waktu itu Trenggalek belum punya SMA sendiri, sehingga anak pertama hingga anak keempat H. Dardak harus dititipkan kepada adik ipar dari Hj. Siti Mardiyah yang merupakan Bupati Kediri kala itu,   R.M.Machin. Baru anak kelima hingga sepuluh disekolahkan di SMA Trenggalek, termasuk Hermanto Dardak, mas, saya dan adik-adiknya,” imbuhnya.

Dimata dr. Zainal Abidin SpU, almarhum H. Mochamad Dardak adalah sosok yang memperhatikan rakyat kecil serta toleransi terhadap sesamanya tinggi. Eyang Dardak merupakan sosok yang universal, tidak membatasi pergaulan.

Diceritakan oleh dr. Zainal “Bapak itu dulu seorang pelatih catur, dan banyak orang dilatihnya menjadi juara. Bahkan dulu bapak sering bermain catur dengan seorang Pendeta usai menunaikan ibadah sholat Isya hingga menjelang Subuh.”

“Atas disiplin dan doa Beliaulah yang membawa kemudahan dan kesuksesan bagi putra-putri H. Moch. Dardak tersebut,” tandas dr. Zainal. (Ono/gin)

Reporter : Tatang Dahono

Trenggalek – Portal Madiun Raya

Pemerintah daerah Kabupaten Trenggalek kembali menorehkan prestasi, dalam inovasi pembangunan.

Kali ini kabupaten yang dikenal sebagai kabupaten tempe kripik ini, masuk dalam 10 besar Jawa Timur, dengan beberapa inovasi yang sudah berjalan, dan yang akan di kembangkan.

“Jika kemarin Trenggalek masuk dalam urutan 34 hingga 38, sekarang sudah masuk 10 besar Jawa Timur.
Tentunya inovasi yang sudah berjalan ini akan terus kita tingkatkan, ” ungkap Bupati Emil Dardak.

Disampaikan Emil, torehan prestasi ini menjadi lonjakan yang sangat menggembirakan.

Karena memang semua bekerja sesuai dengan RPJMD yang dilihat pada EKPPD (Evaluasi Kinerja Pemerintah Daerah), kemudian juga melihat aturan dari Kemenpan.

“Dari Kemenpan EKPPD itu ngikut dalam apa yang jadi prioritas kita di RPJMD, yaitu visi misi. Sedangkan di Kemendagri sudah standart baku apa yang harus dilakukan oleh Pemerintah Daerah, pada urusan wajib dan tambahan,” jelasnya.

Ini semua punya indikator sendiri yang harus dicapai, jadi jangan ada cerita misal harus meningkatkan minat baca, tapi tidak ada anggaran untuk menambah jumlah buku.

Tak ada anggaran untuk mengoperasikan perpustakaan keliling, jadi wajar saja kalau target minat bacanya belum terpenuhi.

“Jadi semua penggaran kita harus klik sesuai dengan indikator yang akan kita capai,” pungkasnya (Ono/gin)

Reporter : Tatang Dahono

Trenggalek – Portal Madiun Raya

Jelang pemungutan suara Pilgub Jatim 2018, KPUD Trenggalek menggelar rapat koordinasi, Minggu (24/6/2018).

Bupati Trenggalek, Emil Dardak yang ikut menghadiri kegiatan tersebut mendorong cita-cita KPU yang menginginkan Pilgub Jatim berjalan bersih, lancar dan terhindar dari segala kecurangan.

Meski tercatat sebagai salah satu calon pada Pilgub Jatim kali ini, tak lantas membuat dirinya memanfaatkan jabatan. Justru demi menjaga proses demokrasi tidak terciderai, suami Arumi Bachsin tersebut, memerintahkan kepada seluruh ASN untuk bersikap netral.

Dituturkan oleh Bupati Emil, bahwa dirinya diundang KPU sebagai Bupati aktif Trenggalek. “Karena sejak tengah malam tadi saya sudah kembali bertugas dan kami ingin mewujudkan upaya KPU untuk mewujudkan Pilgub yang lancar, jujur, adil, umum, bersih dan tentunya berintegritas,” tuturnya.

Lebih lanjut ditambahkan oleh Emil Dardak yang juga masih menjabat sebagai co-President UCLG Aspac, dirinya menyadari tentunya sebagai salah satu calon, posisinya sangatlah rawan. “Makanya tadi saya menegaskan dan menitipkan kepada Forkopimda langsung untuk seluruh aparat yang ada di Pemkab Trenggalek bisa dikomando langsung beliau-beliaunya untuk menunjang kelancaran Pilkada ini,” imbuhnya.

“Tadi saya mengintruksikan kepada seluruh jajaran, kita di Trenggalek ini harus bisa mewujudkan Pilgub tanpa keberpihakan. Disisi lain mari kita hindari segala bentuk kecurangan dari pihak manapun itu,”ungkap Bupati Emil.(Ono/gin)

Reporter : Tatang Dahono

Trenggalek – Portal Madiun Raya

Puluhan ribu pemilih pemula pilkada Jawa Timur di Kabupaten Trenggalek belum melakukan perekaman data biometrik kartu tanda penduduk elektronik (E-KTP). Puluhan ribu pemilih yang belum melakukan perekaman EKTP ini, didominasi oleh pemilih pemula, yang menginjak usia 17 tahun.

Padahal pesta demokrasi pemilihan umum kepala daerah (Pilkada) jawa Timur tahun 2018, kurang beberapa minggu lagi.

Berdasarkan data yang dihimpun Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dispendukcapil) Kabupaten Trenggalek, yang masuk sebagai pemilih pilkada Jatim tahun 2018, sejumlah 601.185 wajib KTP.

Sedangkan jumlah warga yang belum melakukan perekaman K-T-P Elektronik sebanyak 25.270 jiwa. Puluhan ribu jiwa tersebut tersebar di 14 Kecamatan yang berada di Kabupaten Trenggalek.

Menanggapi masih banyaknya calon pemilih pilkada yang belum melakukan perekaman E-KTP, Kepala Bidang Pengelolaan Informasi Administrasi Kependudukan,  Dinas Kependudukan Dan Pencatatan Sipil (Dispendukcapil) Trenggalek, 
Ririn Eko Utoyo menerangkan, terkait kondisi tersebut pihaknya telah melakukan berbagai langkah untuk mempercepat proses perekaman.

“Salah satunya yaitu dengan sistem jemput bola ke sekolah sekolah, maupun kantor Desa”,ujarnya Senin (04/06).

Untuk menyelamatkan hak pilih dalam pilkada Jatim tahun 2018 bagi puluhan ribu warga yang belum rekaman E-KTP ini, Dispendukcapil Kabupaten Trenggalek juga akan menerbitkan surat keterangan, bahwa yang bersangkutan sudah masuk dalam data base, sambung Ririn.

“Dengan demikian warga yang belum rekaman E-KTP, bisa menggunakan hak pilihnya seperti halnya, yang sudah mempunyai E – KTP Elektronik”,pungkasnya. (Ono/gin)

Reporter : Tatang Dahono

Trenggalek – Portal Madiun Raya

Rapat Paripurna Internal DPRD Kabupaten Trenggalek digelar dengan agenda Penyampaian Pandangan Umum Fraksi – fraksi terhadap dua usulan Prakarsa Raperda.

“Rapat dinyatakan sah karena jumlah yang hadir sebanyak 35 orang, dari jumlah keseluruhan anggota dewan 44 orang,” terang Guswanto, salah satu unsur Pimpinan DPRD Kabupaten Trenggalek, Rabu (30/5).

Pandangan Umum dimulai dari Fraksi Demokrat. Melalui juru bicaranya, Mujianto menjelaskan, peraturan tentang pelayanan publik adalah sebuah kebutuhan yang mendasar sehingga perlu adanya kejelasan payung hukum.

Menurutnya, pelayanan publik harus disesuaikan dengan perkembangan jaman dan kebutuhan masyarakat.
“Situasi dan kondisi masyarakat sekarang harus menjadi dasar utama, agar dalam pelaksanaannya tidak merugikan masyarakat Trenggalek,” jelasnya.

Pria asli kota tempe kripik ini mengatakan, jika secara umum Fraksi Demokrat setuju revisi Perda Nomor 14 Tahun 2015. Tetapi harus ada kejelasan dasar hukum dalam pembuatan Perda nanti.”Ini penting karena setiap produk hukum itu harus punya dasar yang kuat sehingga tidak menimbulkan persoalan dikelak kemudian hari,” katanya.

Sementara itu, Fraksi Indonesia Sejahtera (PAS) juga sependapat dengan Fraksi Demokrat atas revisi perda tersebut.”Yang penting, fungsi pemerintah dalam melayani publik harus jelas fungsi dan cara pelayanannya, harus disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat Trenggalek,” terang Sugeng, juru bicara dari Fraksi PAS.

Pelayanan yang dimaksud adalah kesesuaian dengan situasi jaman dan kondisi masyarakat.

Sugeng mencontohkan masalah pelayanan E-KTP, seharusnya cukup di kecamatan saja, agar lebih praktis dan efisien.
Begitu pula dengan akte kelahiran, seharusnya bayi lahir di rumah sakit, atau puskesmas, atau klinik pulang sudah membawa akte.

Kita telah tertinggal dengan kabupaten lain, jika saja dibiarkan tentu saja akan ditelan jaman.

Demikian juga masalah kecepatan layanan dalam era modern seperti ini, masyarakat ingin dilayani dengan cepat akurat, dan tidak ribet.

Kalau di daerah lain ada smart city, smart kampung, kenapa tidak coba bikin smart gunung. Karena dua pertiga wilayah kabupaten Trenggalek pegunungan, ungkapnya.

Tentang ketertiban, ketentraman umum, dan perlindungan masyarakat, pria yang ramah dengan awak media ini memberi saran agar, penegakan hukum terkait Kamtibmas jangan sampai merugikan masyarakat.”Jangan sampai dengan lahirnya perda nanti penggusuran pedagang merajalela. Karena itu perlu antisipasi preventif dalam pembahasan lebih lanjut. Jangan sampai nantinya penegakan hukum terkait kamtibmas justru memberikan dampak yang sebaliknya.Karena penegakan hukum terkait kamtibmas justru berimage negatif bagi masyarakat kecil, identik dengan kesewenang wenangan”,pungkas Sugeng.(Ono/Gin)

Reporter : Tatang Dahono

Trenggalek – Portal Madiun Raya

Kepolisian Resort Trenggalek menggelar Focus Group Discussion (FGD) Sinergitas TNI-Polri bersama Pemerintah dan elemen masyarakat Kabupaten Trenggalek dalam mencegah serta memerangi terorisme dan radikalisme di Gedung Rupatama Polres Trenggalek, Selasa (15/5/2018).

Kapolres Trenggalek, AKBP Didit Bambang Wibowo S, mengajak kepada seluruh elemen untuk bersama-sama melawan tindakan terorisme dengan menciptakan stabilitas keamanan.

Dirinya juga menghimbau kepada masyarakat untuk melaporkan kepada pihak Kepolisian maupun TNI, apabila menemukan hal-hal yang berpotensi menimbulkan gangguan kamtibmas.

Selain itu, pihak Polres Trenggalek bersama Kodim 0806 juga melakukan pengamanan di akses keluar masuk, di tiga pintu yaitu dari Pacitan, kemudian dari Ponorogo dan dari Tulungagung. “Yang kemarin telah dilaksanakan kegiatan razia terpadu dengan unsur dari TNI,” ungkap Kapolres Trenggalek.

Sementara itu, Plt. Bupati Trenggalek H. Mochamad Nur Arifin, juga mengajak segenap elemen masyarakat untuk melakukan kesiagaan dini termasuk menghidupkan kembali sistem keamanan lingkungan.

“Masyarakat kita harapkan melakukan kesiagaan dini, Poskamling-Poskamling kita minta untuk dihidupkan kembali, apalagi ini musimnya menjelang lebaran itu nanti banyak arus mudik”,ujar Gus Ipin.

Jadi banyak orang luar, yang masuk ke Trenggalek, kepekaan kita harus kita tingkatkan, sambung Nur Arifin.

Wakil bupati termuda ini juga mengajak kepada masyarakat untuk menumbuhkan gerakan peduli tetangga, serta menghimbau sekiranya ada gerak-gerik yang mencurigakan, untuk segera melaporkan kepada pihak yang berwajib.

“Kemudian kepada para pemuka agama, kita harapkan untuk menjaga umatnya untuk bisa tenang, terus dakwah-dakwah, memasuki bulan suci Ramadhan, biasanya di isi dengan dakwah atau ceramah-ceramah, harus kita seleksi, jangan sampai ada yang berbau ujaran kebencian, baik itu terhadap Pemerintah maupun umat lain,” pungkas Nur Arifin.(Ono/gin)

Tidak Ada Postingan Lagi.

Tidak ada lagi halaman untuk dimuat.