Trenggalek – Portalnews Madiun Raya

Ada 2 tambahan pasien positif Covid 19 baru, di Trenggalek, Senin (1/6/2020). Tambahan pasien positif baru ini diumumkan resmi oleh Bupati Trenggalek, Mochamad Nur Arifin bersama 3 Pilar Dandim 0806 Trenggalek, Letkol Inv. Dodik Novianto, Kapolres Trenggalek AKBP Doni Satria Sembiring dalam pers rilis di Gedung Smart Center Trenggalek.

2 Pasien positif ini berasal dari Kecamatan Dongko. Satu laki-laki usia 45 tahun asal Desa Sumberbening yang selanjutnya disebut Pasien 10 Trenggalek. Sedangkan satunya lagi, perempuan 35 tahun asal Desa Salamwates Kecamatan yang sama yang selanjutnya disebut dengan Pasien 11 Trenggalek.

Kabar gembiranya, meskipun ada tambahan 2 pasien positif baru, Pasien 05 dari Desa Gembleb, Kecamatan Pogalan dinyatakan sembuh, setelah hasil Swab Test kedua dinyatakan negatif.

Dengan begitu ada 5 pasein yang dinyatakan sembuh Covid 19 di Trenggalek dan menyisakan 6 pasien yang masih positif. 6 pasien yang belum sembuh tersebut adalah Pasien 06 dan 07 dari Desa Karang Anom, Kecamatan Durenan, Pasien 08 dari Desa Sukosari, Kecamatan Trenggalek, Pasien 09 dari Desa Ngulung Kulon, Kecamatan Munjungan serta 2 tambahan baru Pasien 10 dan 11 dari Desa Sumberbening dan Salamwates Kecamatan Dongko yang di umumkan malam ini.

Pasien 10, bekerja sebagai tukang bangunan di Surabaya dan tanggal (21/5) lalu yang bersangkutan pulang naik sepeda motor dengan saudara kandungnya S. Sore hari keduanya tiba di rumah saudaranya di Desa Sumberbening.

Tanggal (22/5) yang bersangkutan
melapor ke balai desa setempat dan diberi multivitamin serta masker. Gugus Tugas Covid Desa menghimbau kepada yang bersangkutan untuk melakukan isolasi mandiri di rumah saudaranya.

Tanggal (28/5) Tim Puskesmas Dongko melakukan Rapid Test kepada Pasien 10 ini dan hasilnya reaktif. Esoknya, Tim medis melakukan pengambilan Specimen Swab Test. Tanggal (31/5) hasil Swab Test di BBLK Surabaya keluar dan positif Covid 19.

Sedangkan Pasien 11, bekerja sebagai Asisten Rumah Tangga di Kota Surabaya. Tanggal (20/5) yang bersangkutan melakukan perjalanan pulang ke Desa Salamwates menggunakan travel dengan 5 orang penumpang lainnya.

Saat pulang Pasien 11 ini tidak ada keluhan panas, batuk, pilek, sakit tenggorokan, sesak nafas dan gejala Covid lainnya. Namun yang bersangkutan menuturkan punya riwayat hipertensi.

Tanggal (21/5), bersama suami Pasien 11 ini pergi ke toko baju di Kecamatan Panggul. Tidak turun, hanya suaminya yang masuk toko. Tanggal (22/5) Pasien 11 ini mengantar sepeda motor ke saudaranya di RT 9.

Tanggal (23/5) Pasien 11 melapor ke checkpoint desa, selanjutnya diminta melakukan isolasi mandiri dan terus dipantau satgas desa. Tanggal (27/5) yang bersangkutan dilakukan Rapid Test oleh Puskesmas Pandean dan hasilnya Reaktif.

Tahu reaktif rapid rest, Pasien 11 ini tidak langsung pulang, justru sempat membeli Lele di Desa Salamwates.

Tanggal (29/5) dilakukan pengambilan specimen Swab Test untuk dilakukan uji Swab di BBLK Surabaya. Tanggal (31/5) hasilnya keluar, dinyatakan Positif.

Dari Pasien 10 terdapat 13 kontak erat. Dalam satu rumah ada 4, yaitu saudara kandung, istri saudara kandung, anak saudara kandung dan ibu Pasien 10. Terus anak Pasien 10 yang tidak serumah, tetangga 5 orang, teman kerja 2 orang. Teman dalam travel 1 orang.

Hasil rapid test semua kontak erat Non Reaktif, kecuali anak saudara Pasien 10 yang belum dilakukan rapid test karena usianya masih 11 bulan.

Sedangkan kontak erat untuk pasien 11, yang serumah ada 3 orang, terdiri dari suami, anak dan ibu. Teman seperjalanan 5 orang dan sudah dilakukan Rapid Test (27/5) dan hasilnya reaktif. Kemudian tanggal (29/5) dilakukan Swab Test, hasilnya negatif.

Kontak erat lain saudara yang berdomisili di Ponorogo dan sudah kembali ke Surabaya, Saudara W dari Desa Ngerdani yang masih di lacak keberadaannya.

Dilingkungannya sendiri juga ada 3 orang belum dilakukan Rapid Test, saudara Pasien 11 S, A penjual Lele dan petugas Checkpoint Salamwates yang sempat ditemui saat melapor. Dari kejadian Pasien 11 ink dimungkinkan besar masih ada kasus baru, karena banyak aktivitas yang dilakukan oleh Pasien 11.

Dari tambahan 2 pasien baru ini, Pemerintah mengambil langkah penanganan, mengisolasi Pasien 10 dan Pasien 11 di Asrama BKD Trenggalek sekaligus dipantau perkembangan penyakitnya.

Menerapkan isolasi di rumah bagi OTG kedua pasien, serta melakukan tracing terhadap kontak erat dengan 2 pasien positif baru ini. Pemerintah juga menerapkan kawasan displin physical distancing dilokasi sekitar titik isolasi mandiri OTG.

Pemerintah juga menunjuk Camat Dongko sebagai penghubung khusus, guna memantau kesehatan dan kebutuhan OTG pasien 10 dan 11, serta menyalurkan bantuan sosial bagi KK yang terdampak penetapan zona disiplin Physical Distancing. Melakukan disinfeksi berkala serta pembagian masker disekitar kawasan disiplin physical distancing.

2 pasien baru ini merupakan pengembangan pasien 08 dan 09, dan ternyata ada yang terkonfirmasi positif baru. Dengan kejadian itu Bupati Trenggalek meminta masyarakat untuk tetap menunda mudik, serta meminta petugas di semua Checkpoint ataupun satgas desa untuk melakukan pengetatan lebih, sehingga kejadian seperti yang terjadi pada Pasien 11 tidak terjadi lagi di Trenggalek.

Dalam Pers Rilisnya pria yang akrab disapa Gus Ipin ini menegaskan bawasannya belum ada penyebaran melalui transmisi lokal, semua berasal dari luar, sehingga ini dapat dijadikan pelajaran untuk tidak mengendurkan semangat dalam upaya pencegahan penyebaran Pandemi Covid 19. (Red)

Source : FB – Pemkab Trenggalek

Trenggalek – Portalnews Madiun Raya

Bupati Trenggalek, Mochamad Nur Arifin Kembali umumkan 2 pasien terkonfirmasi positif Covid 19 baru di Kabupaten Trenggalek. 2 pasien positif baru ini diumumkan Bupati Trenggalek bersama 3 Pilar di Gedung Smart Center Trenggalek, Sabtu (30/5/2020).

Tambahan 2 pasien positif ini, 1 dari Desa Sukosari, Kecamatan Trenggalek, laki-laki berusia 47 tahun dan selanjutnya disebut dengan Pasien 08 Trenggalek. Sedangkan untuk pasien satunya lagi dari Desa Ngulungkulon, Kec. Munjungan, gadis berusia 17 tahun yang selanjutnya disebut dengan Pasien 09 Trenggalek.

Pasien 08 memiliki riwayat perjalanan dari Sidoarjo dan pulang ke Desa Sukosari pada (14/5) lalu. Mengetahui kedatangan yang bersangkutan, ketua RT melaporkan hal ini kepada bidan desa.

Selanjutnya bidan desa melaporkan ke satgas Covid Puskesmas Rejowinangun. Mendapati laporan ini satgas Covid 19 Puskesmas Rejowinangun segera melangkah dengan memberikan edukasi kepada yang bersangkutan melalui sambungan telephone seluler.

Saat proses edukasi Pasien 08 menyampaikan tidak ada keluhan, seperti batuk, pilek, demam dan gejala Covid lainnya. Karena tidak ada gejala tersebut Pasien 08 ini selanjutnya dihimbau untuk melakukan isolasi mandiri di rumah selama 14 hari, serta mematuhi protokol kesehatan yang ada, pakai masker, sering cuci tangan, jaga kesehatan dan kebersihan.

Bila mendapati keluhan, yang bersangkutan juga diminta menghubungi Satgas Covid 19 Puskesmas Rejowinangun untuk dilakukan penanganan lebih lanjut.

2 hari usai penghimbauan, Pasien 08 masih diisiplin melakukan isolasi mandiri di rumah. Tanggal (17/5) Pasien 08 pergi ke toko di Desa Dawuhan dan ketemu istri pemilik toko. Tanggal (18/5) Bidan desa mendapat laporan dari warga kalo pasien batuk-batuk, kemudian bidan desa langsung melapor ke dokter puskesmas.

Menerima laporan ini, dokter puskesmas kembali menghubungi yang bersangkutan untuk menanyakan keluhan dan yang lainnya. Setelah dihubungi dokter Puskesmas, Pasien 08 mengaku kalau dia pulang dari Sidoarjo tanggal (14/5) karena sakit dan ijin pulang ke Trenggalek dari salah satu pabrik di Sidoarjo.

Pasien 08 menceritakan bila tanggal (18/5) telah memeriksakan diri ke RSUD dr Soedomo Trenggalek karena keluhan batuk, panas dan diberi obat serta diperiksa Rapid Test hasilnya non reaktif. Karena non reaktif pasien 08 dilakukan rawat jalan dan melakukan isolasi mandiri dirumah, serta dianjurkan untuk periksa RAPID TEST ulang 1 minggu kemudian di Puskesmas Rejowinangun.

Tanggal (23/5) Pasien 08 melakukan rapid test yang kedua di Puskesmas Rejowinangun dan hasilnya reaktif. Semenjak itu Pasien 08 dan keluarga dilakukan isolasi ketat beserta keluarga.

Satgas Covid 19 berjasama dengan desa untuk membantu proses isolasi ketat mulai dari penyemprotan cairan desinfektan dan mencukupi kebutuhan pokok sehari hari selama isolasi ketat di rumah dilakukan.

Tanggal (26/5), yang bersangkutan dilakukan pemeriksaan swab test di RSUD dr Soedomo Trenggalek dan tanggal (29/5) hasil swab test keluar dan hasilnya positif.

Dari pasien ini diperiksa, ada 3 kontak erat yaitu istri, anak dan istri pemilik toko Karsi. Ketiga kontak erat ini juga dilakukan rapid test dan hasilnya non reaktif.

Selanjutnya Pemerintah segera mengambil beberapa langkah penanganan, seperti melakukan isolasi kepada Pasien 08 di Asrama BKD dan terus memantau perkembangan penyakitnya.

Menerapkan isolasi di rumah bagi OTG pasien 08, dan menerapkan zona disiplin Physical Distancing disekitar rumah OTG.

Pemerintah juga melakukan tracing terhadap kontak erat dengan Pasien 08 pemilik toko dan karyawan toko, sekaligus toko yang pernah dikunjungi wajib dilakukan penutupan sementara. Karyawan dan pemilik toko juga wajib mengisolasi madiri di rumah.

Kemudian pemerintah menunjuk Camat Trenggalek sebagai penghubung khusus, guna memantau kesehatan dan kebutuhan OTG Pasien 08, serta menyalurkan bantuan sosial bagi KK yang terdampak penetapan zona disiplin physical distancing.

Disinfeksi secara berkala disekitar lokasi dan pembagian masker kepada masyarakat juga dilakukan.

Sedangkan riwayat Pasien 09, gadis 17 tahun asal Desa Ngulungkulon, Kecamatan Munjungan merupakan karyawan sebuah pabrik di Surabaya.

Pasien 09 ini tinggal disalah satu ruko di Kota Surabaya. Tanggal (21/5) yang bersangkutan pulang ke Trenggalek bersama 7 penumpang lainnya menggunakan travel Panggul dan dijemput bapaknya pada tanggal (22/5) sekitar pukul 02.00.

Pagi harinya Bapak Pasien 09 melaporkan hal ini ke satgas Covid-19 Desa Ngulungkulon dan ditindak lanjuti satgas dengan berkunjung ke kediaman yang bersangkutan. Satgas Covid 19 desa ini juga menginformasikan ini kepada Tim Puskesmas.

Tanggal (23/5) tim Puskesmas Munjungan melakukan tracing kepada yang bersangkutan sekaligus melakukan rapid test covid-19. Saat itu hasilnya reaktif.

Tidak ditemukan juga tanda-tanda klinis sakit pada tubuh yang bersangkutan. Dari hasil ini Satgas Covid 19 desa ini mengisolasi Pasien 09 di SD Ngulungkulon.

Tanggal (26/5) dilakukan pengambilan specimen swab test di RSUD dr Soedomo Trenggalek. Tanggal (29/5) hasil Swab Test keluar dan dinyatakan positif.

Dari pasien ini diperiksa, ada 10 kontak erat, yaitu bapak, ibu, kakek, nenek, teman kerja 2 orang alamat desa ngrambingan, sopir travel dan penumpang luar trenggalek 3 orang. Sedangkan hasil rapid test bapak, ibu, kakek dan nenek Pasien ini non reaktif.

Atas kejadian ini pemerintah mengambil beberapa langkah penanganan dengan mengisolasi pasien 09 di Asrama BKD, sekaligus memantau perkembangan penyakitnya. Menerapkan isolasi di rumah bagi OTG pasien 09 di sekitar titik isolasi mandiri OTG.

Melakukan tracing terhadap kontak erat dengan pasien 09 serta menetapkan kawasan disiplin physical distancing. Menunjuk Camat Munjungan sebagai penghubung khusus, guna memantau kesehatan dan kebutuhan OTG pasien 09, serta bantuan sosial bagi KK yang terdampak penetapan zona disiplin physical distancing.

Serta melakukan disinfeksi berkala serta pembagian masker disekitar kawasan physical distancing.

Dari tambahan 2 kasus positif ini, belum ada transmisi lokal dan semua kasus positif merupakan transmisi luar.

Menyikapi penambahan pasien baru ini, pria yang akrab disapa Gus Ipin ini meminta semua gugus tugas yang ada di checkpoin untuk lebih meningkatkan kewaspadaannya.

Pemimpin muda ini juga mengapresiasi partisipasi masyarakat yang peduli melaporkan kejadian di sekitar dan segera melaporkan kepada gugus tugas yang ada. Hal ini tentunya sangat membantu kerja gugus tugas sekaligus meminimalisir penyebaran Covid 19.

Meskipun lebaran sudah terlewat, Nur Arifin juga tetap menghimbau kepada masyarakat di perantuan untuk tetap menunda mudik, guna mengurangi resiko penyebaran.

Dirinya juga meminta maaf kepada masyarakat dengan terpaksa meniadakan tradisi Kupatan di tahun ini. Sebagai gantinya pihaknya menyiapkan sejumlah paket ketupat yang bisa diakses dari rumah melalui platform ojek online lokal Bloojek.

Terakhir pihaknya menghimbau kepada masyarakat untuk tetap meningkatkan kewaspadaan, meskipun kondisi new normal itu diberlakukan sekalipun, kewaspadaan terhadap pandemi tidak boleh dikendurkan. (Red).

Source : FB – Pemkab Trenggalek

Trenggalek – Portalnews Madiun Raya

Bupati Trenggalek, Mochamad Nur Arifin mengunjungi tokoh agama dan tokoh masyarakat di Kecamatan Munjungan, Senin (04/05/2020).

Bupati yang akrab dipanggil dengan nama Gus Ipin meminta kepada para tokoh agama untuk ikut menyebarkan kesepakatan tata cara peribadatan ditengah pandemi Corona, “Ini kita lakukan untuk memutus mata rantai penyebaran virus ini yang tidak terlihat secara kasat mata. Lebih lebih penyebarannya yang cukup cepat melalui kontak sesama manusia yang mungkin tidak sengaja terbawa oleh orang disekitar kita,” Ucap Gus Ipin.

Gus Ipin juga menyampaikan bahwa pembatasan yang dilakukan atau kesepakatan tentang peribadatan yang telah disepakati tentunya menjadikan ketidak nyamanan, karena tidak sesuai dengan kebiasaan yang biasa dilakukan. “Namun cara ini harus dipilih untuk mencegah penyebaran virus ini. Harapannya pemuka agama ini kan ditokohkan, sehingga ikut membantu menyadarkan kepada masyarakat, sesimpel bagaimana disiplin memakai masker, mematuhi protokol kesehatan, menjelang hari raya idul fitri, bagaimana kebiasaan kita sowan, badan ini nanti harus ditindak lanjuti dan dimasa covid ini kita harus membiasakan hal tersebut,” Urai Gus Ipin.

Bupati Trenggalek juga menyampaikan bahwa kalau informasi ini tidak segera disebarkan sampai ke akar rumput, bisa terjadi kesalah pahaman, “Untuk itu kita meminta bantuan kepada tokoh agama dan tokoh masyarakat. Hal ini kita lakukan dalam rangka mengurangi resiko penyebaran, di hari raya Idul Fitri tahun ini Pemerintah Kabupaten Trenggalek harus mengambil keputusan berat demi kebaikan bersama, dengan melarang takbiran dipenghujung ibadah puasa nanti maupun tradisi sowan dan bakdan bagi aparatur pemerintah,” Jelas Gus Ipin.

Sholad Idul Fitri di Masjid Agung Baithurrahman Trenggalek juga terancam ditiadakan, Kata Bupati, mengingat dalam Shalad Id di tempat ini bisanya banyak diikuti oleh pemudik sedangkan bila itu berbaur dengan penduduk lokal tentunya akan sangat beresiko terjadinya penyebaran. “Selain itu bila ada kejadian tentunya akan sulit untuk melakukan tracing kontak erat maupun sudah berkontak dengan siapa saja untuk pasien yang terkonfirmasi. Sebagai gantinya, Shalat Idul Fitri bisa dilakukan dilingkungan-lingkungan sehingga tidak melibatkan terlalu banyak jamaah dan tentunya tetap dengan mengdepankan protokol kesehatan.” Pungkas Bupati Muchamad Nur Arifin. (Red)

Tidak Ada Postingan Lagi.

Tidak ada lagi halaman untuk dimuat.