Mengenal Marsinah: Pahlawan Buruh yang Museumnya Diresmikan Presiden Prabowo Hari Ini

Patung Marsinah di Kecamatan Sukomoro Nganjuk, menjadi jujugan Selfi baru masyarakat

NGANJUK – JATIM

Pada 16 Mei 2026, sejarah baru terukir di Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur. Presiden Prabowo Subianto meresmikan Museum dan Rumah Singgah Marsinah, tempat yang kini abadi menyimpan jejak hidup dan perjuangan seorang perempuan sederhana yang namanya menjadi simbol keberanian, keadilan, dan suara bagi kaum pekerja: Marsinah .

Profil Singkat MARSINAH, dari Desa Menjadi Suara Buruh

Marsinah lahir di Desa Nglundo, Nganjuk, pada 10 April 1969, dari keluarga petani sederhana . Sejak kecil, ia sudah terbiasa bekerja keras membantu orang tua, berjualan makanan dan hasil bumi demi menambah penghasilan. Ia dikenal anak cerdas dan berprestasi, namun keadaan ekonomi membuatnya tak bisa melanjutkan kuliah meski bercita-cita jadi sarjana hukum .

Setelah lulus SMA, ia merantau ke Surabaya, bekerja di beberapa pabrik hingga akhirnya menjadi buruh di PT Catur Putra Surya, pabrik jam tangan di Porong, Sidoarjo, pada 1990 .

Di tempat kerja itulah semangat juangnya mekar. Marsinah tak diam melihat rekan-rekannya bekerja dengan upah rendah, jam kerja panjang, dan hak-hak yang diabaikan.

Ia vokal, berani, dan dipercaya menjadi juru bicara serta penggerak serikat pekerja. Ia memperjuangkan kenaikan gaji, tunjangan, hak cuti, hingga perlindungan bagi pekerja perempuan—hal-hal mendasar yang saat itu sering diabaikan .

Perjuangan Berujung Pengorbanan

Puncak perjuangannya terjadi awal Mei 1993. Bersama ratusan buruh, ia memimpin mogok kerja menuntut kenaikan upah dan perbaikan kesejahteraan, merujuk imbauan Gubernur Jawa Timur saat itu.

Sebagian tuntutan dikabulkan, namun ketegangan memuncak saat 13 rekan kerjanya dipanggil aparat, diintimidasi, dan dipaksa mengundurkan diri .

Marsinah tak gentar. Pada 5 Mei 1993, ia mendatangi kantor militer menanyakan nasib rekan-rekannya—dan sejak saat itu ia menghilang.

Tiga hari kemudian, jasadnya ditemukan di hutan Wilangan, Nganjuk, dalam kondisi mengenaskan dengan banyak bekas penyiksaan. Ia gugur di usia muda, 24 tahun, namun meninggalkan jejak yang tak terhapuskan .

Kematiannya mengguncang Indonesia dan dunia internasional. Kasusnya menjadi bukti kelam pelanggaran hak asasi manusia masa itu. Meski beberapa pihak sempat diadili, hingga kini pelaku utama belum terungkap sepenuhnya. Namun namanya justru makin bersinar: menjadi inspirasi gerakan buruh, simbol keberanian menyuarakan kebenaran, dan perlawanan terhadap ketidakadilan .

Pengakuan Negara dan Warisan Abadi

Pada 10 November 2025, Presiden Prabowo secara resmi menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada Marsinah—pengakuan tertinggi negara atas jasa-jasanya bagi bangsa, 32 tahun setelah ia gugur .

Dan hari ini, 16 Mei 2026, momen bersejarah kembali terulang: diresmikannya Museum dan Rumah Singgah Marsinah di kampung halamannya, disaksikan langsung Presiden.

Bangunan ini bukan sekadar tempat penyimpanan benda. Di dalamnya tersimpan barang-barang pribadi, dokumen, foto, catatan, dan rekam jejak perjuangannya, ditata rapi agar generasi mendatang bisa mengenal, belajar, dan meneladani semangatnya.

Rumah tempat ia lahir dan dibesarkan pun dipertahankan bentuk aslinya, menjadi saksi bisu kesederhanaan yang melahirkan keberanian luar biasa .

Presiden Prabowo dalam sambutannya menegaskan, peresmian ini adalah bentuk penghormatan negara, pengakuan bahwa hak pekerja adalah hak asasi yang harus dilindungi, dan pesan bahwa keadilan harus selalu diperjuangkan.

Marsinah kini bukan hanya milik kaum buruh, tapi milik seluruh bangsa Indonesia—pahlawan yang mengajarkan: meski sendirian dan sederhana, suara kebenaran tetap akan bergema selamanya.

Museum ini kini terbuka untuk umum. Datanglah, saksikan, dan ingatlah: Marsinah hidup bukan hanya dalam sejarah, tapi dalam setiap kemajuan hak pekerja yang kita nikmati hari ini.