Antara GOA GONG, Sutikno &  Bupati Sucipto

Sutikno rambut panjang dan Bupati Sucipto  memakai kaos kuning di awal pembangunan Goa Gong

Pacitan, MADIUNRAYA.com

Tahun 1996 banyak orang Pacitan  dikejutkan sosok Pria berbadan langsing  dan berambut Gondrong .

Ketika itu , tahun sembilan puluhan , Pendopo Pemkab Pacitan masih terlihat  sedikit magic dan sakral.

Dilingkungan Pendopo , yang keseharian didominasi Aktifitas Pegawai  Pemkab  Pacitan  sedikit dikejutkan ,  keluar masuknya Pemuda berambut Gondrong  ke dalam Istana Kabupaten tersebut.

Usut punya usut , Pemuda Ceking berambut grondrong  yang keluar masuk ke Pendopo tersebut adalah Sutikno yang akrab dipanggil Gustik,  adalah  Pemuda Asli Desa Mentoro yang kala itu  menetap lama  di Jakarta sebagai pekerja di sebuah Hotel berbintang di Kemang  Jakarta Selatan.

Rupanya ! Gustik yang nama Aslinya Sutikno , dipanggil pulang dari Ibu Kota  Jakarta  oleh Bupati Pacitan Sucipto HS untuk ditawari sebuah gagasan gila, yaitu  membangun Goa Gong yang masih perawan menjadi sebuah Destinasi Wisata bertaraf regional dan  Internasional.

Ketika itu…!  entah apa yang menjadi dasar pemikiran Bupati Sucipto meminta Pemuda  Sutikno untuk pulang kampung setelah sekian lama bermukim di Jakarta.

Atas bujuk rayu  Kabag Pembangunan  Drs Indartato dan Kepala Dinas Pendapatan  Pacitan Drs Sugiono, Gustik  akhirnya bersedia pulang ke Pacitan untuk mendesain dan merancang  pengembangan komplek Wisata Goa Gong di Desa Bomo Kecamatan Punung Kabupaten Pacitan.

Dengan hanya  bermodal  tekad yang tinggi , mulailah Gustik mendesain  proyek Prestisius  Goa Gong yang masih perawan itu menjadi Kawasan Wisata bertaraf Nasional bahkan  Internasional.

Tepat pada awal tahun 1996 konsep Pengembangan Proyek Goa Gong diselesaikan Gustik untuk dipresentasikan kepada  Kabag Pembangunan Drs Ibdartato , Kadinas PU Ir Rahmat Subianto, Kadinas Pendapatan Drs  Sugiono dan Bupati Pacitan  (Kol Purn Sucipto HS).

Merasa desain dan paparan konsep pembangunan Goa Gong selesai , Gustik berencana kembali ke Jakarta untuk urusan lain , namun belum sempat pulang ke Jakarta Bupati Sucipto memanggilnya ke Pendopo , di ruangan Bupati sudah ada Kabag Pembangunan Indartato , Kadis Dispenda Sugiono dan Kadis PU Rahmat Subianto .

Dengan suara tegas , Bupati  Pacitan Sucipto memerintahkan saya untuk mewujudkan secara fisik pembangunan Goa Gong , pokoknya yang desain kamu, maka kontraktornya ya kamu, perintah Bupati tanpa boleh menolaknya.

Dengan situasi kalut dan ragu ragu , ditambah belum pernah pengalaman sebagai kontraktor,  Kadis Pu Rahmat Subianto memberi semangat dan bimbingan untuk mewujudkan impian Bupati Sucipto menjadikan Goa Gong sebagai Destinasi Wisata bertarap Nasional , Regional dan Internasional..

Ditengah keraguan dan kebimbangan  terutama karena Goa Gong tersebut tempatnya konon sangat  angker , maka saya ( Gustik ) sowan ke sesepuh Pacitan ke R.Sukotjo dan Maidjo dikantor Veteran belakang Gedung Gasibu Pacitan.

Ternyata sowan saya ke Alm Pak Kotjo  ( ayah SBY) disambut penuh suka cita dan harapan agar saya meneguhkan nawaetu ( niat) untuk kebaikan Pacitan yaitu Membangun Goa Gong , kowe sing gula wentah goa , aku sing dongo saka njaba , wis mlakuo tikno , ujar R.Sujotjo.

Tahap awal , Gustik mengumpulkan pekerja seni Asli Pacitan lulusan SMIK dan Seniman kondang Pacitan  Bambang Eko Suwarno ,yang sekaligus teman karib Gustik di SMA 271 Pacitan angkatan 1979.

Selanjutnya Gustik dan pekerja seni , memastikan kondisi dalam Goa dan lahan  diluar Goa yang tercatat  dimiliki dua bersaudara ,  yaitu Paeran dan Sukimin ( salah satu pemiliik / Sukimin ) adalah pekerja Gustik sejak awal Goa Gong dibangun.

Kondisi Dalam Goa diukur oleh Tim Gustik yang tergabung di  Perusahaan Gustik  Citra Pule Raya Group ( sebuah nama Perusahaan Kontruksi yang diambil dari nama dusun letak Goa Gong / Dusun Pule).

Kondisi dalam Goa  Gong  terdiri dari 9 ruangan ,  dengan luas lingkaran 256 meter , dengan kedalaman 29 meter dari atas tanah dan ketebalan tanah minimal   4/5 meter.

Ditengah perjalanan ,terutama ketiika Proyek melalui jalan masuk menuju  Trap Goa , tiba tiba Bupati Sucipto tidak menyetujui desain jalan yang justru turun dan baru naik ,  Bupati  bilang : itu tolong dirubah ke tanah datar , Bupati lupa kalau tanah datar itu milik Suwandi , tentu Suwandi pemilik Tanah keberatan Proyek melewati tanahnya .

Proyek sempat berhenti satu minggu , karena keluarga Suwandi ngotot tidak boleh dibangun sebelum ada ganti rugi .

Karena proyek harus berjalan , maka para pejabat terkait , memerintahkan Gustik untuk nalangi dulu penggantian lahan seharga 2 juta rupiah dan sekaligus untuk membangun diatas tanah tersebut sebagai terminal utama masuk Goa Gong.

Karena ada iming iming dari Bupati / Pejabat Dinas Pendapatan dan PU  , kelak usai proyek selesai akan  ada penggantian pembelian lahan dan pembengkakan Nilai proyek Rp 36 juta ( kurs tahun 1996) maka Gustik Percaya sekalipun tidak ada surat resmi dari Bupati..

Akhirnya dengan berdarah darah , Proyek Goa Gong selesai pada akhir tahun 1996 dengan nilai Proyek  Rp 83 .000.000 ditambah perubahan perencanaan / pembelian lahah sebesar Rp 38 juta rupiah, total keseluruhan biaya  kurang lebin 121.000.000 .

Dan ternyata ambisi dan ramalan Bupati Pacitan  Sucipto HS  benar benar terjadi , Goa Gong menjadi obyek Wisata Pupuler dan terbaik  di kawasan Nasiobal maupun International, PAD dari hasil Goa Gong mencapai ratusan juta pertahun dan menjadi PAD terbesar dari sekian PAD di Pacitan. (RED).