Pacitan – Madiunraya.com
Memperingati Hari Pahlawan tanggal 10 November 2021, SDN 1 Pucangombo, Kecamatan Tegalombo Kabupaten Pacitan menggelar lomba mirip Pahlawan Bangsa.

Hal itu diinisasi oleh Herlina Savitri, seorang guru yang mengajar ditempat itu.

Menurutnya, Bangsa yang besar adalah Bangsa yang menghargai jasa para pahlawan. “Dalam rangka memperingati Hari Pahlawan, SD Negeri 1 Pucangombo mengadakam lomba dengan mengangkat tema “Pahlawan Inspirasiku” dengan judul kegiatan “My Favorite Heroes”,” Ucap Guru Kelas V itu.

Kegiatan tersebut lanjutnya, diikuti oleh semua murid. “Hanya saja terbagi dalam 2 hari pelaksanaan karena masih PTMT, kegiatan tersebut untuk menghargai jasa para pahlawan dan juga mengenalkan tokoh-tokoh pahlawan perjuangan kepada peserta didik. Dalam kejuaraan tiap kelas dipilih terbaik 1 ,2 dan 3 serta juara Favorite,” Urai Guru Teladan di Kabupaten Pacitan itu.

Herlina Savitri juga menyebutkan bahwa kegiatan berjalan dengan lancar karena berkat kerjasama yang baik antara pihak sekolah dan orangtua wali murid. “Meskipun pakaian seadanya, anak-anak memerankan menjadi Ir Soekarno, Jendral Soedirman, Kapitan Pattimura, Cut Nyak Dien, Tuanku Imam Bonjol dan lainnya. Selamat hari Pahlawan, semoga anak-anak kami bisa menjadi calon-calon penerus dan pemimpin bangsa yang cerdas, berwawasan dan tentunya menjadi Pahlawan Bangsa di masa depan. ” Tutup Herlina Savitri.

Sementara menurut salah seorang siswa yang bernama Nico, dirinya mengidolakan Ir Soekarno sang Proklamator Bangsa. “Beliau adalah kunci kemerdekaan yaitu membacakan naskah Proklamasi Kemerdekaan, tentu saja didukung oleh Rakyat Indonesia serta para Pahlawan yang lain,” Ucapnya.

Nico menggunakan kemeja putih dan songkok atau kopiah yang dipinjam dari Ayahnya. “Cita-cita saya ingin menjadi Insinyur, agar bisa membangun jalan ke rumah saya yang saat ini rusak.” tutupnya sambil tersenyum. (yah/gin).

Peliput : Yahya Ali Rahmawan

Penyunting : Agin Wijaya

Pacitan – Portalnews Madiunraya.com

Hati-hati menuruni medan dengan menggunakan Motor Matic. Setidaknya kalimat tersebut tidaklah salah.

Seperti yang dialami oleh dua orang yang mengalami Rem Blong saat menuruni tanjakan di Melikan Desa Kemuning Kecamatan Tegalombo Kabupaten Pacitan, Selasa (02/11/2021).

Menurut kerabat korban, Ruslan, keponakannya yang menaiki Honda Vario bersama dengan temannya yang berasal dari Sidoarjo mengalami kecelakaan tunggal setelah Motor Honda Vario yang ditumpanginya mengalami Rem Blong.

“Rem Honda Vario mendadak blong dan motor melaju dengan cepat dari atas hingga menyeberang jalan dan menabrak pasir dan rumah warga,” ucap Ruslan, kepada Madiunraya.com.

Untungnya, lanjut Ruslan, saat menyeberang jalan itu tidak ada kendaraan yang lewat. “Kedua pengendara berteriak sehingga warga yang didepannya berlarian semua, dan setelah menabrak rumah warga laju motor terhenti,” terang Ruslan.

Akibat kejadian itu, Ruslan menyampaikan pengemudi motor mengalami luka ringan. “Sementara temannya yang dibonceng mengalami luka agak parah. Meskipun dalam kondisi sadar namun mengeluhkan sakit di dada dan saat ini dibawa ke RSUD Dr Darsono Pacitan,” ujar Ruslan.

Mantan Kepala Desa Kemuning itu berharap masyarakat yang mengendarai sepeda motor matic hendaknya hati-hati. “Kemungkinan karena melakukan pengereman terus menerus sehingga kampas rem menjadi panas sehingga tidak bisa berfungsi lagi. Sebaiknya jika menurun mesin tidak boleh mati dengan sedikit gas, rem kadang dilepas sehingga tidak panas, hati-hati pokoknya.”Pesan Ruslan. (Yah/Gin).

Peliput : Yahya Ali Rahmawan

Penyunting : Agin Wijaya

Pacitan – Portalnews Madiun Raya

Nama Bukit Suroloyo sudah tidak begitu asing bagi warga Desa Kasihan Kecamatan Tegalombo Kabupaten Pacitan.

Namun ketika hendak ditanya kepada sebagian besar orang tua disana malah cenderung diam dan menolak untuk menceritakan.

Malah ada larangan untuk pergi ke sana.”Jangan ke sana, bahaya. Dulu warga di sini hilang setelah pergi mengunjungi Bukit Suroloyo itu,” Ungkap salah satu warga yang tidak mau disebutkan namanya.

Namun rasa penasaran penulis terbayarkan setelah nekat mengunjungi bukit yang terletak diantara dua kecamatan di Pacitan yaitu Tegalombo dan Tulakan itu.

Sebelumnya kepada siapapun yang ditemui di jalan, penulis mencoba mengorek tentang apa dan bagaimana Bukit Suroloyo.

“Disana ada Tugu Belanda mas, dulu pasukan Belanda saat mengejar Jendral Sudirman sampai ditempat itu dan mendirikan tugu,” Ucap Rokim, warga Mbunder, Kasihan.

Namun cerita lain disampaikan oleh Yuan, warga Pringapus, bahwa kalau kesana harus hati-hati. “Soalnya ada naga raksasa disana. Kalau malam jadi tempat pertemuan makhluk gaib. Jadi, Bukit Suroloyo ini adalah pintu masuk ke alam lain, kalau tidak tahu jalan pulang maka dia akan hilang selamanya,”Ceritanya dengan mitos yang telah berkembang.

Dengan bekal dua cerita itu, penulis lalu menuju tempat yang disebutkan. Tidak jauh dari Pringapus Dusun Salam Desa Kasihan Kecamatan Tegalombo Pacitan. Hanya setengah kilo meter dan sebagian jalannya baru saja dirabat. Untungnya saat musim kemarau, jalan setelahnya kering sehingga motor penulis bisa dengan lancar sampai di puncak Bukit Suroloyo.

Sepi dan syahdu. Itu kesan pertama saya setelah menginjakkan kaki saya di puncak bukit tersebut.

Kabut yang berlarian dikejar sang bayu pegunungan terasa dingin menyentuh kulit saya yang tidak berjaket.

Namun kesan misterius saya rasakan ketika menatap sebuah tugu yang terbuat dari batu bata dan sebuah pohon kecil di sebelahnya.

Berdasar pengalaman, pohon tersebut merupakan simbol petilasan bahkan mungkin makam para pendahulu kita dimasa lampau.

Dan tugu yang terbuat dari Batu Bata itu juga penulis rasakan menyimpan sejuta cerita di masa lalu. Tugu Belanda, itu sebutan bagi orang-orang yang saya temui.

Secara realistis, karena tempat itu merupakan Puncak Tertinggi diantara dua kecamatan dan 3 desa yaitu Kasihan, Losari dan Ketro Montongan maka, bukan tidak mungkin jika BENAR tentara Belanda memang ke tempat itu untuk mengejar Pasukan Gerilya Jenderal Sudirman, bukankah dulu tidak ada satelit dan belum ada Google yang bisa menembus ruang dan waktu. Dan satu-satunya jalan adalah mencari tempat tertinggi lalu menggunakan teropong melihat sekelilingnya dan tentu saja mereka di bantu oleh Londo Ireng, jika ada.

Jika itu benar maka WAJIB bagi pemerintah setempat untuk membangun tempat itu sebagai WISATA SEJARAH.

Soal mistis, penulis jujur merasa mengkuruk, karena disana sendirian, namun setelah melihat disekelilingnya banyak petani yang sedang beraktivitas, rasa tersebut perlahan hilang.

Dan tentang itu perlu pembuktian yang lebih mendalam. Yang pasti dunia lain itu pasti ada, namun yakinlah mereka tidak akan mengganggu kita karena alamnya sudah lain dan selama kita tidak mengganggu mereka.

Suroloyo, perlu sentuhan dan perlu banyak yang meliput agar tempat tersebut bisa disentuh oleh pembangunan karena potensinya bisa menjadi Wisata Alam, Wisata Sejarah, Wisata Religi dan Wisata Mistis. Empat wisata yang bisa disatukan dan tentu saja bisa menjadi daya bangkit perekonomian setelah Pandemi.

Perlu juga relawan yang tidak perlu dibayar untuk sadar bahwa ada sejarah besar yang ada ditempatnya, lalu membangun tempat itu dan ketika tempat itu sudah maju maka soal bayar membayar akan datang dengan sendirinya. (Yah/Gin).

Peliput : Yahya Ali Rahmawan

Penyunting : Agin Wijaya

Pacitan – Portalnews Madiun Raya

Di diagnosa sakit Kanker Otak, Della binti Sugiono (6), warga  RT 05 RW 12 Dusun Berug Desa Ploso Kecamatan Tegalombo kondisinya melemah. Selain itu, penyakit yang dideritanya membuat Della tidak bisa melihat.

Untuk itu, Kanit Binmas, Kanit Lantas Polsek Tegalombo dan Bhabinkamtibmas Desa Ploso bersama komunitas TEGALOMBO MEDIA didampingi Kades dan Perangkat Desa Ploso menjenguk yang bersangkutan.

“Selain menjenguk kita juga memberikan motivasi dan memberikan bantuan Donasi dan sembako kepada keluarga Della, “ Ucap Kanit Binmas Polsek Tegalombo, Bripka Andika Edi Chandra.

Menurut Bripka Chandra, Della selama 35 hari terakhir tidak makan nasi dan kondisi lemas. “Yang bersangkutan hanya minum susu. Sempat dirawat di RSUD Ponorogo selama 5 hari, namun belum ada perkembangan yang berarti hingga kini,”Lanjutnya.

Saat ini, kata Bripka Chandra, keluarga Della masih mengalami kesulitan untuk mendapatkan BPJS Kesehatan. “Padahal pihak keluarga akan berencana membawa Della untuk berobat selanjutnya ke Rumah Sakit di Surabaya. Keluarga berharap BPJS segera bisa didapatkan agar memudahkan dalam pengobatan. Kondisi terakhir akan di bawa ke IGD Gemaharjo karena kondisinya melemah.”Kanit Binmas Polsek Tegalombo itu. (Yah/Gin).

Peliput : Yahya Ali Rahmawan

Penyunting : Agin Wijaya

PonorogoPortalnews MADIUN RAYA

Evakuasi sebuah minibus yang jatuh ke sungai di sebelah barat Puskesmas Tegalombo membuat jalan raya Pacitan-Ponorogo macet kurang lebih 4 KM.

Ratusan kendaraan roda dua, empat dan lainnya terhenti dititik evakuasi baik dari arah Pacitan maupun dari arah Ponorogo.

Evakuasi minibus tersebut berlangsung dari pukul 08.05 hingga pukul 10.00 WIB baru berhasil mengangkat body minibus dari sungai Grindulu.

Sebelumnya dikabarkan sebuah mini bus terjun ke arah sungai setelah sang sopir mengantuk, 3 orang dikabarkan mengalami luka ringan, namun kondisi body minibus ringsek.

Menurut seorang warga yang juga perangkat Desa Tegalombo, Leman, evakuasi dilakukan secara manual dengan menggunakan diesel. “Selain itu dibantu oleh petugas Kepolisian dari Polsek Tegalombo dan Polres Pacitan,” Ucap Leman.

Evakuasi tersebut, lanjut Leman, juga dibantu oleh pengendara yang sedang lewat. “Kita bekerja sama, sehingga walaupun dilakukan manual namun evakuasi ini bisa berjalan lancar,” Lanjutnya.

Memang medan di Pacitan, Kata Leman, yang mengikuti aliran Sungai Grindulu berkelok-kelok. “Kalau tidak hapal sering mengakibatkan kecelakaan seperti ini, apalagi kemarin dikabarkan sang sopir mengantuk, jadi harapan kami bagi warga luar kota yang hendak menuju Pacitan harus hati-hati dan jaga kondisi, jangan sampai mengantuk.” Pungkas Leman.

Kemacetan panjang yang mengular di Tegalombo tersebut membuat beberapa pengendara yang tidak sabar menempuh jalan pintas melalui Tegalombo – Tulakan. Meskipun medannya naik mereka tetap melaluinya karena mengejar waktu.

Seperti yang dituturkan oleh Susianto, Warga Desa Kasihan yang hendak pergi ke kota Pacitan. “Ada acara reuni jam 9 mas, ini terpaksa melalui jalur alternatif lewat Tulakan karena tadi macet,” ucapnya sambil tersenyum. (Yah/Gin)

Pewarta : Yahya Ali Rahmawan

Redaktur : Agin Wijaya

Pacitan – Portal Madiun Raya
Kesulitan ekonomi menjadikan sebagian orang untuk mengambil jalan pintas untuk keuntungan perutnya sendiri. Bahkan mereka tidak segan melakukan penipuan kepada sesama anak negeri.

Hari ini, Senin Wage (27/08), seorang ibu muda yang sedang belanja ke pasar tradisional di Desa Tegalombo, Kecamatan Tegalombo Pacitan dikejutkan dengan seorang pedagang yang menangis. Spontan, Herlina nama ibu muda itu mendekatinya.
“Ada apa bu ?” tanya Herlina kepada sang penjual yang menangis itu. “Ini lho bu, kok tega yaa… Saya dibayar dengan uang palsu, padahal tadi belanjanya habis banyak, beli gula, beras dan lain sebagainya, ” jawab sang pedagang sambil sesenggukan.
“Ya Alloh, dilaporkan Polisi saja lho bu,” sahut Herlina. “Waduh saya sudah lupa yang mana pembelinya bu, sudahlah ini saya anggap sedekah saja walaupun rugi banyak,” jawab Pedagang tersebut.

Menurut Herlina, memang sering di Pasar Tegalombo terjadi hal demikian. “Sudah sering saya menjumpai hal tersebut, dulu ada Pak Diyanto seorang penjual bensin juga dibayar dengan uang mainan, tahunya setelah pengendara itu pergi. “jelasnya.

Biasanya mereka melakukan aksi saat masih pagi buta atau malam hari atau saat pedagang itu dikerubuti pembeli, sehingga konsentrasi pedagang kurang maksimal, sambungnya.

“Kita berharap para pedagang berhati hati saat menerima uang pembayaran dan segera melaporkan kepada pihak yang berwajib, kasihan para pedagang, sudah keuntungan tidak seberapa namun ditipu lagi.” pungkas Herlina. (yah/gin).

Pacitan – Portal Madiun Raya
Melakukan kunjungan kerja di Dusun Gayam, Desa Gemaharjo Kecamatan Tegalombo Pacitan, Selasa (26/06), Menteri Desa Percepatan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi, Eko Putro Sandjojo memberikan beberapa bantuan kepada masyarakat setempat.

Didampingi jajaran Kementerian Desa PDTT, Ketua DPRD Jatim, Halim Iskandar, Forkopimda Pacitan, Menteri Eko memberikan bantuan Rp 50 juta kepada Badan Usaha Milik Desa (Bumdes) Desa Gemaharjo.

Selain itu, atas usulan warga, Menteri Eko Putro Sandjojo juga akan membantu mesin penggilingan tanah sebagai bahan untuk membuat batu bata merah yang menjadi mata pencaharian masyarakat di Dusun Gayam, Desa Gemaharjo tersebut.

Dalam sambutannya, Menteri Eko meminta semua pihak untuk memaksimalkan penggunaan dana desa yang telah dikucurkan oleh pemerintah. “Dana desa harus bermanfaat bagi masyarakat, untuk itu penggunaan dana desa harus swakelola, artinya apabila ada proyek pembangunan jalan yang menggunakan dana desa maka semen, batu dan material yang lainnya harus dibeli dari warga desa setempat”,jelas Menteri Eko.

Dari hal tersebut maka akan ada perputaran uang di desa tersebut sehingga meningkatkan perekonomian di desa tersebut, lanjut Menteri Eko.

“Selain itu, pemberdayaan dan pembangunan desa wisata harus terus ditingkatkan, untuk itu kreatifitas Kepala Desa, Camat, Bupati dan pimpinan yang lain perlu terus ditingkatkan”,pungkas Menteri Eko.

Usai bertatap muka dengan warga Dusun Gayam, Menteri Eko dan rombongan mengunjungi Balai Desa Gemaharjo sebelum melanjutkan kunjungan ke Desa Arjiwinangun Pacitan. (Yah/Gin)

Pacitan – Portal Madiun Raya

Surat Keputusan (SK) pensiun periode ke dua tahun 2018 diserahkan kepada 67 Pegawai Negeri Sipil yang memasuki masa purna tugas di lingkungan Pemerintah Kabupaten Pacitan di Ruang Pertemuan BKPPD, Kamis (03/05).

Menurut Sekretaris BKD Pacitan, Mahmud, M. Pd, setiap tahun rata rata PNS yang purna di Kabupaten Pacitan mencapai 400 orang. “Jumlah PNS purna terbanyak adalah dari Dinas Pendidikan, atau Guru, selanjutnya disusul dari Dinas Kesehatan”,ujarnya kepada Portal Madiun Raya.

Saat ini kita menyerahkan SK Pensiun tahap kedua ditahun 2018, tahap pertama sudah kita serahkan pada bulan Januari – April kemarin, sementara tahap terakhir bulan Oktober hingga Desember 2018, sambung Mahmud.

“Kita berharap para purna PNS tetap bisa berkarya di masyarakat dan kita ucapkan terima kasih atas dedikasi dan pengabdiannya selama ini”,lanjut Mahmud.

Mensikapi banyaknya tenaga yang pensiun terutama Dinas Pendidikan dan Dinas Kesehatan, Mahmud menjelaskan bahwa setiap dinas akan merekrut tenaga honorer untuk bekerja di lembaganya. “Dengan merekrut tenaga honorer, lembaga bisa tetap berjalan dengan mestinya”,pungkas Mahmud.

Sementara menurut Ketua bidang organisasi PWRI Pacitan, Murwono mengucapkan selamat kepada para purna PNS. “Selamat, Bapak dan Ibu telah diwisuda setelah sekian lama mengabdi sebagai abdi negara, dan kini tibalah saat untuk merdeka”,ujar Murwono.

Walaupun telah purna, saya berharap kepada Bapak dan Ibu untuk tetap berkarya untuk bangsa, negara dan masyarakat, sambung Murwono.

“Untuk itu saya berharap, setelah purna, Bapak dan Ibu bergabung di organisasi PWRI sebagai wadah dan kegiatan para purna PNS”,pungkas Murwono.

Sementara menurut salah seorang purna PNS, Susianto, S. Pd, dirinya merasa senang dapat purna setelah 30 tahun lebih mengabdikan dirinya sebagai guru di Kecamatan Tegalombo Pacitan. Saat ditanya rencananya pasca pensiun, Bapak 2 cucu ini dengan penuh semangat menjawab akan berdagang kambing. “Selain itu akan bertani dan beternak”,pungkas Bapak yang terakhir berdinas di SDN Kasihan II Kecamatan Tegalombo tersebut. (GiN)

Tidak Ada Postingan Lagi.

Tidak ada lagi halaman untuk dimuat.