,

Ponorogo, MADIUNRAYA.com
Kang Bupati Sugiri Sancoko, panggilan akrab Bupati Ponorogo membuka secara resmi perayaan Grebeg Suro tahun 2022 sekaligus peringatan Hari Jadi Ponorogo ke 526.

Didampingi Wakil Bupati, Bunda Lisdyarita, Kang Bupati Sugiri Sancoko melecutkan pecut Samandiman sebagai tanda pesta budaya dan religi yang sudah dua tahun tidak dilaksanakan karena Pandemi Covid 19 itu dimulai hingga 11 Agustus 2022 mendatang.

Dalam sambutannya, Kang Bupati Sugiri Sancoko menyampaikan bahwa ditengah persiapan yang serba mendadak, akhirnya event budaya dan religi di Kota Reog itu bisa terlaksana.

“Kami ingin roda budaya dan roda santri di Ponorogo bisa berjalan dengan kolaborasi yang apik dalam orkestra peradaban yang mampu meningkatkan perekonomian bagi masyarakat Ponorogo,” ucap Kang Bupati Sugiri Sancoko.

Lebih lanjut Kang Bupati Sugiri Sancoko juga menjelaskan bahwa ada puluhan even budaya dan religi yang akan digelar selama Grebeg Suro tahun ini.

“Kita padukan antara Seni Budaya dan nilai religiusitas yang ada. Bahkan nanti akan ada rekor muri saat 2022 Penari Bujangganong dan Penari Sufi bergerak bersama mengikuti irama yang indah dan mempesona. Selain itu 307 dadak merak akan tampil bersama yang melambangkan bergerak bersama dalam gotong royong yang diracik menjadi kekuatan untuk bangkit setelah Pandemi Covid 19,” tambahnya.

Kang Bupati Sugiri Sancoko juga meminta dukungan dari semua pihak akan bisa melaksanakan amanah yang telah diberikan dalam membangun Ponorogo.

“Dengan Bergandeng Erat, Bergerak cepat, mudah-mudahan Ponorogo bisa menjadi hebat.” Tutup Kang Bupati Sugiri Sancoko.

Hadir dalam kegiatan itu Pejabat dari DPR RI, Forkopimda Jatim, Kepala Daerah dari beberapa tempat di Jawa Timur, Forkopimda Ponorogo serta ribuan masyarakat yang melihat secara langsung prosesi pembukaan Grebeg Suro tahun 2022 itu.

Selain menyuguhkan tari kolosal, sajian religi dari Grup Musik Debu menjadi tontonan menarik bagi masyarakat Ponorogo.

Atraksi menawan Kembang Api juga membuat masyarakat Ponorogo terkesima setelah sekian waktu tidak melihat hiburan secara langsung. (yah/gin).

Peliput : Yahya Ali Rahmawan

Penyunting : Agin Wijaya

,

Ponorogo – MADIUNRAYA.COM

Bupati Ponorogo, H Sugiri Sancoko, SE MM atau yang akrab disapa Kang Bupati Sugiri diterpa isu miring ijazah palsu.

Bahkan ada beberapa pihak yang melaporkan Sang Bupati ke Polda Jatim.

Namun, hal tersebut disayangkan oleh aktivis Anti Korupsi di Ponorogo, Muhammad Yani.

Ketua LSM 45 itu bahkan memberikan foto saat Kang Bupati Sugiri Sancoko diwisuda tahun 2006 di Universitas Tritunggal Surabaya.

“Secara logika, jika sudah diwisuda ataupun sudah dipergunakan untuk mencalonkan Anggota legislatif tahun 2009, tahun 2014, mencalonkan Bupati tahun 2015, mencalonkan lagi di Pemilu 2019 dan mencalonkan Bupati tahun 2020 maka hal itu tidak benar, ini hanya permainan politik agar Ponorogo gaduh,” ucap Muh Yani, Rabu (02/02/2022).

Lebih lanjut Muh Yani juga mengungkapkan bahwa ijazah S1 sang Bupati tentu saja digunakan untuk mendaftar S2. “Beliau kan bergelar S1 nya SE dan S2 nya MM, jika ijazah S1 bermasalah tentu saja beliau tidak diterima saat mendaftar ke S2,” tambahnya.

Muh Yani juga menyampaikan bahwa permainan politik untuk mengganggu kinerja Kang Bupati Sugiri Sancoko saat ini sedang dilakukan.

“Kalau soal ijazah palsu kenapa baru sekarang dipersoalkan, kenapa tidak saat menjelang Pemilu 2009, 2014, Pilbup 2015, Pemilu 2019 dan Pilbup 2020?, Ada apa ini ?,” Tanya Muh Yani.

Untuk itu Muh Yani berharap agar semua pihak menahan diri agar Ponorogo tetap kondusif. “Jika Ponorogo kondusif maka masyarakat bisa tenang dalam beraktivitas dan mari kita dukung pemerintahan Bupati Sugiri Sancoko dan Wabup Lisdyarita untuk membangun Ponorogo karena didukung mayoritas oleh masyarakat Ponorogo dan sudah disahkan oleh negara melalui KPU, kita tunggu dan kita lihat. Jika suka maka dipilih lagi saat Pilbup 2024, dan jika tidak suka silahkan memilih calon yang disukai. Jangan suka mengganggu kerja ditengah jalan.” Pungkas Muh Yani. (red)

,

Ponorogo – MADIUNRAYA.COM

Menjadi pengurus RT baik Ketua, Sekretaris maupun Bendahara dilingkungan Rukun Tetangga sangatlah berat. Untuk itu, Pemerintah harus memberikan apresiasi tanpa kecuali.

Hal itu disampaikan oleh Kang Bupati Sugiri Sancoko saat memberikan sambutan dalam Sosialisasi Dana Operasional RT di Balai Desa Mojorejo Kecamatan Jetis Kabupaten Ponorogo, Kamis (27/01/2022).

“Selama ini RT menjadi tumpuan Pemerintah Kabupaten agar program yang diusung bisa berjalan dengan baik. Untuk itu sejak tahun lalu, sesuai dengan janji saat kampanye, Pemkab Ponorogo menyalurkan Rp 10 juta tiap RT per tahun,” ucap Kang Bupati Sugiri Sancoko.

Pemanfaatan 10 juta tersebut adalah untuk penguatan kelembagaan RT dan melakukan pemberdayaan. “Pengurus RT yaitu Ketua, Sekretaris dan Bendahara akan diasuransikan jiwanya melalui BPJS Ketenagakerjaan, sehingga kalau mereka meninggal dunia akan ada santunan bagi ahli waris kurang lebih 42 juta,” ucap orang nomor satu di Pemkab Ponorogo itu.

Selain itu, Kang Bupati Sugiri Sancoko juga berharap agar dana itu dimanfaatkan untuk pembangunan Biopori atau sistem peresapan air. “Sehingga dengan pembangunan Biopori akan mengurangi arus air yang meminimalisir banjir dan akan menjadi cadangan saat kekeringan,” lanjut nya.

Yang penting selain itu, Kang Bupati Sugiri Sancoko berharap agar ada pembangunan infrastruktur internet. “Sehingga data yang diberikan selalu update setiap saat. Berapa orang kaya, berapa orang miskin, berapa yang perlu dibantu, berapa yang sudah mampu, berapa TKI, dan lainnya bisa kita upadate secara benar setiap saat. Untuk itu, akses internet sangatlah diperlukan,” tambahnya.

Dengan pemanfaatan hal itu, Kang Bupati Sugiri Sancoko berharap apresiasi kepada RT bisa dilakukan. “Selain menunaikan janji saat kampanye, saya ingin membangun esensi dan bukan pencitraan. Mari bersama membangun Ponorogo agar menjadi Hebat dan lebih baik.” Pungkas Kang Bupati Sugiri Sancoko. (yah/gin).

Peliput : Yahya Ali Rahmawan

Penyunting : Agin Wijaya

Ponorogo – MADIUNRAYA.COM

Bupati Ponorogo yang akrab dipanggil dengan panggilan Kang Bupati Sugiri dikenal sebagai budayawan yang sangat merakyat.

Ditangannya, Kota Ponorogo dipoles dengan beberapa sentuhan yang kental dengan seni budaya.

Sebut saja JL HOS Cokroaminoto hingga JL Jendral Sudirman yang ditata rapi dan elok, namun tidak meninggalkan kearifan lokal Ponorogo. Lampu Penerangan Jalan Umum diberikan motif merak.

Pun dengan patung-patung di Ponorogo yang sebelumnya menyeramkan dengan warna gelap, kini sedikit demi sedikit dipoles dengan warna yang cerah dan menarik sehingga tidak sedikit warga yang memilih berselfie ria di depannya.

Tak hanya itu, budaya gotong royong kembali dihidupkan oleh sosok yang lahir di Desa Gelang Kulon Sampung Ponorogo itu.

Bahkan mimpi besarnya akan membuat Patung Reyog Raksasa di Bukit Kapur Desa Sampung laksana Breksi di Sleman Yogyakarta akan dilakukan secara multiyears. Mulai tahun ini hingga tahun 2024.

Selain itu, Kang Bupati Sugiri juga membawa nilai budaya adi luhung dalam memberikan nama kepada anak-anaknya.

Putri pertama Kang Bupati Sugiri dengan Susilowati diberi nama yang cukup nyentrik namun dalam akan makna.

Namanya JIAN AYUNE SUNDUL LANGIT. Itu nama yang diberikan Kang Bupati Sugiri kepada putri sulungnya yang jika dilihat dari akun instagramnya, dia saat ini menuntut ilmu di Universitas Padjajaran, kuliah di jurusan Ilmu Politik.

Penulis sendiri baru tahu nama yang cukup nyentrik itu. Mirip pemberian nama anak dan cucu Presiden Joko Widodo.

Jika dalam bahasa jawa JIAN artinya memang atau sesungguhnya.

Ayune bisa diartikan kecantikanya, Sundul artinya menembus atau sampai. Langit bisa diartikan tempat yang tertinggi.

Sehingga JIAN AYUNE SUNDUL LANGIT bisa diartikan bahwa anak tersebut memang (pengakuan) kecantikannya luar biasa dan tidak ada yang menandinginya.

Simpel. Namun penuh makna. Kecantikan disini bisa diartikan fisik maupun kecantikan secara kepribadian.

Dihari ulang tahun putrinya itu, Kang Bupati Sugiri memberikan ucapan selamat kepada anaknya. “Selamat ulang tahun anakku, yang cantiknya ngalahin Ibunya.. (Jian Ayune Sundul Langit),” ucap Kang Bupati dengan foto keluarganya. Sayang tidak disebutkan ulang tahun yang keberapa.

Budayawan asal Pacitan, Nur Ikhwan menilai bahwa budaya kita memang adi luhung. “Jika kita teguh memegang budaya maka tidak akan ada kebencian antar sesama manusia, Kang Bupati Sugiri memulai dengan memberikan nama anak-anaknya yang merupakan do’a bagi buah hatinya, mulai menumbuhkan budaya gotong royong, memulai budaya yang ramah dan indah. Tinggal kita sebagai warga biasa, apakah kembali memakai budaya ewuh pakewuh, saling menghormati, saling menghargai ataukah saling menikam agar ambisi kita bisa tercapai ?, mari introspeksi.” Ucapnya singkat. (yah/gin).

Peliput : Yahya Ali Rahmawan

Penyunting : Agin Wijaya

Ponorogo – MADIUNRAYA.COM

Keterbatasan anggaran dalam APBD Ponorogo membuat Bupati Ponorogo, H Sugiri Sancoko membuat terobosan dalam menyelesaikan berbagai persoalan.

Salah satunya adalah dengan membangkitkan kembali semangat Gotong Royong untuk memplester atau mengeraskan 21.000 rumah yang masih beralaskan tanah.

Hal itu disampaikan oleh Bupati Sugiri Sancoko yang didampingi oleh Wakil Bupati Lisdyarita saat mengajak seluruh Badan Amil Zakat dan Organisasi Kemanusiaan untuk bergotong royong dalam menuntaskan Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) yang ada di Ponorogo.

“Minimal nantinya plesterisasi terlebih dahulu dan ditargetkan ditahun 2022 harus tuntas 21 ribu rumah tidak layak huni,”Ucap Bupati Sugiri Sancoko, Selasa (23/11/2021).

Bupati Ponorogo Sugiri Sancoko juga menjelaskan bahwa dalam pertemuan dengan Badan Amil Zakat dan Organisasi Kemanusiaan sudah disepakati bahwa nantinya di tahun 2022 harus tuntas 21 ribu rumah tidak layak huni dengan sistem bergotongroyong.

“Nantinya Pemerintah dan Badan Amil Zakat dan Organisasi Kemanusiaan menyiapkan material, sementara dari desa menyediakan tenaga, dari kecamatan nanti menyediakan konsumsi atau apa begitu,” tambah Bupati Sugiri.

Diharapkan dengan memperbaiki ALADIN (Alas dan Dinding) terlebih dahulu bisa mengurangi resiko penyakit bagi penghuni rumah, “Dengan cara gotong royong ini nantinya tidak ada bendera yang berkibar, akan tetapi saling bahu membahu dalam menuntaskan rumah tidak layak huni menjadi layak huni. Minimal nanti diplester dulu, nanti kita juga undang CSR untuk ikut gotong royong, 1 tahun kedepan Rumah Tak Layak Huni menjadi Layak Huni. Kami ingin masyarakat sehat semuanya. “Pungkasnya. (yah/gin).

Peliput : Yahya Ali Rahmawan

Penyunting : Agin Wijaya

Pacitan – Madiunraya.com

Pergantian Antar Waktu (PAW) diperkirakan akan terjadi di Fraksi Demokrat yang duduk di DPRD Jawa Timur.

Itu terjadi setelah Hj Sri Subiati, SE meninggal dunia akibat Covid 19 beberapa waktu yang lalu.

“Yang seharusnya menggantikan Bu Sri Subiati adalah Pak Giri mas. Perolehan total suara beliau sebanyak 29 ribu lebih yang menjadikannya nomor urut tiga setelah Bu Sri dan Saya,”Ungkap Eko Prasetyo Wahyudiarto, Kamis (12/11), anggota DPRD Jatim.

Namun karena Pak Giri sudah menjadi Bupati, Eko melanjutkan bahwa pengganti Hj Sri Subiati adalah Caleg yang perolehan suaranya nomor urut 4 atau dibawah Sugiri Sancoko.

“Kebetulan juga nomor urut 4 mas, yaitu Bu Ratnadi Ismaon SH. Meskipun beliau dari Kabupaten Sidoarjo namun beliau menempati posisi ke empat dalam perolehan suara setelah Pak Giri,”tambah Eko.

Saat ini proses PAW tersebut menurut Eko masih dalam proses dari DPD Partai Demokrat Jawa Timur ke KPU Jatim. “Kami berharap proses segera dilakukan agar kekosongan di Fraksi Demokrat bisa segera terisi,” kata Eko.

Partai Demokrat tambah Eko, akan selalu berjuang untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat yang menjadi konstituennya. “Berkoalisi dengan rakyat, itu yang akan terus kami lakukan.”Pungkas Putra Bupati Pacitan 2010-2020, Indartato.

Sementara menurut salah satu warga Pacitan, Sudar, dirinya mengomentari keberuntungan yang diraih oleh Sugiri Sancoko secara personal. “Beliau menjadi Bupati di Ponorogo, namun juga berhak menjadi Anggota DPRD Jawa Timur melalui proses Pergantian Antar Waktu. Memang kalau sudah nasib tidak ada yang bisa menolak mas, nasib Pak Giri memang beruntung. Namun yang perlu juga diketahui adalah prosesnya yang luar biasa. Selain merakyat beliau juga total saat bekerja politik,” Ucap pendukung Sugiri Sancoko dalam Pemilu 2019 yang lalu itu. (yah/gin).

Peliput : Yahya Ali Rahmawan

Penyunting : Agin Wijaya

Ponorogo – Madiunraya.com

Semenjak H Sugiri Sancoko SE MM atau yang lebih akrab dikenal dengan panggilan Kang Giri menjadi Bupati Ponorogo, Rumah Dinas Bupati atau yang disebut Pringgitan mengalami perubahan aksesories.

Berikut 6 perubahan Pringgitan yang berhasil Penulis rangkum.

  1. Motor Vespa

Bupati Ponorogo meletakkan 2 unit Motor Vespa berwarna Merah dan Putih didepan tangga menuju Pringgitan.

2. Pohon Pule

Ada 4 Batang Pohon Pule yang ditanam dalam Pot Besar dan juga berbagai bunga disekitarnya.

3. Payung dan Pusaka

Kang Giri meletakkan Payung dan Pusaka didepan pintu ruang utama Pringgitan.

4. Lukisan Ir Soekarno

Wajah Proklamator RI, Ir Soekarno terpampang jelas dengan ukuran jumbo terletak di sebelah timur dinding teras Pringgitan.

5. Foto Bupati sebelumnya tidak terlihat

Jika selama ini ada foto Bupati Ponorogo dari masa ke masa terpampang di Teras Pringgitan, hal itu tidak terlihat lagi.

6. Replika Macan Putih juga tidak ada

Di Era Bupati yang sebelumnya, Replika Macan Putih selalu menjadi tempat selfie bagi tamu Bupati, namun berdasarkan pengamatan Penulis tidak terlihat lagi di Teras Pringgitan.

Menurut salah seorang warga Ponorogo, Agus, dirinya melihat wajah Pringgitan atau Rumah Dinas Bupati Ponorogo saat ini lebih adem dan artistik.

“Lebih banyak pepohonan disini, sehingga terkesan adem. Sedangkan untuk Vespa dan Payung membuat kesan artistik di Teras Pringgitan,”Ucap Agus, Jum’at (12/11).

Lukisan Proklamator menurut Agus menjadikan kesan nasionalisme bagi Tamu Bupati Ponorogo. “Beliau adalah sosok Proklamator, penyatu semua golongan, suku, agama. Pak Giri ini menyatukan kesan Nasionalis, Budaya, Artistik sekaligus alami,”tambahnya.

Lebih lanjut Agus yang merupakan warga Sampung ini berharap agar Pemerintahan Sugiri Sancoko dan Lisdyarita mampu membawa Ponorogo lebih maju. “Masyarakatnya sejahtera dengan ditopang pembangunan yang berjalan disemua bidang menuju Ponorogo Hebat seperti yang dicita-citakan.”Pungkasnya. (yah/gin).

Peliput : Yahya Ali Rahmawan

Penyunting : Agin Wijaya

Ponorogo – Madiunraya.com

Bupati Ponorogo, H Sugiri Sancoko atau yang akrab dipanggil dengan Kang Giri, dikenal sebagai sosok yang merakyat.

Seperti yang terlihat saat orang nomor satu di Pemkab Ponorogo itu melintasi jalan di Desa Krebet Kecamatan Jambon Kabupaten Ponorogo, Senin siang (08/11/2021).

Usai mengikuti acara di Desa Sidoharjo bersama Gubernur Jawa Timur, Kang Giri berhenti di rumah warga yang sedang menggelar hajatan pernikahan.

Sontak kedatatangan Kang Giri membuat warga setempat heboh.

Menurut seorang warga, Siti, warga yang melakukan hajatan tersebut adalah Pak Senen dan Bu Suprihatin. “Beliau menikahkan putrinya mas, tadi terkejut karena Pak Bupati dan Ibu Gubernur tiba-tiba berhenti dan langsung duduk di kursi undangan,” ucap Siti sambil tersenyum senang.

Siti mengakui kalau Bupati Ponorogo saat ini sangatlah merakyat. “Sumeh mas, beliau itu. Kadang kalau naik mobil selalu menyapa duluan dan ini tadi tiba-tiba Mbecek ke rumah Pak Senen,” tambahnya.

Siti berharap, dibawah kepemimpinan Kang Giri bisa menjadikan Ponorogo lebih hebat dan maju. “Semoga Ponorogo bisa maju ya mas.” Harapnya. (yah/gin)

Peliput : Yahya Ali Rahmawan

Penyunting : Agin Wijaya

Tidak Ada Postingan Lagi.

Tidak ada lagi halaman untuk dimuat.