Pengerahan masa Suroan dan Suran Agung ditiadakan, para Pendekar diminta lakukan Kegiatan Sosial

oleh -20225 views

Kota Madiun – Portalnews Madiun Raya

Kegiatan Suroan dan Suran Agung tahun ini dipastikan berbeda dengan ritual kenaikan sabuk bagi para Pendekar seperti tahun lalu.

Pandemi Covid 19 yang melarang pengumpulan massa membuat perguruan silat di Kota Madiun menunda agenda tahunan mereka.

Hal itu terungkap saat Rapat Koordinasi dan fasilitasi Suroan dan Suran Agung pada Kabupaten/Kota se Bakorwil I Madiun, Kabupaten Nganjuk dan Bojonegoro tahun 2020 yang digelar di The Sun Hotel, Kamis (13/08/2020).

Wali Kota Madiun bersama Plt Kepala Bakorwil I Madiun, Danrem 081/DSJ, serta perwakilan dari Polda Jatim dan TNI AU saat menggelar Rakor menjelang Suroan atau Suran Agung. (Foto – Yahya)

Plt Kepala Bakorwil I Madiun, Benny Sampirwanto menyatakan bahwa Pandemi Covid 19 di Jawa Timur walau landai tetapi hingga saat ini masih ada penambahan kasus. “Walaupun angka kesembuhan tinggi, harus tetap waspada, ” Ucap Benny.

Selain memperingati HUT Kemerdekaan ada peringatan Tahun Baru Hijriah yang juga diperingati oleh Pendekar Silat dengan kenaikan sabuk dengan menggelar kegiatan yang mengumpulkan masa. “Kejadian di Situbondo harus dihindari. Untuk itu seluruh jajaran di wilayah kerja Bakorwil Madiun, Nganjuk dan Bojonegoro diharapkan tidak ada pengerahan masa untuk datang ke Kota Madiun dalam rangka nyekar ke makam pendiri SH, ” Lanjut Benny.

Benny Sampirwanto, Plt Kepala Bakorwil I Madiun.

Pengesahan warga hendaknya dilakukan didaerah masing-masing. “Ini dilakukan agar situasi di Madiun Raya tetap aman dan kondusif.” Pungkas Benny Sampirwanto.

Wali Kota Madiun, Drs H Maidi, SH MM MPd menyampaikan bahwa Kota Madiun menjadi sentral kegiatan Bakorwil Jawa Timur bagian barat. “Untuk itu situasi Kota Madiun harus tetap kondusif. Kita menyiapkan intervensi berbasis lokal, melalui Surat Edaran Wali Kota di Bulan Muharam, pendekar di Kota Madiun untuk melakukan kegiatan sosial dengan membagikan masker, targetnya 2 juta hingga 3 juta masker,” Ucap Wali Kota Maidi.

Selain pembagian masker, para Pendekar juga melakukan sterilisasi masing-masing. “Penerapan protokol kesehatan seperti penyemprotan disinfektan, pemakaian masker, physical distancing harus menjadi perhatian para Pendekar dan perguruan silat masing-masing,” Lanjut Wali Kota.

Dengan intruksi yang telah dilakukan itu, Wali Kota berharap agar para Pendekar di Kota Madiun tidak menakutkan bagi para pendatang dan para investor yang akan masuk ke Kota Madiun. “Saya tidak rela jika para Pendekar di Kota Madiun selalu merepotkan TNI dan Polri dalam perayaan di bulan Muharam karena berbuat hal yang tidak diinginkan, namun saya berharap para Pendekar menjadi pelindung bagi warga Kota Madiun, para Pendatang dan Calon Investor yang akan masuk ke Kota Madiun, ” Tandas Wali Kota Maidi.

Ketua IPSI dan Pimpinan Perguruan Pencak Silat di Kota Madiun mendukung himbauan agar tidak mengerahkan massa dalam kegiatan Suroan dan Suran Agung tahun ini. (Foto – Yahya)

Menurut Wali Kota, dengan kegiatan sosial yang dilakukan itu menunjukkan aksi para Pendekar yang melindungi warga Kota Madiun dari pandemi Covid 19. “Tunjukkan Pendekar di Kota Madiun memiliki komunitas yang bermanfaat bagi masyarakat dan tidak merepotkan TNI dan Polri dengan kegiatan yang dilakukan. ” Pungkas Wali Kota Maidi.

Perwakilan dari TNI AU, Kolonel Penerbang Budi Susilo dalam mencegah Covid hendaknya tidak ada kegiatan yang sifatnya mengumpulkan massa.
“Upaya pencegahan Covid 19 sangat penting dilakukan. Beberapa perguruan silat melakukan ritual kenaikan sabuk di bulan Muharam. Jangan sampai ada cluster baru dengan kegiatan yang dilakukan karena penyebaran sangat cepat.” Terangnya.

Sementara dari Kepolisian Daerah Jawa Timur, Kombespol Muhammad Irfan sangat mendukung komitmen para perguruan silat di Kota Madiun yang tidak menggelar kegiatan yang bersifat mengumpulkan masa.

Hadir dalam kesempatan itu jajaran Forkopimda Kota Madiun, Kabupaten Madiun dan perwakilan dari Bakorwil I Madiun ditambah Kabupaten Nganjuk dan Bojonegoro, serta perwakilan dari Persaudaraan Setia Hati Tunas Muda Winongo, PSHT Parluh 16 dan PSHT Parluh 17 yang sepakat tidak menggelar perayaan Suroan dan Suran Agung ditengah Pandemi. (Adv/Yah/Gin).

Peliput : Yahya Ali Rahmawan

Penyunting : Agin Wijaya

Tinggalkan Balasan