PACITANPortalnews MADIUNRAYA

Sebuah bangunan tua yang terletak di pinggir jalan antara Pacitan – Solo menarik perhatian penulis untuk menyambanginya.

Tidak lupa, penulis menghubungi Kepala Desa Sooka Kecamatan Punung yaitu Pak Eko Wahyudi untuk meminta ijin dan sekaligus memintanya untuk menjadi narasumber tentang gedung tua yang terlihat mangkrak tersebut.

Lebih jelasnya bisa disimak di Chanel Youtube Madiunraya TV berikut :

Misteri Eks Gedung Dikbud Kecamatan Punung Kabupaten Pacitan

Menurut Eko Wahyudi yang saat itu didampingi oleh Mas Yuli, warga Baturetno yang merupakan temannya, Gedung tersebut dibangun pada tahun 1986 oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Pacitan.

“Awalnya kehidupan masyarakat disini berjalan normal dan biasa saja, sampai dengan saat Dikbud akan membangun gedung ditempat ini. Sebelumnya ada beberapa pohon besar yaitu Trembesi, Belik atau Sumber Air dan Jalan Setapak yang ada dibelakang gedung ini,” terang Eko, Kamis (12/12/2019).

Setelah pembangunan gedung yang mengakibatkan belik atau sumber air mati, pohon besar di potong dan jalan setapak menjadi buntu, beberapa kejadian janggal terjadi, lanjut Eko Wahyudi.

“Diantaranya Kepala Kantor meninggal dunia secara tidak wajar, setelah itu 4 Kepala Kantor setelahnya juga meninggal dunia dengan tidak wajar, bahkan 2 pegawai kantor juga meninggal dunia dengan tidak wajar juga,” Kata Kades Sooka tersebut.

Setelah beberapa kejadian janggal tersebut, jelas Eko, maka pada tahun 1995 tidak ada pegawai lagi yang berani berkantor ditempat itu. “Akhirnya di tahun 1995 kantor ini dikosongkan dan jadinya mangkrak hingga saat ini atau hampir 25 tahun,” Jelas Eko.

Setelah selama ini kosong dan mankrak, ujar Eko, banyak paranormal yang mengatakan bahwa gedung itu dihuni makhluk astral. “Ini menjadi kerajaan jin di Kecamatan Punung, bahkan menurut salah seorang paranormal, ditempat ini bersemayam Putri Ijo yang merupakan Cucu Nyai Blorong yang memiliki pembantu seorang lelaki tua dan Mbok Rondo, beberapa pengendara yang melewati gedung ini pernah dinunuti oleh mereka dan menghilang saat tiba di Gunung Rondho yang letaknya tidak jauh dari tempat ini,” Ujarnya.

Sampai dengan saat ini, Kata Eko, banyak orang yang mengunjungi tempat tersebut dengan berbagai maksud. “Yang paling banyak adalah mencari peruntungan untuk menebak nomor, atau tujuan yang lain. Mereka membawa Kemenyan, Bunga, Minyak Wangi, Dupa, Mori dan Rokok lalu meminta apa yang mereka butuhkan, biasanya mereka melakukan ritual diruang tengah sebelah kanan, disana ada gundukan yang awalnya saya mengira sebagai tempat rayap, namun gundukan itu terus muncul dan jadilah seperti saat ini, ya pantangan ditempat ini adalah tidak berbuat yang jahat, menjaga lisan kita dan menghormati makhluk lain yang hidup berdampingan dengan kita.” Pungkas Eko Wahyudi.

Sementara menurut Yuli, yang merupakan warga Baturetno, dirinya pernah mengajak 2 orang temannya berkunjung ketempat itu. “Disana saya ditemui dua makhluk yaitu Gendruwo yang rambutnya rewok-rewok dan matanya besar, lalu sosok yang kedua adalah wanita berambut panjang, rambutnya menutupi mukanya, ya kita langsung uluk salam dan tidak mengganggu mereka. Harapan saya adalah gedung ini dibongkar, Mata Air dan Jalan Setapak dihidupkan lagi sehingga mereka tidak terganggu lagi.” Pungkasnya. (Yah/Gin).

Pewarta : Yahya Ali Rahmawan

Redaktur : Agin Wijaya

MADIUN, Madiunraya.com – Apa makna Setia Hati bagi para pendekar? Para Srikandi SH Winongo ini berkenan menceritakan apa makna setia hati bagi para pendekar.

Sebagaimana diketahui, sebanyak 9 ribu pesilat Persaudaraan Setia Hati Winongo (PSHW) dari berbagai daerah memadati kota Madiun Minggu (8/10/2017).

Baca juga: Atraksi Pendekar Sepuh SH Winongo Saat Suran Agung 2017

Mereka ingin merayakan suran agung menuju padepokan sesepuh Kelurahan Winongo Kecamatan Manguharjo.

Selain dari Madiun, datang juga pesilat lain dari luar daerah seperti Ponorogo, Wonogiri, Pacitan, Ngawi bahkan Surabaya dan Malang.

Baca juga: Jurus Mematikan SH Winongo Pencak Tunggal Saat Suran Agung 2017

Seperti apa kata Setia Hati menurt srikandi SH Winongo? Simak dalam video tersebut. Eksklusif di Madiunraya.com.

MADIUN, Madiunraya.com – Sebanyak 9 ribu pesilat Persaudaraan Setia Hati Winongo (PSHW) dari berbagai daerah memadati kota Madiun Minggu (8/10/2017) lalu.

Mereka ingin merayakan suran agung menuju padepokan sesepuh Kelurahan Winongo Kecamatan Manguharjo.

Selain dari Madiun, datang juga pesilat lain dari luar daerah seperti Ponorogo, Wonogiri, Pacitan, Ngawi bahkan Surabaya dan Malang.

Baca juga: Atraksi Pendekar Sepuh SH Winongo Saat Suran Agung 2017

Selain atraksi sabung dari pendekar sepuh SH Winongo, juga ada atraksi pencak tunggal yang ditampilkan pendekar SH Winongo. Seperti apa keseruannya? Simak dalam video tersebut. Eksklusif di Madiunraya.com.

MADIUN, Madiunraya.com – Sebanyak 9 ribu pesilat Persaudaraan Setia Hati Winongo (PSHW) dari berbagai daerah memadati kota Madiun Minggu (8/10/2017). Mereka ingin merayakan suran agung menuju padepokan sesepuh Kelurahan Winongo Kecamatan Manguharjo.

Selain dari Madiun, datang juga pesilat lain dari luar daerah seperti Ponorogo, Wonogiri, Pacitan, Ngawi bahkan Surabaya dan Malang.

Baca juga: Jurus Mematikan SH Winongo Pencak Tunggal Saat Suran Agung 2017

Salah satu atraksi dalam suran agung tersebut adalah atraksi sabung dari pendekar sepuh SH Winongo. Seperti apa keseruannya? Simak dalam video tersebut. Eksklusif di Madiunraya.com.

 

PONOROGO, Madiunraya.com – Ketua IPSI Ponorogo Rahmad Taufik menyampaikan pandangannya terkait SH Terate dan falsafah yang harus dipegang teguh oleh para pendekarnya, jika tidak ingin SH Terate hancur. Dia menyampaikan perlu kembali memahami ajaran SH Terate dengan dalam agar bisa memaknai peersaudaraan. Saat ini menurutnya banyak yang berebut kekuasaan, berebut pengaruh. Sehingga jika itu terjadi, tinggal ditunggu kehancurannya. Simak videonya.

Tidak Ada Postingan Lagi.

Tidak ada lagi halaman untuk dimuat.