Pacitan – Portalnews Madiun Raya

Disangka melakukan korupsi Dana Desa dua orang yang merupakan mantan Kepala Desa di Kabupaten Pacitan ditangkap Polisi.

Mereka adalah WST, mantan Kades Wora Wari, Kecamatan Kebonagung dan SKN, mantan Kades Dersono Kecamatan Pringkuku Pacitan.

Menurut Kapolres Pacitan AKBP Wiwit Ari Wibisono, pihaknya memiliki alat bukti yang cukup untuk menangkap kedua mantan Kepala Desa tersebut.

“SKN yang merupakan mantan Kepala Desa Dersono Kecamatan Pringkuku telah menyelewengkan Dana APBDes Tahun Anggaran 2017. Modusnya tidak melaksanakan kegiatan yang sudah dianggarkan dan menggunakan anggaran desa untuk kepentingan pribadi. Dari tindakan yang bersangkutan, negara di rugikan sekitar 200 juta lebih. ,”ucap AKBP Wiwit Ari Wibisono, saat Pers Release di Mapolres Pacitan, Senin (11/10/2021).

Lebih lanjut Kapolres menyebutkan bahwa Kades Dersono melakukan penyelewengan anggaran untuk penyediaan makanan sehat untuk peningkatan gizi balita dan anak sekolah. “Kemudian anggaran Pelestarian Lingkungan Hidup (Bersih Sungai Maron), Sosialisasi penggunaan Dana Desa, Pelatihan Pengurus Lembaga Kemasyarakatan, Penyelengaraan Musyarawah Desa, Pembentukan Kader Pemberdayaan Masyarakat Desa, Pelatihan Kader Pemberdayaan Masyarakat Desa, Pelatihan TPK, Pelatihan Pelatihan Industri Kecil, Penyelengaraan Musdes, Serah terima Hasil Pembangunan Desa,”Urai AKBP Wiwit.

Selain itu Kapolres juga menambahkan untuk kegiatan fisik yang tidak di kerjakan oleh tersangka SKN adalah Pembangunan Teras Balai desa Dersono. “Selain itu Renovasi Kantor Desa, Pembuatan Talud Dusun Dondong, Pembuatan MCK Dusun Maron, Pembuatan Tugu batas desa di Dusun Maron, Pembangunan Selokan Lingkungan Pakel Dusun Tati, Pembuatan Gapura batas Desa tiga titik di Desa Dersono Kecamatan Pringkuku,”jelas AKBP Wiwit Ari Wibisono.

Untuk Tersangka WST yang merupakan mantan Kades Wora Wari Kecamatan Kebonagung, disangka melakukan tidak pidana korupsi APBDesa pada tahun Anggaran 2016, 2017 dan 2018. “Yang bersangkutan melakukan tindak pidana korupsi dengan modus tidak melaksanakan kegiatan yang sudah dianggarkan pada tahun 2016 yaitu Pekerjaan pembangunan serambi masjid Dusun Ngrampal Desa Worawari sebesar Rp 20 juta (Bantuan Keuangan), pada tahun 2017  yaitu Penyertaan modal BUMDes Rp 25 juta (Alokasi Dana Desa), Pembuatan tambak udang Rp.50 juta (Dana Desa), Pembangunan talud Dusun Ngrampal Rp30 juta (Bantuan Keuangan). Sementara pada tahun 2018 Pembangunan rabat jalan Dusun Tanggung Rp 30 juta (Bantuan Keuangan), Pembangunan jembatan Dusun Pringkantung Rp 25 juta (Bantuan Keuangan). Negara dirugikani Rp.176, 7 juta,”ungkap AKBP Wiwit.

Kedua tersangka kata Kapolres Pacitan sudah diserahkan ke Kejaksaan Tinggi Jawa Timur untuk proses hukum lebih lanjut.

Dalam kesempatan itu, Kapolres Pacitan berharap agar tidak ada lagi penyelewengan dana desa.

“Dana desa harus efektif dalam penggunaannya. Dana Desa harus tepat sasaran sehingga dapat dirasakan masyarakat desa. Jangan sampai dana desa mampir ke kantong oknum. Jika hal tersebut terjadi, kami tidak segan-segan akan melakukan penindakan.”Pungkas Kapolres Pacitan, AKBP Wiwit Ari Wibisono.

Pacitan – Portalnews Madiun Raya

Destinasi wisata di daerah yang berjuluk 1001 Gua secara resmi masih ditutup untuk pengunjung.

Hal itu disampaikan oleh Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Pacitan, T. Andi Faliandra, Rabu (06/10).

Menurutnya, hal itu berdasarkan dari keputusan Inmendagri No 47 Tahun 2021 tentang PPKM Level 4, 3, 2, dan 1 Covid-19 di Jawa dan Bali. “Saat ini Pacitan masuk dalam kategori level 3. Oleh karena itu, destinasi wisata di Pacitan masih ditutup sementara sampai tgl 18 Oktober 2021,” Ucapnya

KadisparPacitan juga menyebutkan bahwa ketika destinasi wisata nanti dibuka, persyaratan wisatawan yg berkunjung adalah dengan menunjukkan keterangan sudah vaksin melalui aplikasi PeduliLindungi. “Yang kedua dengan tetap mematuhi protokol kesehatan. Infrastruktur untuk itu harus siap, tetapi yang paling penting adalah kesadaran dari seluruh pengunjung, ” Tambah Andi Faliandra.

Kadispar juga meminta agar masyarakat mensukseskan Vaksinasi.”Yuk monggo dulur-dulur yg belum vaksin segera mengikuti vaksin, biar Pacitan makin aman dan wisata bisa dibuka kembali.” Pungkasnya.

Menanggapi hal tersebut, Anang Sastro, warga Ponorogo yang hendak ke Pacitan untuk berwisata menjadi maklum. “Mau bagaimana lagi mas, sebenarnya kami sekeluarga ingin berwisata ke Pantai Pangasan yang baru di buka, namun karena aturan kita menunggu dibuka saja. Tentu keputusan pemerintah dibuat untuk kebaikan dan keselamatan kita. ” Ucapnya melalui sambungan WA. (Yah).

Pacitan – Portalnews Madiun Raya

Diduga mengalami korsleting listrik, sebuah Mobil Box ber Nomor Polisi B-9003-TEZ terbakar bagian mesinnya di RT 07 RW 05 Dusun Ringin Asri Desa Tegalombo Pacitan, sekira pukul 18.15, Selasa (28/09/2021).

Menurut Kapolsek Tegalombo, Iptu Sumarno, Mobil Box tersebut habis mengantar barang dari Gresik ke Pacitan. “Di duga terjadi korsleting listrikdibagian mesin, ada pengemudi satu orang namun tidak ada korban jiwa karena begitu mengetahui ada kebakaran langsung keluar dari Mobilnya,”Ungkap Kapolsek.

Adanya kejadian itu menimbulkan kemacetan sepanjang kurang lebih 2 KM dari arah Pacitan menuju Ponorogo ataupun sebaliknya.

“Begitu ada kejadian langsung menghubungi Pemadam Kebakaran milik Pemkab Pacitan dan datang sekira pukul 19.00 WIB. 1 unit Damkar tiba dan dibantu 1 tangki penyuplai air. Kurang dari setengah jam api berhasil dipadamkan.”Pungkas Kapolsek Tegalombo, Iptu Sumarno.

Sementara menurut warga setempat, Latif, pihaknya terkejut karena tiba-tiba ada mobil box besar yang berhenti tepat didepan rumahnya. “Langsung terbakar dibagian depannya, saya langsung mengamankan mobil yang ada digarasi,”Ucapnya.

Tentang kejadian seperti itu Latif menyampaikan bahwa baru kali ini terjadi kebakaran mobil di lingkungannya. “Baru pertama ini Pak, kaget sekali tadi.”Pungkasnya. (Yah/Gin).

Peliput : Yahya Ali Rahmawan

Penyunting : Agin Wijaya

Pacitan – Portalnews Madiun Raya

Jika ada yang menyebut nama Kampung Inggris maka pikiran kita pasti akan mengarah ke daerah Pare di Kediri. Nama tersebut seakan sudah menjadi Trademark milik daerah tersebut.

Kampung Inggris merupakan tempat untuk melatih kemampuan Bahasa Inggris yang menjadi Bahasa Internasional dengan harapan bisa menjadi expert.

Namun bagi masyarakat Pacitan kini tidak perlu lagi datang jauh-jauh ke Kampung Inggris di Pare, Kediri. Karena di Kota 1001 Gua itu sudah ada Kampung Inggris cabang Pacitan.

Hal itu disampaikan oleh Hari Susilo, S,Kom, Kepala Cabang Kampung Inggris Cabang Pacitan kepada Portalnews Madiun Raya, Jum’at Siang, (10/09/2021).

“Alhamdulillah atas Rohmat Alloh SWT, Home of Language yang merupakan Cabang Kampung Inggris Pare Kediri telah membuka cabang di Kabupaten Pacitan, tepatnya di Lingkungan Ngampel, RT 02 RW 07 Kelurahan Ploso Kecamatan Pacitan, hari ini baru kami Launching,” Ucap Hari Susilo.

Hari juga menambahkan latar belakang dirinya membuka Kampung Inggris tersebut karena sebagai bentuk kepedulian terhadap kemampuan berbahasa inggris generasi muda yang ada di Pacitan. “Sebagai putra daerah, saya asli Tambakrejo Pacitan, saya ingin anak-anak sekolah di sini bisa menguasai Bahasa Inggris dengan baik, apalagi Pacitan merupakan destinasi wisata yang banyak dikunjungi oleh wisatawan asing maka peluang itu harus kita manfaatkan dengan mempersiapkan SDM yang handal terutama kemampuan berbahasa asing yaitu Bahasa Inggris,” Terang Hari Susilo.

Lebih lanjut Hari juga menyampaikan bahwa tenaga pengajar atau Tutor di Kampung Inggris Cabang Pacitan memiliki sertifikasi dari Kampung Inggris dari Pare Kediri. “Jadi tidak asal guru yang bisa mengajar disini. Bahkan nanti dibeberapa kesempatan akan diajar langsung oleh para Bule sehingga lulusan Kampung Inggris di Pacitan bisa sama dengan Kampung Inggris di Pare Kediri,” Ungkap Hari Susilo.

Dengan harga yang terjangkau dan jumlah pertemuan yang ditentukan, Hari optimis penguasaan bahasa inggris di Pacitan akan meningkat bagi siswa yang aktif di Kampung Inggris Cabang Pacitan. “Kami juga akan bekerja sama dengan lembaga pendidikan di Pacitan yang mungkin jauh dari kota untuk membuka kelas disana, tentunya dengan harga yang lebih murah. Nanti tutor kami bisa berkunjung ke lembaga tersebut dengan durasi pertemuan 3 kali seminggu.”Pungkas Hari Susilo. (Yah/Gin).

Peliput : Yahya Ali Rahmawan

Penyunting : Agin Wijaya

Pacitan – Portalnews Madiun Raya

Sudah selama 25 tahun terakhir Pak Sarwan dan Isteri tercintanya membuka Warung Mie Ayam di Jalan Ahmad Yani, tepatnya di seberang Perpustakaan Daerah Kabupaten Pacitan.

Dan selama itu pula, Pak Sarwan tetap mempertahankan tempat dan bumbu Mie Ayamnya sehingga tetap enak hingga saat ini.

“Saya memulai jualan Mie Ayam sejak anak saya berusia 3 tahun mas, dan kini sudah berusia 28 tahun. Cucu saya sudah 2 orang. Dulu saat awal memulai jualan Mie Ayam harganya Rp 7.000 dengan minumnya,”Jelas Bu Sarwan sambil melayani pembeli di kedainya, Jum’at (03/09/2021).

Lebih lanjut Bu Sarwan menceritakan bahwa dirinya dan sang Suami tetap mempertahankan tempat dan bumbunya. “Dari awal ya begini mas, tempatnya ya seperti ini dan tidak ada yang berubah. Resepnya juga kami patenkan dan kami tidak buka cabang karena selain tidak ada tenaganya juga kalau dipegang orang lain rasanya bisa berubah mas,”Ujar Bu Sarwan saat ditanya kenapa tidak membuka cabang ditempat yang lain.

Bu Sarwan tak henti-hentinya bersyukur karena dari kedainya yang sederhana itu bisa menghidupi keluarganya hingga saat ini. “Yang terpenting adalah tetap bersyukur mas, rezeki sudah ada yang mengatur. Yang penting kita usaha dan terus berdo’a. Hanya 2 bulan ini tutup karena Pandemi Covid 19 dan Alhamdulillah kini sudah buka seminggu terakhir.”Pungkas Bu Sarwan.

Sementara menurut salah satu pembeli, Lina, dirinya merasakan Mie Ayam racikan Pak Sarwan sangat lezat. “Biasanya saya tidak habis makan Mie Ayam, namun ini rasanya enak banget, apalagi kalau dikasih Ceker, rasanya Mak Nyuss,” Ucapnya menirukan salah satu pegiat Kuliner Nasional. (Yah/Gin).

Peliput : Yahya Ali Rahmawan

Penyunting : Agin Wijaya

Pacitan – Portalnews Madiun Raya

Nama Bukit Suroloyo sudah tidak begitu asing bagi warga Desa Kasihan Kecamatan Tegalombo Kabupaten Pacitan.

Namun ketika hendak ditanya kepada sebagian besar orang tua disana malah cenderung diam dan menolak untuk menceritakan.

Malah ada larangan untuk pergi ke sana.”Jangan ke sana, bahaya. Dulu warga di sini hilang setelah pergi mengunjungi Bukit Suroloyo itu,” Ungkap salah satu warga yang tidak mau disebutkan namanya.

Namun rasa penasaran penulis terbayarkan setelah nekat mengunjungi bukit yang terletak diantara dua kecamatan di Pacitan yaitu Tegalombo dan Tulakan itu.

Sebelumnya kepada siapapun yang ditemui di jalan, penulis mencoba mengorek tentang apa dan bagaimana Bukit Suroloyo.

“Disana ada Tugu Belanda mas, dulu pasukan Belanda saat mengejar Jendral Sudirman sampai ditempat itu dan mendirikan tugu,” Ucap Rokim, warga Mbunder, Kasihan.

Namun cerita lain disampaikan oleh Yuan, warga Pringapus, bahwa kalau kesana harus hati-hati. “Soalnya ada naga raksasa disana. Kalau malam jadi tempat pertemuan makhluk gaib. Jadi, Bukit Suroloyo ini adalah pintu masuk ke alam lain, kalau tidak tahu jalan pulang maka dia akan hilang selamanya,”Ceritanya dengan mitos yang telah berkembang.

Dengan bekal dua cerita itu, penulis lalu menuju tempat yang disebutkan. Tidak jauh dari Pringapus Dusun Salam Desa Kasihan Kecamatan Tegalombo Pacitan. Hanya setengah kilo meter dan sebagian jalannya baru saja dirabat. Untungnya saat musim kemarau, jalan setelahnya kering sehingga motor penulis bisa dengan lancar sampai di puncak Bukit Suroloyo.

Sepi dan syahdu. Itu kesan pertama saya setelah menginjakkan kaki saya di puncak bukit tersebut.

Kabut yang berlarian dikejar sang bayu pegunungan terasa dingin menyentuh kulit saya yang tidak berjaket.

Namun kesan misterius saya rasakan ketika menatap sebuah tugu yang terbuat dari batu bata dan sebuah pohon kecil di sebelahnya.

Berdasar pengalaman, pohon tersebut merupakan simbol petilasan bahkan mungkin makam para pendahulu kita dimasa lampau.

Dan tugu yang terbuat dari Batu Bata itu juga penulis rasakan menyimpan sejuta cerita di masa lalu. Tugu Belanda, itu sebutan bagi orang-orang yang saya temui.

Secara realistis, karena tempat itu merupakan Puncak Tertinggi diantara dua kecamatan dan 3 desa yaitu Kasihan, Losari dan Ketro Montongan maka, bukan tidak mungkin jika BENAR tentara Belanda memang ke tempat itu untuk mengejar Pasukan Gerilya Jenderal Sudirman, bukankah dulu tidak ada satelit dan belum ada Google yang bisa menembus ruang dan waktu. Dan satu-satunya jalan adalah mencari tempat tertinggi lalu menggunakan teropong melihat sekelilingnya dan tentu saja mereka di bantu oleh Londo Ireng, jika ada.

Jika itu benar maka WAJIB bagi pemerintah setempat untuk membangun tempat itu sebagai WISATA SEJARAH.

Soal mistis, penulis jujur merasa mengkuruk, karena disana sendirian, namun setelah melihat disekelilingnya banyak petani yang sedang beraktivitas, rasa tersebut perlahan hilang.

Dan tentang itu perlu pembuktian yang lebih mendalam. Yang pasti dunia lain itu pasti ada, namun yakinlah mereka tidak akan mengganggu kita karena alamnya sudah lain dan selama kita tidak mengganggu mereka.

Suroloyo, perlu sentuhan dan perlu banyak yang meliput agar tempat tersebut bisa disentuh oleh pembangunan karena potensinya bisa menjadi Wisata Alam, Wisata Sejarah, Wisata Religi dan Wisata Mistis. Empat wisata yang bisa disatukan dan tentu saja bisa menjadi daya bangkit perekonomian setelah Pandemi.

Perlu juga relawan yang tidak perlu dibayar untuk sadar bahwa ada sejarah besar yang ada ditempatnya, lalu membangun tempat itu dan ketika tempat itu sudah maju maka soal bayar membayar akan datang dengan sendirinya. (Yah/Gin).

Peliput : Yahya Ali Rahmawan

Penyunting : Agin Wijaya

Pacitan – Portalnews Madiun Raya

Aktivitas Mujid, seorang aktivis yang juga tokoh pemuda asal Tegalombo Pacitan harus terhenti kurang lebih dua pekan.

Hal itu dikarenakan yang bersangkutan mengalami gejala seperti terkena Covid 19. “Gejalanya mirip dengan Covid 19. Badan meriang, persendian linu dan tidak bisa mencium bau. Untuk itu saya langsung istirahat total di rumah dan melakukan Isolasi Mandiri dengan ketat, semua orang termasuk keluarga, teman saya larang untuk mendekat,”Ucap Mujid kepada Portalnews Madiun Raya, Selasa (01/09/2021).

Lebih lanjut Mujid menceritakan bahwa yang dilakukan pertama kali selain isolasi mandiri dia berusaha tetap tenang semaksimal mungkin. “Yang pertama saya lakukan adalah mengelola pikiran saya, jangan sampai stres dan berpikir yang tidak-tidak karena menurut saya pikiranlah yang akan mengkontrol kita. Jika kita sampai stres maka kesehatan kita akan otomatis menurun, caranya ya banyak, bisa menyibukkan dengan aktivitas seadanya ataupun beribadah se khusyuk mungkin,”Jelas Mujid di kediamannya.

Yang kedua, saat mengetahui nafsu makannya menurun Mujid terus memaksa dirinya untuk makan. “Saya sadar, bahwa saya sangat jijik saat melihat makanan. Namun itu semua saya lawan dengan memaksa untuk makan. Apapun makanannya terlihat sangat tidak enak, namun saya bertekad agar semua bisa berakhir dengan makan. Akhirnya saya paksa untuk makan dan minum. Walaupun mau muntah, saya tetap memaksa memasukkan makanan ke dalam tubuh saya,”lanjut Mujid.

Dengan kedua langkah tersebut akhirnya Mujid merasakan gejala mirip Covid 19 yang dideritanya itu bisa hilang setelah kurang lebih dua pekan dirinya melakukan Isolasi Mandiri. “Alhamdulillah kini saya semakin sehat, sudah tidak meriang, linu dan sudah bisa mencium bau seperti semula. Jadi menurut saya, yang terpenting kalau terjadi sesuatu pada diri kita, langkah pertama janganlah panik. Tetap tenang dan berpikir jernih, bahwa ada penyakit ada pula obatnya. Yang terpenting lagi ada Alloh SWT, kepada Nya lah kita meminta segala sesuatu, termasuk kesehatan, keselamatan dan umur panjang.”Pungkas Mujid. (Yah/Gin).

Peliput : Yahya Ali Rahmawan

Penyunting : Agin Wijaya

Tidak Ada Postingan Lagi.

Tidak ada lagi halaman untuk dimuat.