,

Ponorogo, MADIUNRAYA.com
Profesor Hamy Wahjunianto, anggota Tim Pengusul Reog sebagai Warisan Budaya Tak Benda (Intangible Cultural Heritage/ICH) ke United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization (UNESCO) menilai Mas Menteri Nadiem Makarim melanggar Petunjuk Pelaksanaan konvensi ICH UNESCO.

Hal itu disampaikan Prof Hamy kepada pewarta, Ahad (10/04) di Pringgitan Ponorogo.

“Dalam petunjuk operasional ICH UNESCO (Operational Directive for the Implementation of the Convention for the Safeguarding of the Intangibel Cultural Heritage, 2020) terdapat 3 prioritas dalam menentukan berkas usulan ICH UNESCO,” ucapnya.

Kelompok Prioritas yang pertama adalah berkas dari negara yang belum pernah sama sekali memiliki elemen yang terinkripsi, praktik pelindungan terbaik yang terpilih atau yang mendapatkan bantuan internasional lebih dari US$ 100.000 dan berkas nominasi yang masuk dalam daftar warisan budaya tak benda yang membutuhkan pelindungan mendesak.

“Kelompok Prioritas kedua adalah berkas usulan multinasional. Kelompok Prioritas ketiga adalah berkas usulan yang berasal dari negara pengusul yang memiliki warisan budaya yang terinkripsi paling sedikit dan memiliki praktik baik,” jelas Prof Hamy.

Reog Ponorogo menjadi satu-satunya warisan budaya yang masuk dalam prioritas pertama yang diusulkan dalam berkas usulan daftar warisan budaya tak benda yang membutuhkan pelindungan mendesak (form ICH-01), sementara warisan budaya yang lain tidak masuk dalam prioritas tersebut.

“Pengusulan dalam berkas pelindungan mendesak dipilih karena dalam masa pandemi seni pertunjukan Reog Ponorogo mengalami keterancaman yang nyata. Turunnya minat dan terbatasnya ruang berkesenian serta sulitnya mencari bahan baku pembuatan alat kesenian Reog Ponorogo menjadi situasi yang harus dihadapi oleh komunitas Reog Ponorogo di berbagai wilayah. Kondisi terancam punah ini membutuhkan perhatian dan dukungan pemerintah untuk bisa mengaktifkan kembali kesemarakan seni pertunjukan Reog.”Pungkas Profesor Hamy Wahjunianto. (yah/sof)

,

Ponorogo, MADIUNRAYA.com

Mak Yuli Roma, biasa orang memanggilnya. Dia adalah Biyunge Jaranan di Ponorogo.

Namun ketika mendengar Reyog Ponorogo dikalahkan oleh Jamu yang akan diusulkan ke ICH UNESCO sebagai Warisan Budaya Dunia, dia ikut turun gunung.

Dia bergabung dengan ratusan Seniman Reyog Ponorogo yang malam itu menggelar aksi pertunjukkan sebagai upaya agar Kemendikbudristek RI merubah keputusannya dan juga diakui eksistensinya di dunia internasional.

Bahkan yang biasanya Mecut Jaranan saat pembukaan kesenian yang digelutinya ataupun menyadarkan pemain yang sedang kerasukan, Mak Yuli Roma turut serta menari Bujangganong.

Tanpa ragu, dia memakai topeng Bujangganong dan segera menggerakkan tubuhnya mengikuti irama gamelan Reyog yang saat itu sedang bersemangat ditabuh agar didengar alam semesta dan diakui Seni Reyog adalah milik Ponorogo, Indonesia.

Gemuruh suara penontong yang juga lantang berteriak bahwa Reyog adalah milik kami, juga menambah spirit bagi wanita yang selama ini menggeluti dunia jaranan itu.

“Reog adalah warisan seni budaya yg memiliki nilai Adhi luhung.  Bahkan menjadi jati diri Bumi Ponorogo,” ucap Mak Yuli Roma

Lebih lanjut, Biyunge Jaranan Ponorogo itu menyebutkan bahwa Ponorogo surganya dan gudangnya para seniman.

“Pelaku pecinta pandemen Seni Reyog, ayo kita jaga warisan leluhur yang tiada tara nilainya ini,” Tambah Mak Yuli Roma.

Dia juga mengatakan bahwa Reyog adalah milik Warga Ponorogo dan Warga Indonesia tanpa kecuali.

“Ini adalah milik kita. Lalu siapa lagi yang akan mempertahankan kalau bukan kita ..Save Reog ponorogo Salam Budaya.” Pungkas Mak Yuli Roma. (yah/gin).

Peliput : Yahya Ali Rahmawan

Penyunting : Agin Wijaya

Tidak Ada Postingan Lagi.

Tidak ada lagi halaman untuk dimuat.