,

Setelah Reog, Ponorogo Berpotensi Masuk Jaringan Kota Kreatif Dunia Milik UNESCO

oleh -Dibaca oleh : 30686 Pemirsa
Bupati Sugiri Sancoko targetkan Reog dan Kota Ponorogo diakui UNESCO sehingga meningkatkan jumlah Wisatawan
Bupati Sugiri Sancoko targetkan Reog dan Kota Ponorogo diakui UNESCO sehingga meningkatkan jumlah Wisatawan

Ponorogo, MADIUNRAYA.com
Setelah Seni Reog Ponorogo yang terus diperjuangkan menjadi Intangible Cultural Heritage/ICH atau Warisan Budaya Tak Benda ke UNESCO, kini Kota Ponorogo juga berpotensi menjadi jaringan kota kreatif dunia, juga milik UNESCO (United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization) .

Hal itu terlihat saat Tim uji petik Penilaian Mandiri Kabupaten Kota Kreatif Indonesia (PM3KI) Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) merekomendasikan seni pertunjukan reog sebagai lokomotif penggerak ekonomi kreatif di Ponorogo.

Menurut Ramalis Subadi, ketua tim uji petik PM3KI menyatakan bahwa Seni pertunjukan Reog sudah ada sejak sejak abad ke-15 lampau.

Hal itu terus berlangsung dan berkelanjutan hingga sekarang ini. Di Ponorogo kini ada 365 paguyuban reog dengan anggota masing-masing sebanyak 60 orang.

“Itu artinya ada serapan tenaga kerja sebanyak 24.840 orang dengan omzet tahunan sebesar 5,4 miliar rupiah,” Ucap Ramalis Subadi, Kamis (14/4/2022).

Ramalis berharap Reog juga ikut mengantarkan Ponorogo menjadi bagian UCCN. Apalagi, ada seni kriya yang mengikuti pertunjukan reog. Mulai kerajinan ganongan, gamelan, rengkek, rakap, caplokan, dan ekek. Ada juga batik khas Ponorogo bermotif reog.

‘’Dari 273 pelaku seni kriya itu, dalam setahun beromzet sebesar 6,4 miliar rupiah,’’ jelasnya.

Tim juga mengungkap keistimewaan kuliner sate ayam Ponorogo yang memiliki keistimewaan potongan daging, marinasi bumbu, dan kecap. Kluster sate ayam di Ponorogo berada di Kelurahan Nologaten, Sentono, dan Kelurahan Purbosaman dengan omzet mencapai Rp 100 juta per bulan.

“Seni pertunjukan reog, kriya, dan sate ayam membuka membuka peluang untuk Ponorogo berjejaring dengan kota-kota kreatif lainnya di dunia. Harapannya dapat berkolaborasi bersama memajukan ekonomi kreatif Indonesia,’’ papar Ramalis.

Hasil uji petik PM3KI dibacakan Ramalis di depan Wakil Bupati Ponorogo Lisdyarita di Pendapa Kabupaten, Kamis (14/4). Bunda Rita –sapaan Lisdyarita—berharap dua predikat didapat sekaligus.

Yakni, reog masuk daftar warisan budaya tak benda (intangible cultural heritage/ICH) bersamaan Ponorogo menjadi bagian UCCN.

“Dampaknya pasti pada peningkatan kesejahteraan masyarakat,” ungkap Bunda Rita.

Sementara Kang Bupati Sugiri Sancoko meminta dukungan dari semua lapisan masyarakat agar selain Reog Ponorogo, Kota Ponorogo juga berhasil menjadi jaringan kota kreatif dunia, juga milik UNESCO (United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization).

“Kita semua terus berupaya, baik lahir maupun batin agar Reog Ponorogo dan Kota Ponorogo menjadi maju dengan diakuinya Reog oleh UNESCO sebagai Warisan Budaya Tak Benda dan kota kita tercinta bisa terkenal dan banyak wisatawan karena menjadi jaringan kota kreatif dunia milik UNESCO.” Ucap Kang Bupati Sugiri Sancoko. (yah/gin).

Peliput : Yahya Ali Rahmawan

Penyunting : Agin Wijaya

Tinggalkan Balasan

No More Posts Available.

No more pages to load.