,

Lebih memilih Jamu, Nadiem Makarim dinilai melanggar Petunjuk Pelaksanaan konvensi ICH UNESCO

oleh -Dibaca oleh : 30292 Pemirsa
Prof Hamy Wahjunianto menilai keputusan Kemendikbudristek yang lebih memilih Jamu tidak transparan dan melanggar Petunjuk Pelaksanaan konvensi ICH UNESCO
Prof Hamy Wahjunianto menilai keputusan Kemendikbudristek yang lebih memilih Jamu tidak transparan dan melanggar Petunjuk Pelaksanaan konvensi ICH UNESCO

Ponorogo, MADIUNRAYA.com
Profesor Hamy Wahjunianto, anggota Tim Pengusul Reog sebagai Warisan Budaya Tak Benda (Intangible Cultural Heritage/ICH) ke United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization (UNESCO) menilai Mas Menteri Nadiem Makarim melanggar Petunjuk Pelaksanaan konvensi ICH UNESCO.

Hal itu disampaikan Prof Hamy kepada pewarta, Ahad (10/04) di Pringgitan Ponorogo.

“Dalam petunjuk operasional ICH UNESCO (Operational Directive for the Implementation of the Convention for the Safeguarding of the Intangibel Cultural Heritage, 2020) terdapat 3 prioritas dalam menentukan berkas usulan ICH UNESCO,” ucapnya.

Kelompok Prioritas yang pertama adalah berkas dari negara yang belum pernah sama sekali memiliki elemen yang terinkripsi, praktik pelindungan terbaik yang terpilih atau yang mendapatkan bantuan internasional lebih dari US$ 100.000 dan berkas nominasi yang masuk dalam daftar warisan budaya tak benda yang membutuhkan pelindungan mendesak.

“Kelompok Prioritas kedua adalah berkas usulan multinasional. Kelompok Prioritas ketiga adalah berkas usulan yang berasal dari negara pengusul yang memiliki warisan budaya yang terinkripsi paling sedikit dan memiliki praktik baik,” jelas Prof Hamy.

Reog Ponorogo menjadi satu-satunya warisan budaya yang masuk dalam prioritas pertama yang diusulkan dalam berkas usulan daftar warisan budaya tak benda yang membutuhkan pelindungan mendesak (form ICH-01), sementara warisan budaya yang lain tidak masuk dalam prioritas tersebut.

“Pengusulan dalam berkas pelindungan mendesak dipilih karena dalam masa pandemi seni pertunjukan Reog Ponorogo mengalami keterancaman yang nyata. Turunnya minat dan terbatasnya ruang berkesenian serta sulitnya mencari bahan baku pembuatan alat kesenian Reog Ponorogo menjadi situasi yang harus dihadapi oleh komunitas Reog Ponorogo di berbagai wilayah. Kondisi terancam punah ini membutuhkan perhatian dan dukungan pemerintah untuk bisa mengaktifkan kembali kesemarakan seni pertunjukan Reog.”Pungkas Profesor Hamy Wahjunianto. (yah/sof)

Tinggalkan Balasan

No More Posts Available.

No more pages to load.