Trenggalek Doa Bersama dan Bersama Melawan Terorisme

oleh

Reporter : Tatang Dahono

Trenggalek – Portal Madiun Raya
Doa bersama untuk bangsa, bersama melawan terorisme, di simpang tiga Tugu Pancasila, diikuti oleh Pemerintah daerah, Sipil, TNI/POLRI, Organisasi Politik, Organisasi Masyarakat, Organisasi Kepemudaan, Awak Media, Mahasiswa, Pelajar (16/5) dan bersama seluruh tokoh lintas agama.

Plt Bupati H. Moch Nur Arifin dalam orasinya menyatakan bahwa dulu di Surabaya pada tanggal 10 November 1945, ada pemuda yang bernama Bung Tomo berkata, “selama banteng banteng Indonesia masih memiliki darah merah, dan bisa membikin secarik kain putih, menjadi merah dan putih, selama itu bangsa Indonesia, tidak akan pernah menyerah kepada siapapun juga”,kata Gus Ipin, berapi api.

Tetapi masalahnya, yang sedang bertarung sekarang ini, yang sedang dituding, yang sedang berdarah’ darah, Bukan kita saat ini menghadapi penjajah.

“Tetapi saat ini kita menghadapi saudara kita sendiri, menghadapi saudara sebangsa. Tetapi jangan buru buru dituduh, saudara kita yang meledakan diri itupun, juga korban dari kebiadaban para pengecut pengecut, yang ingin memecah persatuan yang memanfaatkan saudara saudara kita yang belajar agama, tetapi disesali dengan doktrin doktrin yang salah”,lanjut Gus Ipin.

Karena itu kita berkumpul di Tugu Pancasila ini untuk menunjukan solidaritas. Kita tidak ingin dipecah belah, karena itu kita dukung polisi dan TNI, ucapnya bersemangat.

“Saya sedih ada bom dikatakan presiden nya lemah, ada bom ini pengkhianat nya DPR – RI karena undang undang anti terorisme belum disyahkan , ada bom ini setinganya Polri. Kita sekarang sudah masuk dalam jurang perpecahan yang begitu dalam, karena itu saya berharap kita saling percaya”,urai Gus Ipin.

Karena teror yang sebenarnya adalah, ketika kita saling tidak mempercayai satu sama yang lain. Mari satukan langkah teman teman, mari nyalakan lilin sebagai bentuk solidaritas, Semoga dengan gerakan ini kita semakin kompak menjaga persatuan dan kesatuan bangsa. Kita kutuk para pengecut itu yang mencoreng nama agama, harap Arifin.

Setelah orasi dilanjutkan doa lintas agama, dimulai dari agama Hindu, Budha, Kristen Katolik dan Islam.

Acara di akhiri dengan tanda tangan bersama sebagai bentuk komitmen bersama melawan melawan teror. (Ono/gin)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *