Duh, Nilai UN SMA/SMK di Jatim Turun Dibanding Tahun 2017

oleh

SURABAYA, Madiunraya.com – Nilai ujian nasional (UN) untuk tingkat SMA/SMK/MA di Jawa Timur mengalami penurunan secara signifikan jika dibandingkan nilai UN pada tahun lalu.

Kepala Dinas Pendidikan Jawa Timur Rachman usai pembagian Daftar Kolektif Hasil Ujian Nasional (DKHUN) di Surabaya, Rabu mengatakan, penurunan itu dilihat dari presentase siswa yang mendapat nilai di bawah 55 yang mencapai 78,88 persen atau meningkat dari tahun lalu yang hanya 55,41 persen.

“Untuk jenjang SMK, siswa yang mendapat nilai di bawah 55 mencapai 174.283 dari 220.958 siswa. Tahun kemarin yang di bawah 55 mencapai 110.316 siswa,” kata Saiful.

Untuk jenjang SMA , siswa yang mendapat nilai di bawah 55 mencapai 146.183 dari 172.105 siswa. Dengan demikian persentase siswa yang mendapat nilai di bawah 55 mencapai 85,30 persen, meningkat dari tahun lalu yang hanya 85,13 persen.

Sementara untuk MA, persentase siswa yang mendapat nilai di bawah 55 mencapai 96,34 persen, meningkat dari tahun lalu sebesar 95,41 persen. Tahun ini siswa yang mendapat nilai di bawah 55 mencapai 95.980 dari 100.237 siswa.

“Nilai di bawah 55 bisa membengkak seperti ini jumlahnya berarti ada yang salah. Apakah guru sudah tidak bekerja maksimal atau bagaimana,” kata dia.

Dengan anjloknya nilai UN jenjang SMA/SMK/MA di Jatim, Saiful berencana melakukan mutasi guru dalam kota supaya guru bisa memulai sistem pembelajaran baru di lingkungan baru.

“Kalau bisa gurunya dipindah dari satu sekolah ke sekolah lain, jadi tidak ada guru yang manja. Semua harus berjuang lagi,” ucapnya.

Dia menilai, banyaknya siswa yang mendapat nilai kurang dari 55 ini tak lepas dari rata-rata nilai per mata pelajaran yang juga menurun. Khususnya pada MA dan juga SMK yang selama ini menjadi andalan Jatim.

Selain itu, dia juga berinisiatif agar sekolah kembali melakukan peningkatan kompetensi guru. Hal ini dilakukan dengan mengundang dosen-dosen dari Universitas Airlangga (Unair) Surabaya ataupun Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya.

“Hal ini harus dilakukan untuk menyikapi hasil UN yang anjlok seperti sekarang,” ujarnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *