Goodwill Penguasa dan Kebesaran Jiwa Masyarakat, Kunci Persatuan dan Kesatuan Bangsa

oleh
Para petani menggelar upacara bendera di sawah. (Foto: YAR/Madiunraya.com)

Oleh : Dr Drs Muhammad Fajar Pramono, M.Si*

Indonesia dan Kebhinekaan ibarat dua sisi mata uang yang menyatu, tidak ada Indonesia tanpa kebhinekaan. Kebhinekaan Indonesia adalah keniscayaan yang sudah berlangsung sejak jaman dahulu sampai dengan saat ini.

Selama 72 tahun Indonesia merdeka membuktikan bahwa kesepakatan untuk bersatu dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia menjadi solusi atas kebhinekaan yang ada untuk hidup bersama antar sesama anak bangsa.

Dari hal tersebut, perbedaan Suku, Agama, Ras dan Antar Golongan bukan lagi hal yang patut kita bahas, namun bagaimana merawat kebhinekaan secara nasional atau menyeluruh demi terwujudnya Persatuan dan Kesatuan Bangsa menuju kejayaan Bangsa Indonesia.

Merawat kebhinekaan yang paling dasar atau fundamental adalah kebesaran jiwa seluruh warga negara untuk sepakat hidup bersama dalam NKRI dengan Pancasila sebagai dasar negara.

Yang kedua adalah Goodwill atau keinginan yang baik dari penguasa dari pusat hingga daerah untuk mengelola organisasi ditingkatannya masing masing dengan jiwa patriotik.

Sifat mengutamakan kewajiban dari menuntut hak, mengutamakan kepentingan berbangsa dan bernegara daripada kepentingan pribadi dan golongan menjadi kunci menghindari pelanggaran, saling menghargai dan menghormati serta saling memahami antara minoritas dengan mayoritas memiliki peran meniadakan gesekan.

Jika ada sinergi antara penguasa dan warga negara maka dapat kita pastikan kejayaan bangsa akan menjelang.

Permasalahan di Indonesia saat ini adalah perebutan kekuasaan dengan politik diberbagai tingkatan. Secara garis besar Indonesia menjadi rebutan kepentingan antar negara adikuasa dan negara maju yang mana mereka masuk dalam tataran politik nasional.

Namun walaupun begitu, selama pengelola negara kembali kepada Pancasila dan UUD tahun 1945 serta masyarakat mengamalkan Pancasila maka kekuatan asing tidak akan meruntuhkan keberlangsungan NKRI sampai dengan kapanpun.

Menjadi tugas kita bersama sesuai dengan tugas dan kewenangan kita untuk terus menggaungkan pilar kebangsaan kita yaitu Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Kebhinekaan.

Perbedaan atau kebhinekaan adalah kekayaan untuk saling melengkapi dan menyempurnakan, itu yang harus kita pahami.

Lembaga Keagamaan sekelas Nahdlatul Ulama memiliki Batsul Masail untuk membahas perbedaan yang ada di intern mereka, tidak kalah Muhammadiyah juga memiliki Lembaga Tarjih untuk membahas hal serupa.

Saya yakin semua organisasi atau lembaga yang ingin terus berjalan memiliki hal yang sama untuk mengatasi perbedaan atau kebhinekaan guna berjalan sesuai dengan visi dan misinya.

Indonesia memiliki lembaga legislatif diberbagai tingkatan untuk membahas permasalahan yang diantaranya karena perbedaan pendapat untuk diambil solusi terbaik.

Namun sekali lagi kembali kepada Goodwill dari penguasa untuk berbuat terbaik demi kepentingan bersama dan jiwa besar dari masyarakat untuk bertahan dan maju dengan keberagaman atau kebhinekaan yang disatukan oleh idealisme berbangsa dan bernegara melalui Pancasila.

Apalagi menjelang tahun politik 2018, dimana ada banyak pemilihan kepala daerah, tahun 2019 ada pemilu legislatif dan  pemilihan presiden. Hendaknya perbedaan pilihan tidak menjadikan kita menjadi terkotak kan.

Benar kata Presiden Jokowi, saat pemilu, coblos sesuai hati nurani, pulang dan dukung yang menang.

Jangan sampai perbedaan pilihan menjadikan kita saling bermusuhan selama bertahun-tahun, itulah sisi jiwa besar sebagai Warga Negara Indonesia.

*Penulis adalah Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Universitas Darussalam Gontor Ponorogo

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *