BNPB Prioritaskan Program PRB di 136 Kabupaten/Kota

oleh
Apel 1000 relawan di Pacitan. (Foto: Humas Pemkab Pacitan)

PACITAN, Madiunraya.com – Direktur Pengurangan Resiko Bencana Deputi Pencegahan dan Kesiapsiagaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Lilik Kurniawan, Sabtu (4/11/2017) di Pacitan mengatakan bahwa sebanyak 136 kabupaten/kota di Indonesia menjadi daerah prioritas program pengurangan risiko bencana.

“Secara nasional ada 136 kabupaten/kota menjadi prioritas program sampai tahun 2019,”katanya saat memberikan arahan dalam Apel 1.000 Relawan Sekolah Laut 2017 di Lapangan Pancer Timur, Desa Kembang, Pacitan.

Dia mengatakan bahwa dasar penetapan prioritas karena daerah-daerah itu menjadi kawasan pusat pertumbuhan ekonomi nasional dan berada pada kawasan rawan bencana. “Sehingga kita harus melindungi daerah-daerah itu dari ancaman bencana,” jelasnya.

Salah satu daerah yang menjadi program PRB tersebut adalah Pacitan, karena potensi ancamannya beragam, aik faktor geologi dan ancaman tsunami, maupun terkait hidrologi.

“Sehingga BNPB membuat program Sekolah Sungai, Sekolah Laut, dan Sekolah Gunung, hari ini kita melakukan upaya proteksi terhadap masyarakat pesisir. Salah satunya dengan menanam mangrove,” ujarnya.

Sebelumnya, Guru Besar Universitas Pertahanan (Unhan) Syamsul Maarif juga menyebut ratusan daerah di Indonesia masuk kategori rawan bencana alam. Daerah rawan bencana tersebut terbagi menjadi rawan gempa bumi, tsunami, erupsi gunung api, banjir dan tanah longsor.

“Peta bahaya gempa bumi di Indonesia 411 kabupaten/kota berada di daerah bahaya sedang-tinggi dari gempa bumi di Indonesia, 218,2 juta penduduk terpapar oleh bahaya sedang-tinggi dari gempa,”katanya saat  menyampaikan materi pada diskusi bertema “Strategi Pemberdayaan Masyarakat Pesisir Dalam Rangka Gerakan Pengurangan Risiko Bencana Melalui Sekolah Laut” di pendopo Kabupaten Pacitan, Jum’at (3/11/2017) malam.

Untuk itu, kata Syamsul, perlu adanya usaha untuk mengantisipasi apabila bencana terjadi sehingga meminimalisir korban akibat bencana dalam rangka mencegah dan menghindari berbagai bencana.

“Perlu adanya kerjasama antara pemerintah, swasta dan masyarakat /komunitas secara terpadu dan terkoordinasi sehingga penanganan bencana dapat dilaksanakan secara maksimal dengan adanya gerakan pengurangan risiko bencana,”tukasnya.

Hal itu, kata Syamsul, diharapkan dapat meningkatkan kesadaran membawa semangat kebersamaan kesetiakawanan sosial gotong royong yang baik sehingga menjadi nilai budaya di masyarakat dalam pengelolaan risiko bencana diwilayahnya masing-masing.

Hadir dalam agenda apel tersebut Syamsul Ma’arif Guru besar menejemen bencana UNHAN, Lilik Kurniawan Direktur Pengurangan Resiko Bencana Deputi Pencegahan dan Kesiapsiagaan BNPB, Pingki Hidayati Kasi Pencengahan dan kesiapsiagaan BPBD Provinsi Jatim.

Juga hadir Letkol Inf Jerm Ratu Edo Kasrem 081/Dsj Madiun, Ketua TP PKK Luki Indartato, Wakil Bupati Yudi Sumbogo, Sekda Suko Wiyono, Letkol Kav Aristoteles Hengkeng Nusa Lawitang Dandim 0801/ Pacitan, Mayor Inf Edi Maryono Pasilat Rem 081 /Dsj, Mayor Inf Sigit Dwi Untoro Kasdim 0801/ Pacitan

Turut hadir juga Suharyanto Kakesbangpol Pacitan, Ratna Budiono Sekretaris BPBD Pacitan, Pujono Kabid logistik BPBD Pacitan, Dianita Kasi Pencengahan dan kesiapsiagaan BPBD Pacitan, peserta latihan Kodim 0801/ Pacitan dan masyarakat Desa Sirnoboyo dan Desa Kembang. (MR01)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *