Pilkada Tulungagung: Margiono Akui Kalah Populer Dibanding Petahana

oleh

TULUNGAGUNG, Madiunraya.com – Bakal Calon Bupati Tulungagung Margiono mengakui dirinya masih kalah populer dibanding pasangan calon petahana yang telah menjabat hampir lima tahun sebagai Bupati dan Wakil Bupati Tulungagung, Jawa Timur selama satu periode mulai 2013-2018.

“Survei baru sekali kami lakukan, pada awal September. Dan hasilnya, kalah saya sama Pak Syahri (calon petahana),” kata Margiono saat dikonfirmasi wartawan di Tulungagung, Minggu (5/11/2017).

Penjelasan lebih utuh disampaikan saat Margiono bersama koaliasi partai politik non-PDIP menggelar dialog dan ramah tamah dengan komunitas pekerja media di Tulungagung, Sabtu (4/11) malam di Hotel Crown Victoria Hotel.

Dalam penjelasannya, Margiono lugas mengakui hasil survei tersebut tidak menguntungkan bagi pencalonannya dalam bursa Pilkada Tulungagung 2018.

Syahri Mulyo disebut Margiono memiliki tingkat popularitas sekitar 70 persen, sementara dirinya hanya 50 persen.

Dari segi elektabilitas Margiono juga mengakui masih kalah telak dengan selisih hampir dua kali lipat atau 100 persen.

“Saya agak lupa detail angka surveinya, kalau tidak salah Pak Syahri elektabilitas sekitar 40 persen dan saya baru sekitar 20-an persen. Namun kata survei juga, masyarakat (Tulungagung) yang menghendaki pemimpin baru mencapai 70 persen,” paparnya.

Kendati masih tidak seimbang, Margiono mengaku tidak ciut nyali. Survei yang dilakukan Pusdeham, lembaga survei dari Universitas Airlangga mengungkap fakta hanya ada dua nama yang mungkin bertarung dalam bursa Pilkada Tulungagung 2018, yakni petahana Syahri Mulyo melawan Ketua Umum PWI Margiono.

Ia dua kali mengatakan optimistis selisih suara tersebut bisa dia lampaui, atau setidaknya dia seimbangkan dengan melakukan sosialisasi secara masif dan merata di seluruh pelosok daerah di Tulungagung.

“Saya mulai melakukan sosialisasi baru pada 1 Agustus (2017) dan survei dilakukan awal September. Rentang waktu satu bulan dilakukan survei dan hasilnya (masih) kalah, itu wajar. Sementara calon ‘incumbent’ sudah melakukan sosialisasi selama lima tahun dia menjabat, dan semakin aktif melakukan pendekatan kepada masyarakat,” ujarnya.

Kini, setelah genap tiga bulan lebih melakukan sosialisasi pencalonannya ke daerah-daerah melalui berbagai kegiatan, alat peraga, dan berbagai sarana lain termasuk melalui jaringan mesin politik parpol koalisi pendukung pencalonannya, Margiono berencana melakukan survei lanjutan atau kedua.

“Mulai 5 November ini rencananya lembaga survei yang ditunjuk koalisi akan melakukan survei kedua dan diharapkan pada pertengahan bulan ini hasilnya sudah keluar,” tuturnya.

Margiono mengatakan percaya diri dengan hasil survei kedua yang segera berjalan. “Menurut saya, menurut saya lho, saya optimis. Survei saya (kedua ini) menang dari Pak Syahri, menurut saya. Kalau toh tidak menang, (kira-kira) sama lah hasilnya kalaupun ada selisih sedikit,” ucapnya.

Margiono saat ini gencar melakukan kampanye ke pelosok kecamatan dan desa-desa melalui berbagai kegiatan yang melibatkan pembiayaan cukup besar.

Direktur Utama Harian Rakyat Merdeka yang masih di bawah payung perusahaan Jawa Pos Grup itu bahkan tak segan “menyebar” uang jutaan, memberi hadiah atau sekadar “door prize” dalam kegiatan tertentu dengan nominal harga besar, demi mencari simpati dan perhatian masyarakat Tulungagung.

Margiono mengakui tidak segan mengeluarkan uang ratusan juta hingga miliaran rupiah sejauh ini demi memaksimalkan ihtiar sosialisasinya untuk maju bursa Pilkada Tulungagung, senyampang belum masuk masa kampanye dan belum ada penetapan calon dari KPU Tulungagung sehingga tidak ada aturan yang mengikat dan dia langgar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *