Guru Besar Unhan: Ratusan Daerah di Indonesia Rawan Bencana

oleh
Tim SAR melakukan pencarian korban longsor Ponorogo. (Foto: BPBD Ponorogo)

PACITAN, Madiunraya.com – Guru Besar Universitas Pertahanan (Unhan) Syamsul Maarif menyebut ratusan daerah di Indonesia masuk kategori rawan bencana alam. Daerah rawan bencana tersebut terbagi menjadi rawan gempa bumi, tsunami, erupsi gunung api, banjir dan tanah longsor.

“Peta bahaya gempa bumi di Indonesia 411 kabupaten/kota berada di daerah bahaya sedang-tinggi dari gempa bumi di Indonesia, 218,2 juta penduduk terpapar oleh bahaya sedang-tinggi dari gempa,”katanya saat  menyampaikan materi pada diskusi bertema “Strategi Pemberdayaan Masyarakat Pesisir Dalam Rangka Gerakan Pengurangan Risiko Bencana Melalui Sekolah Laut” di pendopo Kabupaten Pacitan, Jum’at (3/11/2017) malam.

Selain itu, Syamsul yang juga mantan Ketua Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) ini mengatakan bahwa 200 kabupaten/ kota berada di daerah bahaya sedang-tinggi dari tsunami di Indonesia dengan jumlah 4,8 juta penduduk terpapar oleh bahaya sedang-tinggi dari tsunami.

“Untuk bencana erupsi,  di Indonesia terdapat 127 gunungapi aktif (13% gunungapi didunia), 75 kabupaten/ kota berada di daerah bahaya sedang-tinggi dari erupsi gunungapi di Indonesia, 3,85 juta penduduk terpapar oleh bahaya sedang-tinggi,”ungkapnya Purnawirawan Angkatan Darat yang juga pendiri lembaga riset bencana Pusat Penelitian dan Pelatihan Indonesia Tangguh (Pusppita) itu.

Sementara, Syamsul juga menyebut bahwa 315 kabupaten/ Kota berada di daerah bahaya sedang-tinggi dari banjir di Indonesia, 60,9 juta penduduk terpapar oleh bahaya sedang-tinggi dari banjir, 274 kabupaten/ kota berada di daerah bahaya sedang-tinggi dari longsor di Indonesia.

Untuk itu, kata Syamsul, perlu adanya usaha untuk mengantisipasi apabila bencana terjadi sehingga meminimalisir korban akibat bencana dalam rangka mencegah dan menghindari berbagai bencana.

“Perlu adanya kerjasama antara pemerintah, swasta dan masyarakat /komunitas secara terpadu dan terkoordinasi sehingga penanganan bencana dapat dilaksanakan secara maksimal dengan adanya gerakan pengurangan risiko bencana,”tukasnya.

Hal itu, kata Syamsul, diharapkan dapat meningkatkan kesadaran membawa semangat kebersamaan kesetiakawanan sosial gotong royong yang baik sehingga menjadi nilai budaya di masyarakat dalam pengelolaan risiko bencana diwilayahnya masing-masing.

“Berdampingan dengan potensi bencana menjadi kebiasaan hidup masyarakat Pacitan, letak geografis kabupaten Pacitan berada dan berhadapan langsung dengan pesisir Selatan pulau Jawa dimana daerah tersebut merupakan bagian dari lempeng aktif dunia merupakan daerah yang sangat rawan akan potensi terjadinya bencana alam, baik bencana banjir, bencana tanah longsor, gempa bumi, gelombang pasang tsunami bencana kebakaran maupan kekeringan,”jelas Syamsul.

Dengan letak geografis dan kondisi alam seperti itu, kata Syamsul, sudah seharusnya wajib selalu berikhtiar serta berusaha keras dalam mengantisipasi dan menghindari kemungkinan terjadinya berbagai bencana tersebut.

Hadir dalam diskusi publik tersebut Pingki Hidayati Kasi Pencengahan dan kesiapsiagaan BPBD Provinsi Jatim, Indartarto Bupati Pacitan, Yudhi Sumbogo Wabup Pacitan, Letkol Kav Aristoteles Hengkeng Nusa Lawitang Dandim 0801/ Pacitan, Suko Wiyono Sekda Pacitan.

Kemudian Tri Muhjiharto Kepala BPBD Pacitan, Kapten Inf Arif W J Danramil 0801 / 01 Kota, Wasi Prayitno Kadishub Pacitan, Pamuji Kepala Dinas Pertanian, Ratna Budiono Sekertaris BPBD Pacitan, Pujono Kabid Logistik BPBD Pacitan, Dianita Kasi Pencengahan dan kesiapsiagaan BPBD Pacitan dan  Muhammad Rofiqin Ketua KNPI Pacitan. (SRW/RAPP002/MR01)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *