PENTINGNYA MEMPERTAHANKAN KEBHINEKAAN, DALAM MENJAGA NKRI

oleh

KH. Amiruddin, S.H., MSI.
Pengurus MUI Ponorogo Bidang Ukhuwah Islamiyah

Realitas sosial tentang keragaman Indonesia tidak lepas dari konsep sekaligus semboyan kebangsaan bertajuk “Bhinneka Tunggal Ika”. Secara historis, konsepsi ini pertama kali digagas oleh Empu Tantular yang diadopsi dari teologi Hindu yang asalnya berbunyi Bhina Ika Tunggal Ika, Tan Hana Dharma Mengrawa. Artinya, berbeda-beda dia, tapi satu adanya, tak ada ajaran yang menduakannya.

Hak dan kewajiban merupakan yang tidak dapat dipisahkan, namun sering terjadi pertentangan disebabkan hak dan kewajiban tidak seimbang. Jelas setiap warga negara memiliki hak dan kewajiban untuk mendapatkan penghidupan yang layak. Perasaan prihatin atas terkikisnya penghargaan terhadap kebhinekaan dan kedamaian bangsa, yang muncul dalam bentuk disintegrasi dan segala bentuk kekerasan yang mengatasnamakan apa pun. Disadari bahwa kebangkrutan kebangsaan seperti ini akan menyuburkan perasaan saling curiga dan berprasangka sesama saudara.

Aksi-aksi kekerasan atas nama agama, budaya, ekonomi bahkan politik, di daerah di Indonesia, seolah-olah sudah merubah wajah Indonesia menjadi negara dengan sikap intoleran yang besar. Prinsip-prinsip hak asasi manusia dikebirikan dengan dalih menegakkan aturan atau mengikuti keinginan segelintir orang yang haus akan kekuasaan. Belum lagi, penanaman ideologi sempit terus mengakar sampai pada level masyarakat terbawah.




Fakta kekerasan mengatasnamakan ideologi terjadi di Indonesia telah meruntuhkan nilai-nilai kebhinekaan, yang menjadi ciri khas Indonesia. Sejarah mencatat, lahirnya Semboyan nasional Bhineka Tunggal Ika (beraneka ragam, tetapi satu) merupakan pergumulan founding fathers yang sangat panjang, dan didasari pada pertimbangan pluralitas masyarakat Indonesia.

Semboyan nasional ini menjelaskan realitas yang paling dalam dari Indonesia. Tercatat ada sekitar 17.667 pulau besar dan kecil serta 300 kelompok etnis dan 50 bahasa yang berbeda. Belum lagi termasuk keturunan Cina, Arab, India dan sebagainya yang telah hidup lama, sebagai bagian dari ekspansi perdagangan di masa lampau. Di samping itu, dari sisi keagamaan, hidup agama-agama besar dan agama suku yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia; juga dari sisi ekonomi, sistem sosial dan politik.

Sungguh, kebhinekaan Indonesia tidak mengenal batas mayoritas dan minoritas dalam bidang hidup apapun. Kebhinekaan Indonesia lebih kepada perwujudan masyarakat yang beradab dan sejahtera. Masyarakat yang beradab dan sejahtera tidak akan pernah bisa terwujud dengan sendirinya, jika di tengah kehidupan masyarakat bangsa Indonesia sedang mengalami berbagai dekadensi moral. Kita kini hidup dalam kenyataan semakin menipisnya rasa hormat akan hidup dan martabat manusia. Rasa perikemanusiaan seakan-akan telah secara sengaja dibunuh demi kepuasan prestise golongan.

Kalau kita melihat masa perjuangan pergerakan kemerdekaan, realitas sejarah telah mengilhami para pejuang kemerdekaan dalam mencari formulasi yang tepat untuk dijadikan fondasi kehidupan bangsa dan berdirinya negara. Haji Oemar Said Cokroaminoto, misalnya, dalam upaya tersebut telah berusaha menggali nilai-nilai perjuangan dari dalam ajaran Islam, yang pada gilirannya melahirkan formulasi tentang Islam dan Nasionalisme sebagai dasar dalam perjuangan mengangkat harkat kaum pribumi, tanpa melihat perbedaan agama yang dianut maupun asal usul suku dari seseorang.

Justru Pancasila sebagai alat pemersatu, munculnya kecenderungan kearah uniformitas yang menghilangkan pluralitas yang sesungguhnya merupakan jatidiri dari bangsa Indonesia sendiri. Perbedaan etnis, religi maupun ideologi menjadi bagian tidak terpisahkan dari sejarah bangsa Indonesia dengan Bhineka Tunggal Ika dan toleransi yang menjadi perekat untuk bersatu dalam kemajemukan bangsa.

Hanya dengan sikap toleran dan penghormatan, dinamika kehidupan budaya mampu diagregasi menjadi kekuatan dan diwujudkan dalam bentuk tanggung jawab bersama. Dalam konteks ke-Indonesiaan, tentu keragaman budaya bukan hal baru. Kesadaran kebangsaan sangat penting bagi kita dengan dinamika kesejarahan atas tafsir-tafsir budaya telah mampu menjadi kekuatan “raksasa” menghantarkan Indonesia yang bebas merdeka. Tinggal apakah kemampuan tersebut menjadi amunisi bagi ketahanan Indonesia dalam waktu yang panjang? Persoalan fundamental kebangsaan kita di tengah arus yang semakin keras memaksakan ke-Indonesiaan dalam hegemoni nir-budaya.

The power of culture for development prasyarat menuju serta membawa kekuatan budaya bagi arah dan masa depan pembangunan yang menjunjung tinggi kemartabatan manusia sangat ditentukan dari sejauh mana apresiasi dan toleransi atas keragaman budaya itu sendiri. Maka merawat Indonesia, sesungguhnya ditandai dari sikap dan perilaku positif yang cerdas dari seluruh elemen bangsa terhadap masa depan keragaman budaya Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *