Tim SAR Terus Upayakan Pencarian 5 Korban Tertimbun Longsor Nganjuk

oleh

NGANJUK, Madiunraya.com – Tim SAR gabungan terus berupaya mencari lima korban yang diduga tertimbun tanah longsor di Dusun Dlopo, Desa Kepel, Kecamatan Ngetos, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur.

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho dalam keterangannya di Jakarta, Minggu, menyebutkan satu orang dipastikan tertimbun longsor, yaitu Paidi (55) warga Dusun Njati, Desa Blongko.

Sedangkan empat orang diduga tertimbun longsor, yaitu Kodri (15) warga Dusun Sumber Bendo, Doni (23) warga Dusun Sumber Bendo, Dwi (17) warga Dusun Sumber Bendo, dan Bayu (14) warga Dusun Sumber Bendo.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Nganjuk masih melakukan pendataan di lokasi longsor mengingat keempat warga yang diduga tertimbun longsor tersebut berasal dari desa lain.

Longsor yang terjadi pada pukul 14.00 WIB terjadi dalam kondisi cuaca mendung. Material longsor menuruni lereng dan menimbun warga yang sedang beraktivitas di ladang serta sawah di bagian bawah pinggir sungai.

Material longsor ini sempat menutup aliran sungai dengan ketinggian 10 meter sehingga membentuk bendungan alami.

Pada pukul 17.00 WIB, bendungan itu sudah terbuka sehingga aliran sungai kembali mengalir. Sedangkan, luas longsoran mencapai tiga hektar dengan tanaman cengkeh dan mangga di sekitar perbukitan.




Pada awal 2015, telah terdeteksi adanya retakan selebar 5-10 sentimeter dengan panjang 50 meter di perbukitan Dusun Dlopo. Pada awal 2016, retakan tersebut meluas hingga mencapai lebar 20 sentimeter dan panjang 200 meter.

BPBD Kabupaten Nganjuk sudah memberitahukan informasi tersebut kepada masyarakat agar tidak melakukan aktivitas di lereng yang rawan longsor.

Pada Januari 2017, retakan bertambah lebar menjadi 30 sentimeter dan panjang 300 meter. Selanjutnya, pada Maret 2017 terjadi longsor kecil, yang kemudian dilaporkan masyarakat kepada aparat desa, dan disampaikan kepada BPBD Nganjuk.

Untuk mengantisipasi kemungkinan longsor, BPBD Nganjuk telah memasang rambu peringatan bahaya longsor. Namun, bencana tetap terjadi pada Minggu siang (9/4).

Saat ini, pencarian, penyelamatan dan evakuasi korban terus dilakukan oleh BPBD Nganjuk bersama TNI, Polri, relawan dan masyarakat.

Kondisi medan sulit diakses dan alat berat tidak memungkinkan untuk menjangkau lokasi karena lebar jalan hanya 40 sentimeter. Komunikasi juga terkendala karena tidak ada sinyal selular.

Sebelumnya, juga telah terjadi bencana longsor di Desa Banaran Kecamatan Pulung, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur, pada Sabtu (1/4).

Tim SAR Gabungan berhasil menemukan satu jenazah korban longsor tersebut yang tertimbun pohon mahoni di Sektor A pada Minggu (9/4), pukul 08.46 WIB.

Dengan demikian, empat korban meninggal telah ditemukan dalam kejadian itu dan 24 orang masih hilang sejak bencana longsor terjadi.

Sebanyak 1.250 personil tim SAR Gabungan dan 11 alat berat telah dikerahkan untuk mencari korban longsor.

Namun, pada Minggu pukul 11.55 WIB, sempat terjadi longsor susulan dan tanah bergerak dari sektor A hingga sektor D.

Longsor ini menimbun dua unit rumah warga, satu unit mobil relawan, satu unit mobil polisi, satu unit excavator, dua unit sepeda motor relawan, dan jalan akses menuju ke sektor D.

Tidak ada korban jiwa dalam insiden ini, namun pencarian korban dihentikan sementara dan akan dilanjutkan pada Senin pagi (10/4). (MR01)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *