Korban Longsor Ponorogo: Saya tidak bisa ke mana-mana, tidak tahu harus bagaimana, semua sudah musnah

Salah satu korban longsor Ponorogo. (Foto: BPBD)

PONOROGO, Madiunraya.com – Puluhan korban tanah longsor di Desa Banaran, Kecamatan Pulung, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur mulai mengalami sakit-sakitan, menderita berbagai penyakit hingga depresi akibat situasi bencana yang mereka alami.

“Penyakit mulai muncul seperti gatal-gatal pada kulit, batuk pilek hingga depresi,” kata dokter jaga yang bertugas di Posko Kesehatan Ring-2 dr Yunita Senin kemarin.

Menurut dokter Puskesmas Kauman, Ponorogo yang kebagian tugas jaga menjadi relawan di posko kesehatan Desa Banaran itu, penyakit yang dialami pengungsi merata.




Depresi dipicu oleh stres berlebih akibat trauma yang dialami saat bencana terjadi, serta efek kejut pada kejiwaan para korban atau keluarga korban yang mungkin belum rela kehilangan tempat tinggal apalagi ada anggota keluarganya yang hilang.

“Kemarin (Minggu, 2/4) ada satu yang mengalami depresi berat sehingga dibawa ke Puskesmas Pulung namun tak bisa ditangani karena tak ada tenaga medis yang menangani maupun obat-obat yang diperlukan,” katanya.

Dokter Yunita menyebutkan, pasien depresi tersebut akhirnya dibawa ke RSUD dr Hardjono untuk mendapat perawatan intensif. “Di RSUD ada obat-obatan yang dibutuhkan,” katanya.

Di tempatnya bertugas di Posko Kesehatan ring-2 bertempat di rumah Kepala Desa Banaran Sarnu itu, Yunita mengatakan ada sejumlah pengungsi yang mulai stres akibat trauma psikologis. “Di sana ada 40, dan rata-rata mengalami stres yang menjadi gejala depresi,” ujarnya.

Ismiatun dan Sirmadi, dua pengungsi yang sama-sama kehilangan anggota keluarga, mengaku hanya pasrah dengan musibah yang dialami.“Saya tidak bisa ke mana-mana, juga tidak tahu harus bagaimana karena semua yang kami punya sudah musnah diterjang longsor,” kata Sirmadi. (MR01/ant)