Longsor Ponorogo: Seluruh Korban Dikumpulkan Dirumah Kades Banaran

oleh
Bencana alam longsor di Pulung Ponorogo
Bencana alam longsor di Pulung Ponorogo

PONOROGO, Madiunraya.com – Seluruh korban tanah longsor yang kehilangan anggota keluarganya dikumpulkan di rumah Kepala Desa Banaran, Kabupaten Ponorogo.”Sengaja kami kumpulkan di sini untuk memudahkan pendataan,” kata Kepala Desa Banaran Sarnu dikonfirmasi di lokasi pengungsian, Minggu.

Sebanyak 300 jiwa masih mengungsi di rumah kepala desa. Pengungsi memerlukan bantuan kebutuhan dasar, seperti makanan, air bersih, pakaian, selimut, dan kebutuhan lainnya.

“Dari 35 KK atau 128 jiwa yang terdampak langsung, 100 jiwa berhasil menyelamatkan diri dan 28 jiwa tertimbun longsor. Mereka yang berhasil menyelamatkan diri tidak sempat membawa apa-apa saat longsor menerjang rumahnya,”ujarnya lagi.

Selain 100 orang tersebut, 200 jiwa pengungsi lainnya adalah warga masyarakat di sekitar longsor yang mengungsi karena takut aka nada longsor susulan. “Pengungsi masih trauma karena anggota keluarga yang hilang dan kondisi saat longsor yang menerjang disertai bunyi gemuruh,”ujarnya.

Menurut Sarnu, pengumpulan korban yang kehilangan anggota keluarga di satu titik selain memudahkan pendataan juga koordinasi dan penyaluran bantuan.”Kemarin datanya sempat simpang-siur sehingga diputuskan untuk mengumpulkan warga yang kehilangan anggota keluarga di satu titik,” ujarnya.

Sementara untuk warga korban selamat yang terdampak longsor namun tak kehilangan anggota keluarga diarahkan ke rumah-rumah penduduk yang berada di zona aman.




“Jumlah keseluruhan (korban terdampak longsor) masih didata, namun perkiraan sekitar 200-an jiwa, karena jumlah total warga di dua dusun terdampak longsor sekitar 450-an jiwa, mulai di area terdampak hingga ujung bawah sana,” ungkap Sarnu.

Salah satu korban selamat Ismiatun mengaku sejak awal memilih mengungsi di rumah kades Sarnu karena tak memiliki pilihan lain untuk mengungsi.Ia mengaku panik begitu tiga anggota keluarganya yang terdiri dari ibu (Katemi, 70), anak (Iwan Danang Suwandi, 27) dan bibinya (Ribut, 80) hilang ditelan longsor.”Warga lain sebagian juga ke sini untuk penampungan sementara,” katanya.

Hal serupa juga dialami pasangan Sarni dan Sirmadi yang kehilangan 16 kerabatnya, yang saat kejadian sedang panen jahe.”Sudah tidak punya tempat tinggal, rumah hancur tertimbun longsor. Jadi tidak ada pilihan lain,” kata Sarni.

Berdasar data terbaru BPBD Ponorogo terhitung mulai Minggu pagi, jumlah korban hilang dipastikan 28 orang, terdiri dari 16 orang, perempuan 12, dan dua balita. Dari jumlah itu, dua korban telah berhasil ditemukan tim SAR di zona C atas nama Katemi dan Iwan Danang Suwandi, keduanya merupakan anggota keluarga Ismiatun.

Selain korban hilang dan 32 rumah tertimbun longsor, jumlah warga terdampak diperkirakan mencapai 200 jiwa lebih dan saat ini mengungsi di rumah-rumah penduduk yang berjarak cukup jauh dari jalur rawan bencana longsor susulan maupun lahar dingin.

Saat ini, bantuan terus berdatangan dari berbagai pihak. Rapat koordinasi akan digelar pada hari ini. Kepala BNPB bersama BPBD Provinsi Jawa Timur dan seluruh unsur yang ada akan melakukan rapat koordinasi untuk percepatan penanganan darurat. (MR01/ant)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *