Ponorogo Komitmen Kembangkan Batik Khas Kota Reyog

oleh
Batik Ponorogo. (Foto: Humas Pemkab Ponorogo)
Batik Ponorogo. (Foto: Humas Pemkab Ponorogo)

PONOROGO, Madiunraya.com – Kabupaten Ponorogo terus berkomitmen mengembangkan dan melestarikan batik khas kota reyog. Salah satu cara yang dilakukan adalah Pemkab melalui Dinas Indagkop dan Usaha Mikro, mengadakan lomba batik dengan hadiah yang cukup besar mencapai Rp 30 juta pada Selasa (28/2/2017) lalu di Pendopo Kabupaten.

“Pertama, lomba ini bertujuan untuk mengembalikan lagi kejayaan batik Ponorogo kita yang pernah terkenal dan berjaya. Kedua, lomba ini juga dimaksudkan untuk mencari pakem ciri khas batik Ponorogo kita nanti seperti apa,” terang Addin Andhanawarih, Kepala Dinas Indagkop dan UKM selaku ketua Panitia, dilansir laman Pemkab Ponorogo.

Menurut Addin, juara lomba ini, nantinya motif batiknya direncanakan akan dijadikan motif batik baju seragam para PNS di lingkup kota reyog, siswa sekolah dan masyarakat lainnya.

Senada dengan Addin, Bupati Ipong Muchlissoni menyampaikan sangat mendukung sekali adanya lomba batik Ponorogo ini. Sebagai sebuah wujud komitmen pemerintah yang peduli akan semua khasanah budaya dan potensi yang dimiliki.“Saya harap agar lomba ini benar-benar bisa menemukan ikon batik Ponorogo itu seperti apa dan bagaimana. Sehingga kedepan bisa menjadi salah satu ikon pariwisata di luar seni reyog,” tandasnya.




Menurut Ipong, upaya menghidupkan usaha kerajinan batik Ponorogo ini harus didukung semua pihak. Sehingga UKM batik di Pinorogo bisa bangkit. Dan dengan demikian ekonomi pengrajin itu juga meningkat. “Sehingga para warga yang bisa membatik, kembali bergairah untuk mebekuni usaha dan ketrampilan batiknya lagi,”pungkasnya.

Sebagai informasi, dahulu Ponorogo pernah memiliki kejayaan di bidang batik yang begitu terkenal di negara kita ini. Sayangnya kejayaan itu kini telah redup dan tinggal beberapa bukti dan jejak kisahnya saja.

Seperti adanya koperasi batik dan beberapa rumah produksi batik yang saat ini masih bisa dijumpai jejak dan bukti fisiknya. Kususnya daerah bekas industri batik itu tersentral di wilayah kelurahan kertosari atau juga di lokasi timur pasar legi. (MR01)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *