Ini Hasil Kajian Pakar Terhadap Bencana Tanah Retak Terbis Trenggalek

Tanah gerak di Trenggalek

TRENGGALEK, Madiunraya.com – Bupati Trenggalek Emil Elestianto Dardak mendatangkan ahli Kontuksi Universitas Indonesia Nusa Setiani Triastuti untuk tinjau lokasi relokasi bencana tanah retak Terbis, Sabtu (4/2).

Peninjauan ini dilakukan setelah masyarakat bersama pihak Desa melakukan langkah proaktif untuk menentukan tempat lokasi relokasi yang akan ditempati, yang masih satu Dusun dan tidak jauh dari lokasi bencana.

“Kemarin saya sendiri meninjau lokasi retakan tanah di Dusun Njelok Desa Parakan Trenggalek. Di Njelok itu bisa dibilang kerusakannya tidak separah yang di Terbis ini, sehingga warga masyarakat disitu secara psikologis masih ingin tinggal di tempat tersebut,”kata Emil dilansir laman  Humas Trenggalek.

Di lokasi ini rencananya akan ada 14 sampai 16 rumah yang terdampak parah untuk direlokasi. Dikarenakan niatan ini Bupati Emil Dardak langsung mendatangkan ahli kontruksi dari UI ini untuk meninjau lokasi relokasi, apakah lahan relokasi aman untuk dihuni masyarakat. Sehingga setelah dibangun nantinya tidak akan membahayakan lagi warga yang menempati.

“Sedangkan untuk di terbis ini kerusakannya cukup dasyat, sehingga masyarakat memutuskan sekitar 14 hingga 16 rumah warga yang terkena dampak kerusakan parah ingin pindah. Disini mereka secara pro aktif sudah mengidentifikasi lahan dan saya mengundang Dr. Nusa (ahli kontruksi dari UI) untuk melihat sekilas apakah lahan ini akan mengulangi resiko yang sama atau justru akan lebih aman,”imbuhnya.




“Patut disyukuri lahan relokasi ini tadi setelah ditinjau belum terlihat aliran air, yang orang geologi menyebutnya patahan, dan kemungkinan besar tidak ada. Lain di lokasi terjadinya tanah retak di Dusun Dayu Dulur yang terlihat sekali alur airnya.”

“Dan tidak dipungkiri bencana ini terjadi karena akumulasi masalah yang muncul dari akumulasi kesalahan tata guna lahan, seperti teras iring sawah tadi, dan mungkin bangunan-bangunan yang tidak diimbangi penataan air. Sehingga masalah ini terakumulasi terus menerus, sehingga terjadilah bencana yang kemarin, disaat curah hujan yang cukup besar.”

“Ini ibaratnya memulai dari kertas putih atau kertas kosong. Resiko hilang 100% cuma Tuhan yang tahu. Tapi minimal kita telah mengelola tata bangunan yang baik, malah tadi kami berambisi, ini bisa menjadi contoh tata bangunan dipegunungan, yang percontohan.”

“Tadi saya mengajak dari Bapedalitbang dan Dinas PU dan Penataan Ruang, kita sama-sama merancang kawasan ini, perumahan ini dirancang dengan tata kelola yang mempertimbangkan daya dukung lingkungan yang tepat, mulai dari sisi tata airnya, sistem pondasinya, kita akan coba berikan advis kepada masyarakat. Dan saya bersyukur masyarakat sangat terbuka dengan masukan itu, artinya mereka sudah berfikir sangat maju.”

“Jadi tinggal disini bisa, namun harus ada konsekwensi, senyampang kita merencanakan dengan baik dan tidak menerjang apa yang dilarang, insyaAllah aman,” tandasnya.

Sementara, pakar geologi Nusa mengatakan bbahwa secara geologi pada dasarnya daerah Terbis merupakan daerah pelapukan. Mungkin dulunya sekitas berjuta tahun yang lalu merupakan gunung api.

“Nah kalau tanah pelapukan itu subur bagi tanaman, namun untuk struktur jalan, gedung itu kurang baik, artinya secara rekayasa enginering bisa, tapi relatif jadi lebih mahal strukturnya. Selain itu yang harus diperhatikan adalah air, baik air permukaan maupun air tanah, itu sangat menentukan. Kalau gampangnya tidak ada air atau aliran, dia akan tetap, kalau ada aliran pasti terdorong. Itulah perinsipnya, asalkan hal ini diperhatikan , pasti tidak akan menjadi masalah atau bisa digunakan baik infrastruktur maupun gedung,” jelasnya.