PII, IAGI dan Pemkab Segera Kaji Bencana Longsor di Jalur Nasional Ponorogo-Trenggalek-Pacitan

oleh
Ilustrasi foto: Bupati Emil saat mengecek lokasi tanah longsor di Kecamatan Tugu. (Foto: humas setda Trenggalek)
Bupati Emil saat mengecek lokasi tanah longsor di Kecamatan Tugu. (Foto: humas setda Trenggalek)

SURABAYA, Madiunraya.com– Bencana alam tanah longsor di Trenggalek dan Pacitan membuat Persatuan Insinyur Indonesia (PII), Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) dan Pemkab Trenggalek melakukan kajian penanganan jalan longsor pada ruas jalan nasional yang menghubungkan Ponorogo-Trenggalek-Pacitan. Kajian ini nantinya menjadi rekomendasi  penanganan yang tepat pada ruas jalan nasional itu. 

Ketua Umum PII Hermanto Dardak kepada wartawan di Hotel Swiss Bell In Surabaya, Rabu (1/2/2017) malam lalu mengatakan bahwa kerjasama antara PII, IAGI dan pemerintah merupakan langkah awal dalam penanganan jalan longsor yang sering terjadi di Trenggalek dan Pacitan.

“Harapannya, nantinya akan melahirkan rekomendasi sekaligus menjadi acuan dalam penanganan yang tepat pada kegiatan pemeliharaan, pembangunan pada ruas-ruas yang rentan terjadi longsor,”katanya.

Lebih lanjut, Hermanto mengatakan bahwa penanganan di ruas di Trenggalek-Pacitan nantinya juga menjadi rujukan bagi penyelenggara jalan dalam melakukan penanganan pada ruas dan lokasi lainnya.”Tidak semua penanganan jalan mampu ditangani Kementerian PUPR, kami juga membutuhkan masukan dari lembaga lain karena kompleknya permasalahan di lapangan,”jelasnya.




Sementara, Ketua Umum IAGI Sukmandaru Prihatmoko menambahkan, setiap kondisi tanah membutuhkan penangan yang berbeda dari satu titik ke titik lainnya. Tim ahli geologi nantinya akan melakukan penelitian mendalam terkait tanah longsor yang terjadi di KM 16 dan pergerakan tanah yang terjadi di Desa Depok, Kecamatan Bendungan dan beberapa wilayah di Kecamatan Tugu dan Trenggalek.

Adapun, rekomendasi yang akan dikeluarkan pakar geologi tersebut akan menjadi acuan bagi pemerintah daerah, guna melakukan langkah penanganan jangka menengah maupun jangka panjang, agar kejadian tanah longsor dapat diminimalisir. Sekaligus membuat terobosan agar kerentanan terjadinya longsor secepatnya diminimalisir sejak dini.

Terpisah, Bupati Trenggalek Emil Elestianto  mengatakan, selain melakukan pendekatan teknis, Pemkab juga melakukan pendekatan sosial. Dalam arti memahami masyarakat yang menggantungkan hidupnya di lokasi jalan yang rentan terjadi longsor.

“Pendekatan yang dilakukan dimaksudkan untuk merubah lahan sawahnya, dari lahan sawah basah menjadi lahan sawah kering,”ujarnya.

Namun, Emil mengatakan bahwa langkah itu saja belum cukup, karena ada sebagian lokasi yang kemiringannya sangat luar biasa, yang itu harus sesegera mungkin diganti tutupannya.”Langkah yang kita lakukan yakni bergotong-toyong membersihkan saluran air. Ini merupakan langkah yang tidak menghilangkan, namun dapat mengurangi resiko yang sangat signifikan,”tandasnya.

Selama ini, kata Emil, yang terjadi pada sejumlah ruas yang rentan longsor, yakni akibat dari air yang meresap ke retakan-retakan tanah dan terus mendorong terjadinya erosi yang menyebabkan longsor besar.

“Dengan parit-parit ini, akan ada banyak percabangan yang bisa masuk ke anak sungai. Kendalanya karena saluran ini terkesan apa adanya, gampang tertutup kalau sudah hujan deras, nah ini yang menjadi bahan konsentrasi kita,” katanya.

Permasalahan yang sering ditemui, kata Emil, yakni adanya spot-spot kecil yang air keluar dari Rembesan. Nah ini yang saat ini dilakukan investigasi Geo Listrik. Jadi diketahui teorinya, adanya parit itu untuk menahan air untuk dialirkan ketempat yang kita inginkan.

Namun air ini kadang merembes tanah dan memotong jalur tidak sampai ke tempat-tempat kita mencegah air melalui parit ini. “Hal ini baru ketahuan dengan menggunakan teori geo listrik,” pungkasnya. (MR01)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *