Serasinya Pasangan Emil-Arumi Bachsin Saat Naik Kereta Kencana di HUT ke-823 Trenggalek

oleh
Emil dan Arumi saat diarak dengan kereta kencana. (Foto: Humas Setda Trenggalek)
Emil dan Arumi saat diarak dengan kereta kencana. (Foto: Humas Setda Trenggalek)

TRENGGALEK, Madiunraya.com – Puncak Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Kabupaten Trenggalek ke 823 berlangsung cukup meriah. Lebih-lebih dengan kehadiran Kereta Kencana Kyai Garuda Kencana yang ditunggangi keluarga Bupati Trenggalek dalam kirab pusaka, Kamis (31/8).

Kyai Garuda Kencana, kereta kencana yang berasal dari Kraton Surakarta mengantarkan Emil Elestianto Dardak dan Arumi Bachsin istrinya serta kedua anaknya menyapa warga masyarakat dipuncak peringatan Hari Jadi Trenggalek ke-823.

Dilansir dari laman Humas Setda Trenggalek, kehadiran Kereta Kyai Garuda Kencana dalam kirab pusaka ini, cukup menyita perhatian warga masyarakat Trenggalek, pasalnya selain mempercantik, Kyai Garuda kencana juga menambah kesakralan upacara adat ini.




Apalagi kereta kencana yang juga adalah satu yang dikeramatkan oleh Keraton Solo ini tidak bisa sembarangan dipakai. Orang-orang tertentu dan event tertentu saja yang diperbolehkan sesuai wangsit yang diterima juru kunci.

Kereta Kyai Garuda Kencana, yang mengangkut Bupati Trenggalek ini ditarik 8 ekor kuda dengan satu kusir utama. Sedangkan masing kuda penarik dinaiki satu penunggang kuda. Sebagai penutup teriknya matahari disediakan dua songsong (payung) pelindung. Kyai Garuda Kencana atau Kyai Putro ini merupakan kereta kebanggaan Kraton Surakarta, dan biasa digunakan untuk penobatan Sang Raja.

Dalam kirab pusaka ini dibelakang kereta kencana terdapat iring-iringan pusaka Kadipaten dua tombak Korowelang yang ikut mewarnai sejarah berdirinya Trenggalek, payung, panji, iring-iringan foto mantan Bupati dan Wakil Bupati pendahulu serta kereta Kuda para Kepala Sekolah.

Sebagai informasi, puncak peringatan Hari Jadi Kabupaten Trenggalek berlangsung cukup meriah. Meskipun meriah kesakralan peringatan Hari Jadi ini tidak pernah ditinggalkan sedikitpun dari tahun ketahun.

Prosesi hari jadi ini diawali dengan penjamasan pusaka Kadipaten. Dua Tombak Korowelang dicuci menggunakan air dari 14 sumber keramat di 14 Kecamatan yang ada. Penjamasan ini rutin dilakukan tiap tahun, sekaligus upaya merawat pusaka Kabupaten. Pusaka yang sudah dibersihkan ini kemudian dititipkan semalam di lokasi Prasasti Medang Kamulyan di Desa Kamulan Durenan.

Yang sangat ditunggu warga dalam prosesi hari jadi ini, adalah kirab pusaka dan perebutan sedekah bumi, tumpeng Agung dan air jamasan yang diyakini warga masyarakat bisa membawa keberkahan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *