Festival Gravitasi Bumi di Ngawi Promosikan Potensi Alam

Festival Gravitasi di Ngawi. (Foto: Mediaindonesia.com)

NGAWI, Madiunraya.com – Festival Gravitasi Bumi yang telah digelar di Selondo, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur, pada 27 Agustus 2017, diharapkan mampu mempromosikan potensi alam di daerah itu dan sekitarnya.

Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya dalam keterangan tertulis, Rabu (30/8/2017) menilai kreativitas masyarakat Ngawi untuk mengemas suatu kebudayaan lokal menjadi festival layak untuk diapresiasi.

“Ini menunjukkan gairah pariwisata kita makin kuat sampai ke daerah-daerah,” kata Arief Yahya.

Menurut dia, untuk membangun sebuah destinasi wisata itu sebenarnya tidak harus muluk-muluk yang penting serius dan mengimplementasikannya di lapangan.

Festival Gravitasi Bumi (FGB) Selondo misalnya, merupakan sebuah festival menumpuk batu kali hingga menjulang tinggi atau “loving gravitation” untuk mencari juara yang berhasil menumpuk batu paling tinggi.




Festival dilakukan dengan menata batu di Sungai Selondo dengan batu yang diperoleh di aliran sungai tersebut.

“Festival tahunan ini sukses digelar Warga Selondo, Desa Ngrayudan, Kecamatan Jogorogo, Kabupaten Ngawi,” kata Arief.

Uniknya, selama dua hari para peserta yang jumlahnya ribuan itu diperkenankan menumpuk batu kali setinggi-tingginya.

Setidaknya ada yang tinggi tumpukan batunya hingga 30 cm. Ada pula yang baru menumpuk 3 batu kali yang bentuknya oval tak beraturan langsung terguling.

Seperti tahun lalu, festival kali ini juga dikunjungi puluhan wisatawan mancanegara (wisman).

Event tahunan ini memang telah menjadi langganan wisatawan untuk mengunjungi Ngawi bersamaan digelarnya “Ngawi Visit Years”.

“Jumlahnya meningkat tiga kali lipat dibanding tahun lalu. Bulenya juga semakin banyak. Ada yang dari London, Inggris, dan Spanyol,” kata Zainul Khohar, Ketua Panitia FGB sekaligus Ketua Pokdarwis Ngrayudan.

Menurut Zainul, kedatangan pengunjung yang berasal dari berbagai negara tersebut semakin membuktikan jika seni menumpuk batu kali dalam FGB sukses menarik wisman.

“Festival ini menjadi satu-satunya di dunia. Terbukti dengan perolahan penghargaan Museum Original Rekor Indonesia,” katanya.

Plt Kepala Dinas Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga (Disparpora) Ngawi Yulianto Kusprasetyo mengatakan, event yang digelar di Desa Ngrayudan tersebut merupakan bentuk kesadaran masyarakat terhadap potensi wisata di desanya.

Ia berharap event tersebut mampu menyedot pengunjung untuk datang ke lokasi wisata andalan Ngrayudan.

“Apalagi karena daerah ini cocok untuk dikembangkan sebagai paket wisata alam,” katanya. (MR01)