Puluhan Kapal Iringi Labuh Laut Sembonyo Trenggalek

TRENGGALEK, Madiunraya.com – Lebih dari 50 kapal sarat penumpang mengiringi prosesi larung sesaji dalam rangka sedekah laut “Sembonyo” di lepas pantai Teluk Prigi, Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur, Minggu (13/8/2017).

Kegiatan yang digelar sebagai tradisi tahunan setiap bulan “Selo” dalam sistem penanggalan Jawa itu, merupakan ritual Hindu-Jawa yang kini berakulturasi dengan budaya Islam, agama yang dipeluk mayoritas penduduk setempat.

Menurut penuturan tokoh warga dan nelayan setempat, tradisi larung Sembonyo dilestarikan sebagai warisan kearifan lokal yang dikemas apik sehingga tak hanya bertujuan sedekah bumi kepada Sang Pencipta atas keselamatan dan limpahan berkah, namun juga memiliki dampak pariwisata.

“Ini adalah perlambang rasa syukur nelayan. Kami hanya melestarikan tradisi yang telah ada sejak nenek moyang,” tutur Kepala Desa Tasikmadu, Kecamatan Watulimo, Kabupaten Trenggalek Riyono, dikonfirmasi usai ritual.

Acara yang digelar mulai pukul 10.00 WIB dengan cara mengarak tumpeng agung dan setandu aneka hasil bumi yang telah diolah masak/matang itu berlangsung meriah.

Arak-arakan tumpeng diiringi serombongan pria dan wanita berpakaian tradisional Jawa ala prajurit dan dayang-dayang kerajaan Jawa. Proses pelepasan sesaji semakin meriah karena diiringi oleh aneka perahu hias.




Sebelum melepas tumpeng ke tengah laut, ratusan nelayan dan masyarakat sekitar melakukan doa bersama serta pembacaan sejarah kawasan Prigi.

Warga dan sejumlah pengunjung yang telah beberapa kali mengikuti kegiatan larung Sembonyo mengatakan, penyelenggaraan tahun ini jauh lebih meriah dibanding labuh laut tahun-tahun sebelumnya.

Hal itu terlihat dari membludaknya pengunjung serta banyaknya kapal nelayan yang mengiringi prosesi larung sesaji ke lepas pantai Teluk Prigi.

“Biasanya hanya 10-15 kapal, jumlah dibatasi. Namun, karena pengunjung sangat banyak dan nelayan ingin berpartisipasi memeriahkan gawe tahunan ini sehingga kapal pengiring berlipat sangat banyak,” ujar Kabul Sulistiono, salah satu nelayan penyelam yang juga panitia Larung Sembonyo bagian keamanan.

Hadir dalam seremoni larung sesaji itu Wakil Bupati Trenggalek Mochammad Nur Arifin beserta jajaran kepala OPD (organisasi perangkat daerah), perwakilan forum pimpinan daerah setempat, jajaran kantor Kementrian Perikanan Pelabuhan Prigi serta puluhan tokoh warga dan tokoh agama setempat.

Dalam pidato sambutannya Wabup Arifin atau Ipin memberi apresiasi atas pelaksanaan ritual Larung Sembonyo masyarakat nelayan Prigi.

Ia juga sempat menyinggung masalah rencana pemerintah daerah dalam menata kawasan pesisir Prigi dan sekitar sebagai kawasan kota maritim di Trenggalek, sehingga Ipin mengimbau para nelayan dan warga setempat ikut mendukung rencana besar tersebut.

“Pembangunan rusunawa untuk nelayan dan warga di sekitar Pelabuhan Prigi juga menjadi salah satu bagian agenda tersebut. Jadi tolong agar masyarakat ikut bekerja sama, terutama yang selama ini masih bermukim di atas lahan aset daerah karena kita butuh penataan kawasan supaya lebih baik,” ujarnya.

Gelaran upacara adat Sembonyo tetap dilaksanakan meskipun selama 2,5 tahun terakhir para nelayan di pesisir selatan Trenggalek mengalami musim paceklik ikan akibat cuaca yang tidak menentu.“60 persen masyarakat kami adalah nelayan dan dua tahun lebih ini menjadi masa-masa sulit, karena hasil tangkapan ikan sepi,” kata Riyono.

Dalam hikayatnya, ritual upacara adat larung Sembonyo telah dilakukan masyarakat pesisir Prigi sejak zaman Kerajaan Mataram Hindu.

Suparlan, tokoh adat di Prigi mengatakan, awal mula tradisi Sembonyo dilakukan oleh Tumenggung Yudhonegoro, yang merupakan utusan Raja Mataram Hindu untuk melakukan perluasan wilayah pemukiman mulai dari Pacitan hingga pesisir timur pulau Jawa.

Kala itu Yudhonegoro berusaha membuka kawasan teluk Prigi, namun usaha tersebut selalu gagal akibat kabut tebal yang selalu menyelimuti.

Selanjutnya Tumenggung Yudhonegoro bertapa di Selo Gangsal untuk meminta petunjuk dari Yang Kuasa.

Dari ikhtiyar itulah Tumenggung Yudhonegoro mendapatkan wangsit atau petunjuk agar pembukaan pemukiman berhasil, ia harus menikahi Ratu Gambar Inten yang tinggal di sekitar hutan Prigi,” paparnya.

Pernikahan itu akhirnya dilaksanakan pada hari Senin Kliwon, bulan Selo dengan menggelar pesta selama 40 hari 40 malam.

Pesta pernihakan diakhiri dengan labuh laut yang kini disebut Sembonyo, sehingga ekspansi pembukaan lahan di wilayah pesisir Prigi saat itu berhasil. (Ant/MR01)