Longsor Ponorogo: Puluhan Orang Tertimbun Tanah Saat Memanen Jahe

oleh
bencana alam longsor di Pulung Ponorogo
bencana alam longsor di Pulung Ponorogo

PONOROGO, Madiunraya.com – Sebanyak 22 orang belum ditemukan dalam peristiwa tanah longsor hebat yang menerjang Dukuh Tangkil, Desa Banaran, Kecamatan Pulung Kabupaten Ponorogo pada Sabtu (1/4/2017) sekitar pukul 06.00 WIB.

Menurut keterangan Kepala Kepolisian Resor (Polres) Ponorogo Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP) Suryo Sudarmadi, peristiwa bencana alam maut tersebut disebabkan karena tanah bergerak. Adapun, area warga yang terkena dampak sebanyak 4 Rukun Wwarga dan hingga saat ini sebanyak 22 orang belum ditemukan.

“Saat ini tim kami terus melakukan koordinasi dengan BPBD untuk mengirimkan alat berat   guna mengevakuasi korban, selanjutnya kami koordinasi dengan warga dan permohonan bantuan untuk percepatan evakuasi,”katanya.

Dia juga menghimbau warga setempat untuk waspada  dan mengamankan diri guna mengantisipasi longsor susulan. “Kami juga sudah meminta Sat Brimob, untuk back up personel lapangan, kemudan menepatkan personel Sabhara dua pleton di lokasi serta memasang tenda peleton di  lokasi,”ujarnya.

Sementara, Kepala Humas dan Pusdatin Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho mengatakan bahwa korban yang tertimbun longsor yang berasal dari warga yang di dalam rumah dan bekerja memanen jahe saat longsor berlangsung.




“BPBD Ponorogo bersama TNI, Polri, relawan dan masyarakat masih melakukan evakuasi. Terdapat korban yang berhasil lari saat kejadian. Menurut laporan Kepala Desa Banaran saat kejadian berlangsung cepat, korban di kebun sempat lari namun terkepung material longsoran kemudian tertimbun longsor,”jelasnya.

Dia mengungkapkan bahwa rumah yang terdampak sekitar 25-30 unit rumah. Alat berat diperlukan untuk evakuasi korban yang tertimbun longsor. “Akses menuju lokasi cukup sulit dilalui karena jalan kecil. Masyarakat berduyun-duyun menonton longsor sehingga jalan macet dan kendaraan terhambat. Komunikasi dengan HP dan radio komunikasi juga tidak lancar,”ujarnya lagi.

Sutopo mengatakan bahwa sebelumnya sudah ada tanda-tanda longsor. BPBD telah memperingatkan warga akan bahaya longsor. Saat malam hari warga mengungsi sementara. Namun saat warga kembali ke rumah pada pagi hari untuk bekerja, longsor menerjang saat tidak ada hujan. Posko juga sudah didirikan di Desa Banaran.

“Inilah salah satu ketidakpastian dari longsor yang sulit diprediksikan kapan secara pasti terjadi longsor, saat ini posko BNPB terus melakukan berkoordinasi dengan BPBD. Tim Reaksi Cepat BNPB dalam perjalanan menuju lokasi. BPBD Provinsi Jawa Timur juga melakukan perkuatan dan mengirimkan bantuan kepada  BPBD Ponorogo,”pungkasnya.

Pendataan sementara, sebanyak 17 warga di Dusun Tangkil, Desa Banaran Kecamatan Pulung hilang, dari 17 korban jiwa yang hilang tersebut, mayoritas didominasi dari warga RT/RW 2/I Dukuh Tangkil dengan jumlah tujuh warga meninggal dunia. (MR01)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *