Pemprov akan Sertifikasi Relawan Penanggulangan Bencana

oleh
Wagub Jatim Saifullah Yusuf saat menyampaikan diskusi publik membedah tata kelola bencana Jatim. (Foto: Jatimprov)

SURABAYA, Madiunraya.com – Pemerintah Provinsi Jawa Timur akan meningkatkan penguatan tata kelola penanggulangan bencana dengan menggandeng seluruh komponen termasuk dunia usaha. Diantara upaya yang dilakukan yakni melakukan sertifikasi relawan penanggulangan bencana.

Hal tersebut disampaikan Wakil Gubernur Jawa Timur, Saifullah Yusuf dalam Diskusi Publik ‘Membedah Tata Kelola Bencana di Jawa Timur’ di Surabaya, baru-baru ini.

Ia mengatakan, dalam penanganan bencana pihaknya berencana menyatukan semua komponen dan kelompok relawan yang peduli pada bencana, karena selama ini terkesan berjalan sendiri-sendiri saat membantu penanggulangan bencana. “Nanti kita satukan bersama, kita ingin berintegrasi dan semua relawan juga harus bersertifikat,” ujarnya.

Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jawa Timur menyebutkan, sebanyak 29 kabupaten/kota di Jatim merupakan daerah yang berisiko tinggi bencana. Risiko tinggi bencana yang dihadapi ke 29 daerah itu tidak sama.

Ada yang rawan bencana tanah longsor, banjir, puting beliung, gempa dan gunung berapi. Bencana terbanyak adalah banjir. Ada juga bencana kekeringan dan kebakaran hutan. Ke-29 daerah itu adalah Lumajang, Malang, Jember, Banyuwangi, Pacitan, Pasuruan, Blitar, Sumenep, Tulungagung.

Kemudian juga Trenggalek, Probolinggo, Pamekasan, Kediri, Tuban, Gresik, Lamongan, Situbondo, Surabaya, Bondowoso, Bangkalan, Mojokerto, Ponorogo, Madiun, Jombang, Sampang, Nganjuk, Magetan, Bojonegoro dan Sidoarjo. “Ke-29 kab/kota ini yang dominan terjadi bencana,” kata Wagub Jatim Saifullah Yusuf.




Sementara itu ada 13 daerah yang sering terjadi banjir jika musim hujan tiba. Yakni, Ngawi, Madiun, Lamongan, Tuban, Gresik, Mojokerto, Pasuruan, Bondowoso, Sampang, Ponorogo, Pamekasan, Bojonegoro dan Surabaya. Sementara bencana dan gunung meletus, terjadi di enam daerah. Masing-masing, Blitar, Lumajang, Kediri, Malang, Probolinggo dan Pasuruan.

Sedangkan, bencana puting beliung hanya terjadi di empat daerah, Ponorogo, Situbondo, Sidoarjo dan Bangkalan. “Yang tak bisa terdeteksi itu bencana gempa. Sampai sekarang kita tidak punya alat yang mampu mencegah terjadi gempa. Kalau puting beliung dan gunung meletus sudah bisa diketahui dengan alat deteksi yang sudah kita miliki,” jelasnya.

Secara keseluruhan, selama tahun 2016 di Jatim terjadi 386 bencana, dari 2.384 bencana yang terjadi di Indonesia. “Sebanyak 98 persen adalah bencana hidrometeorologi (banjir, longsor, puting beliung) mendominasi total kejadian bencana di Jatim,” pungkasnya. (MR01)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *