Temuan Antraks, Ponorogo Selektif Terima Sapi Luar Daerah

PONOROGO, Madiunraya.com– Isu temuan sapi yang diduga terjangkit Antraks di Tulungagung, Kulonprogo, Boyolali dan Pacitan Jawa Timur, Kabupaten Ponorogo mulai selektif dalam menerima sapi dari luar daerah.

Menurut keterangan Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Ponorogo, Harmanto, sebagaimana dilansir laman Beritalima pada Kamis (26/1/2017) mengatakan bahwa temuan dan indikasi antraks di ketiga lokasi menjadi perhatian tersendiri.

Menurutnya, Ponorogo terhitung cukup dekat dengan ketiga daerah tersebut. Dari Boyolali dan Pacitan , hewan ternak seperti sapi dan kambing berpotensi masuk dari Wonogiri melalu transaksi di pasar hewan Purwantoro, Wonogiri.

Sedangkan dari Tulungagung bisa masuk dari Sawoo setelah melintasi Trenggalek.“Kita harus waspada dengan antraks terutama dari daerah sekitar. Kita tingkatkan satgas kita dalam antisipasi. Terutama agar pengiriman bahan makanan alias daging dari hewan ternak maupun hewan yang masih hidup betul-betul dicermati dan diwaspadai,” kata Harmanto.

Dikatakan Harmanto, pihaknya akan tegas menolak masuknya hewan ternak dari Jateng seperti amanat Pergub Nomor 1 tahun 2010. “Checkpoint perbatasan Biting (Ponorogo-Wonogiri) kita aktifkan lagi. Lalu mantri hewan di Sawoo ditugasi mengawasi masuknya (hewan) ke Ponorogo. Tapi yang namanya pedagang, ya kadang tetap cari jalan tikus untuk memasukkan sapi ke Ponorogo,” tambahnya.




Selain itu, kata Harmanto, mantri hewan juga diminta untuk lebih giat melakukan sosialisasi tentang antraks, penularan dan gejalanya. Tidak hanya kepada para peternak, tapi juga kepada kalangan pelajar. Hal ini agar kesadaran tentang kesehatan hewan dan pengenalan gejala antraks semakin memasyarakat.

Kasi Kesehatan Hewan Bidang Peternakan, Perikanan dan Kelautan Dinas Pertanian Ponorogo, Siti Barokah menambahkan, antisipasi sudah dilakukan sejak beberapa waktu lalu.

Tidak hanya karena kejadian Kulonprogo, atau Pacitan beberapa bulan lalu. “Kita perketat lalu lintas hewan ternak. Terutama yang mau masuk Jawa Timur. Kita benar-benar melarangnya. Jawa Tengah endemis antraks,” terang Barokah.

Langkah antisipasi lain adalah melakukan desinfektasi atau pemberian desinfektan untuk pembersihan mobil-mobil pengangkut ternak yang mengangkut hewan ternak dari Pasar Hewan Purwantoro, Wonogiri.

Ini karena antraks dalam bentuk spora masih sangat mungkin menempel di kendaraan pengangkut ternak sehingga harus dibersihkan dengan cairan pembersih tersebut.“Tapi karena anggarannya terbatas maka yang kita akan manfaatkan lebih dulu adalah desinfektan yang sebenarnya untuk pencegahan flu burung. Itu bisa kita subsidi silang dulu lah. Sekarang masih ada sisa sekitar 50 liter dan sedang kita anggarkan di tahun ini,” tambahnya.

Saat ini, jumlah sapi di Ponorogo sekitar 87 ribu ekor. Jumlah ini cukup untuk memenuhi kebutuhan konsumsi daging warga Ponorogo dan sekitarnya sehingga memang tidak diperlukan hewan ternak dari luar Ponorogo. (Beritalima/MR01)