ANTISIPASI KEBANGKITAN PKI, UNMUH GELAR DIALOG KEBANGSAAN

oleh
Ponorogo-WWW.MADIUNRAYA.COM
Universitas Muhammadiyah (UNMUH) Ponorogo menyelenggarakan Dialog Kebangsaan bersama Mayjen (Purn) Kivlan Zein, S.Ip, M.Si dengan tema, “Mewaspadai Kebangkitan Komunisme Gaya Baru di Indonesia”, bertempat di Aula Lantai 4 Gedung Rektorat Unmuh, Ahad (13/11).
Hadir dalam acara tersebut Pimpinan Pusat Dakwah Muhammadiyah, Ormas Islam, Pimpinan Unmuh dan jajaran dan puluhan umat Islam Ponorogo.
Menurut Mayjend (Purn) Kivlan Zein, ideologi komunisme dengan sistem politik sentralistik serta paham ekonomi yang dikelola negara akan terus berlawanan dengan ideology individualis dengan system politik liberalis dan ekonomi kapitalis. “Terus berlawanan dan saling membunuh satu sama lain, dimana Indonesia merupakan salah satu medan pertentangan tersebut”, ujar Kivlan Zein.
Dalam hal ini, komunis yang pernah tumbuh subur di Indonesia melalui PKI merupakan bahaya laten yang bisa saja berkembang dan berkuasa kembali, dimana bibit-bibit kebangkitan melalui symposium di Jakarta yang menuntut pemerintah meminta maaf kepada korban pembunuhan anggota PKI oleh tentara, urai Kivlan.
“Keturunan dan partisipan aktif PKI terus berusaha menuntut balas dengan berbagai cara termasuk menjadi anggota partai, KPU, bahkan menjadi pejabat-pejabat daerah serta berada di lingkaran kekuasaan pemerintah pusat”, lanjut Kivlan Zein.
Kalau kita terlena dan lengah serta tidak waspada, komunisme akan menguasai politik nasional di Indonesia pada pemilu 2019, saat ini mereka menyusun kekuatan dengan memanfaatkan kelemahan pemerintahan Presiden Joko Widodo, sambung Kivlan Zein.
“Untuk itu saya meminta kepada seluruh umat Islam untuk bersatu dan bekerja sama dalam mewaspadai kebangkitan komunisme, karena paham komunisme di Indonesia berlawanan dengan ideology Pancasila”, ajak Kivlan Zein.
Untuk itu kita membuat Gerakan Bela Negara (GBN) untuk menyelamatkan Indonesia dari Komunisme, Terorisme, Narkoba dan bahaya-bahaya lain yang mengancam eksistensi NKRI, pungkas Kivlan Zein.
Sementara Rektor Universitas Muhammadiyah Ponorogo, Drs H. Sulthon, M.Si mengajak kepada warga Muhammadiyah dan umat Islam yang hadir untuk bersatu dan meninggalkan perbedaan-perbedaan yang ada. “Mari kita gali dan maksimalkan potensi kita masing-masing untuk saling mengisi dan melengkapi menuju kesempurnaan dan persatuan umat Islam sehingga kita tidak bisa di adu domba dan menjadi tuan rumah di negeri sendiri”, ujar Sulthon.
Lupakan permasalahan dan perbedaan-perbedaan kecil demi kepentingan umat Islam dan bangsa Indonesia yang lebih besar, pungkas Sulthon.  (YAH)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *