INTEGRASI GERAKAN ORGANISASI KEPEMUDAAN, PEMERINTAH DAN MASYARAKAT, SOLUSI MENUMBUHKAN DAN MENJAGA NASIONALISME DI PACITAN

OLEH : H. SUBIYANTO MUNIR, S.Pd.SD, MMPd


Pendahuluan

Rasa nasionalisme di Pacitan dari sudut pandang sejarah memiliki rujukan dan keteladanan yang ditunjukkan oleh putra-putra Pacitan yang telah menjadi tokoh nasional. Tentu saja tokoh nasional tersebut memiliki tingkat nasionalisme yang tidak perlu diragukan lagi. Putra Pacitan tersebut berangkat dari pemuda yang lahir, tumbuh dan berkembang serta belajar di Pacitan, lalu berkarya di belahan Nusantara di berbagai bidang profesi dan keahliannya.

  1. Masa pemberontakan komunis

Ratusan pemuda yang menjadi santri dan puluhan Kyai di Pondok Pesantren Tremas menunjukkan nasionalismenya dengan melawan paham komunisme, meskipun mereka banyak yang gugur sebagai syuhada’ termasuk KH Khamid Dimyati.

  1. Awal Kemerdekaan

Pemuda dan masyarakat Pacitan menunjukkan tingginya nasionalismenya dengan mendukung perjuangan yang dikomandoi Panglima Besar Jendral Sudirman yang bergerilya selama 3 bulan di Pacitan. Saat itu, Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Muhammad Hatta sudah ditangkap Belanda dan diasingkan. Pemerintahan Republik Indonesia saat itu berpusat di Sumatra yang di pimpin Dr Syafrudin Prawiranegara dan angkatan bersenjatanya dikendalikan dari Pacitan. Panglima Besar Jendral Sudirman menyusuri jalanan dengan rute dari Panggul Trenggalek-Sudimoro-Ngadirojo-Tulakan-Desa Kasihan-Tegalombo-Kemuning-Petungsinarang-Ngunut-Mujing-Desa Pakisbaru Nawangan. Dimana tempat tersebut sangat sukar dijangkau dan dideteksi pasukan Belanda, sampai akhirnya Republik Indonesia dapat berdiri sampai sekarang.

  1. Masa G-30S/PKI

Kembali PKI menangkap ratusan santri dan Kyai serta di rantai dan dipenjara, namun karena perlawanan pemuda dan bantuan dari tentara Siliwangi PKI dapat ditumpas.

Salah satu Imam Besar di Masjidil Haram berasal dari Tremas yaitu KH At Tharmazi

  1. Masa Orde Baru

Banyak tokoh nasional yang berasal dari Pacitan seperti Jendral Soeweno, Menteri Inten Soeweno, Prof Haryono Suyono yang dikenal sebagai Bapak KB Nasional yang masih eksis berjuang sampai saat ini dengan mengelola yayasan Damandiri dengan programnya yang terkenal Posdaya (Pos Pemberdayaan Masyarakat). Banyak Gubernur, Bupati dan Walikota di Indonesia yang berasal dari Pacitan.

  1. Masa Reformasi

Ditandai terpilihnya Dr H Susilo Bambang Yudhoyono sebagai Presiden Republik Indonesia ke 6 yang pertama kali dipilih langsung oleh rakyat. Karena prestasi dan kerjanya baik, beliau meraih suara mayoritas saat Pilpres 2009. Saya memiliki keyakinan, seandainya tidak ada batasan kepemimpinan Presiden yang dua periode, beliau akan terpilih lagi saat Pilpres yang lalu.

 

Realita :

Dibalik kehebatan tokoh pemuda dari Pacitan, namun Pacitan tidak ubahnya seperti daerah lain yang tingkat kemerosotan moralnya sangat nyata. Kemerosotan moral identik dengan lunturnya nilai nasionalisme di dada para pemuda.

Masalah Inti :

Narkoba, Pencabulan, Moralitas, Pemanfaatan Tekhnologi Informasi yang tidak tepat

  • Penyuluhan Narkoba tidak tepat sasaran karena yang diberikan penyuluhan adalah pengurus OSIS yang mana 90% dari mereka merupakan pemuda baik.
  • Pencabulan terjadi karena gagalnya pendidikan, dimana nilai pembelajaran mata pelajaran agama sangat kurang, hanya 2 jam selama seminggu dan esensinya bukan moralitas yang diajarkan namun tuntutan ketuntasan kurikulum.
  • Moralitas yang luntur dikarenakan kurangnya keteladanan dari Orang Tua, Guru, Pemimpin.
  • Tekhnologi Informasi yang tidak tepat guna dikarenakan pemegangnya memiliki moralitas yang buruk sehingga IT dimanfaatkan untuk maksiat, dan hal-hal yang tidak berguna.

Penyelesaian :

Harus sinergisnya organisasi kepemudaan, pemerintah dan masyarakat dalam menumbuhkan semangat nasionalisme.

Organisasi kepemudaan yang meliputi :

  1. KNPI (Komite Nasional Pemuda Indonesia), gabungan organisasi dibawah kementerian Pemuda dan Olah Raga.
  2. Karang Taruna, merupakan organisasi kepemudaan sampai di tingkat desa dibawah kementerian Sosial.
  3. Gerakan Pramuka, merupakan gerakan kepemudaan yang mengakar sampai ke tingkat Sekolah Dasar dan diatur dengan Undang-undang dan Peraturan Pemerintah.
  4. Organisasi kepemudaan berbasis agama seperti Anshor, Pemuda Muhammadiyah, HMI, PMII, KAMI

Semua masih bergerak parsial atau sendiri-sendiri dan tidak integral atau menyatu, sehingga hasil yang dicapai belum maksimal.

Untuk itu Pemerintah harus bergandengan tangan dengan organisasi kepemudaan, dan seluruh masyarakat untuk bergerak bersama dan menyatukan langkah secara intergratif menuju tumbuhnya nasionalisme para pemuda melalui kegiatan-kegiatan yang positif.

 

 

Dirgahayu Indonesia ke 71, NKRI Harga Mati.